JAKARTA, DISWAY.ID - Di tengah hiruk pikuk ekonomi perkotaan, perhatian publik kerap tertuju pada harga rumah, kendaraan, atau gawai terbaru.
Namun jauh dari etalase mal dan pusat perbelanjaan, ada denyut ekonomi lain yang ikut merasakan dampaknya yakni desa dan sektor pertanian.
Sejak Pajak Pertambahan Nilai (PPN) naik menjadi 12 persen awal tahun lalu, efeknya tak hanya berhenti pada barang dan jasa bernilai tinggi.
Skema kemudahan kredit, cicilan ringan, hingga layanan bayar nanti atau paylater membuat barang mahal terasa semakin dekat.
Namun di balik kemudahan itu, biaya perlahan bertambah dari sektor logistik, distribusi, hingga harga akhir yang harus dibayar konsumen.
dampak dari kenaikan PPN 12 persen tersebut juga turut menyelimuti sektor penjualan bahan pokok di pasaran.--Bianca Khairunnisa
BACA JUGA:PPN 12% Bukan Sekadar Angka: Rakyat Menjerit, Industri Tercekik
Tekanan ini tak hanya dirasakan di kota.
Ketika daya beli melemah dan biaya hidup terus naik, kelompok yang paling rentan justru berada di desa.
Para petani mulai ikut menanggung beban dari kebijakan fiskal yang ditarik dari konsumsi.
Sejumlah ekonom mengingatkan, di tengah ketidakpastian ekonomi global, sektor pertanian seharusnya menjadi bantalan, bukan tumbal.
Jika daya beli di desa tergerus, maka dampaknya akan merambat ke seluruh sendi perekonomian nasional.
Kenaikan PPN 12 persen secara garis besar hanya berlaku untuk barang dan jasa mewah. Misal rumah di atas Rp2 miliar, produk digital seperti Netflix, kendaraan bermotor.
Ilustrasi Netflix. Foto : antara/genpi.co--
BACA JUGA:PPN 12% Bikin Susah! Boro-Boro Beli HP atau Mobil, Rp100 Ribu Sehari Gak Cukup