Pinjol, Pedang Bermata Dua: Dari Solusi Instan ke Jerat Utang Tanpa Akhir

Senin 29-12-2025,05:30 WIB
Reporter : Tim Redaksi Disway
Editor : Subroto Dwi Nugroho

Tterutama dalam sistem pengelolaan finansial. 

Dalam hal ini, dengan segala kemudahan finansial yang ditawarkan di era digital ini, proses peminjaman uang kini bukan lagi hal yang sulit untuk dilakukan. 

Di Indonesia sendiri, layanan peminjaman uang berbasis teknologi atau yang lebih dikenal sebagai pinjaman online (pinjol) sendiri kini juga merupakan hal yang lumrah di kalangan masyarakat.

Terutama dari kalangan pengusaha atau pekerja.

Dilansir dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online pada Mei 2023 telah sukses mencatatkan kinerja outstanding sebesar Rp 51,46 triliun.

Sama dengan tumbuh sebesar 28,11 persen (y-o-y) dari periode April 2023.

Dari jumlah ini, diketahui sebesar 38,39 persen merupakan pembiayaan kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dengan penyaluran kepada UMKM perseorangan dan badan usaha masing-masing sebesar Rp15,63 triliun dan Rp4,13 triliun.

BACA JUGA:Pemutihan Iuran BPJS Kesehatan, Angin Segar atau Angin Pahit?

BACA JUGA:Janji Etanol 2028 dan Korosi

Sementara itu menurut data statistik OJK, kondisi lanskap fintech yang tercatat pada Februari 2024 juga menunjukkan bahwa terdapat setidaknya kurang lebih 1,4 juta pengguna transaksi lender.

Lebih kurang sekitar 123 juta borrower yang mengakses kredit, dan lebih dari Rp 806.49 triliun jumlah pinjaman yang telah terdistribusi ke pengguna.

Dengan proses peminjaman yang terbilang cepat dan instan, tidak heran mengapa sebagian pekerja atau pengusaha memilih layanan pindar untuk menjadi pilihan utama untuk mendapatkan dana cepat untuk setiap kendala finansial yang dihadapi, terutama ketika laju perekonomian masih terus naik turun dan tidak stabil.

Ekonom : Pinjol Tidak Bisa Dijadikan Penggerak Ekonomi

Kendati begitu, tidak sedikit pihak Ekonom maupun Pakar Ekonomi yang menekankan bahwa pinjol sendiri tidak bisa secara terus menerus dijadikan sebagai mesin penggerak ekonomi rakyat.

Bukan tanpa alasan.

Menurut Ekonom sekaligus Pakar Kebijakan Publik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, walaupun popularitas pinjol menandakan kemajuan teknologi keuangan.

Kategori :