Pinjol, Pedang Bermata Dua: Dari Solusi Instan ke Jerat Utang Tanpa Akhir

Senin 29-12-2025,05:30 WIB
Reporter : Tim Redaksi Disway
Editor : Subroto Dwi Nugroho

Retail Therapy sebagai Pelarian
Ironisnya, stres justru mendorong mereka kembali berbelanja dengan paylater, pelarian sesaat yang memperparah jeratan.

Di Ambang Keputusasaan
Pikiran gelap sempat muncul. Namun rasa malu pada keluarga menjadi satu-satunya rem.

PENGAKUAN MANTAN DC

Dua mantan debt collector Kredivo membeberkan realitas kerja penagihan pinjol: target bulanan 25 persen, tekanan psikologis, hingga risiko kekerasan di lapangan.

“Kami hanya menagih sesuai perjanjian,” ujar Yohanes Paulus Soge.

BACA JUGA:Potret Sunyi Mal di Tengah Ekonomi Seret, Daya Beli Jadi Cerita Sulit

BACA JUGA:Ketika Mal Sepi Dihuni Rojali dan Rohana, Mati Suri di Tengah Gemerlap Kota

Namun ia mengakui empati kerap diuji saat menghadapi debitur yang benar-benar tak mampu.

Paulus Bunga Lolon menambahkan, tekanan mencapai target kadang mendorong praktik di area abu-abu.

“Datang ke tempat kerja, bikin malu. Itu sering terjadi,” katanya.

Risiko terberat, menurutnya, adalah kekerasan fisik.

“Saya pernah dicekik keluarga debitur,” ungkapnya.

Pinjol di Kalangan Pengusaha UMKM : Penggerak Ekonomi yang Tidak Disarankan

BACA JUGA:Suntikan Dana Rp 10 Triliun Pemutihan BPJS Kesehatan, Bisa Gerakan Roda Ekonomi?

BACA JUGA:Pemutihan BPJS Kesehatan, Solusi atau Sekedar Penundaan Penyakit?

Memasuki era yang serba digital ini, sejumlah kemudahan yang ditawarkan pun juga turut membawa perubahan besar dalam sektor ekonomi di Indonesia.

Kategori :