“Awalnya iseng. Tahun 2018 pinjam Rp500 ribu,” ujar Dina.
Rasa lega itu tak bertahan lama.
BACA JUGA:Tarik Ulur Kenaikan UMP 2026: Pengusaha Khawatir, Pekerja Makin Menjerit
BACA JUGA:Teka-Teki UMP 2026, Pekerja Berharap Naik: Kebutuhan Makin Mahal!
Beberapa minggu kemudian, tagihan datang dengan nominal yang jauh lebih besar dari perkiraannya.
Bunga dan denda membuat utang membengkak.
Ia pun sadar, pinjol bukan solusi, melainkan beban baru dalam hidupnya.
“Memberatkan kondisi keuangan. Saya menyesal,” katanya.
Lingkaran Setan Utang Digital
BACA JUGA:Candu Game Online Jadi Pelarian di antara Warnet dan Rumah, Saatnya Orangtua Mengambil Kendali
BACA JUGA:Ketika Gamers Memohon, Free Fire dan Roblox Jangan Dijadikan Kambing Hitam Pemicu Kekerasan
Untuk menutup pinjaman pertama, Dina kembali mengambil pinjaman lain.
Lalu pinjaman berikutnya.
Ia terjebak dalam siklus “gali lubang tutup lubang” yang kian menyempit.
Tidur tak lagi nyenyak, pekerjaan mulai terganggu, dan tekanan psikologis terus menumpuk.
“Capek. Sampai sekarang belum juga selesai,” ungkapnya.