ArtSubs Rambat
--
Inilah pameran seni terbesar di Indonesia: kalau tidak salah. Hebatnya pameran itu diselenggarakan di kota yang selama ini dikenal sebagai tanah tandusnya seni di Indonesia: Surabaya.
Nama pamerannya: ArtSubs. Seluruh kompleks Alon-Alon Surabaya diubah jadi galeri. Gedung-gedungnya, halamannya, dan teras-terasnya. Termasuk ruang bawah tanahnya. Semua diberi AC, termasuk yang di halaman. Memang halaman Alon-Alon pun dipasangi tenda tertutup kokoh; yang tidak bisa dibedakan dengan ruangan lainnya.
Inilah pameran yang untuk mempersiapkan fisiknya saja perlu 250 orang yang bekerja siang malam selama satu bulan penuh. Sudah begitu sering ada acara publik di Alon-Alon Surabaya. Tapi baru di ArtSubs ini lokasi peninggalan Belanda itu dipermak jadi pameran seni terbesar sepanjang pengetahuan saya.
Alon-Alon Surabaya berada di pusatnya pusat kota. Di Jalan Pemuda –terusan Jalan Tunjungan. Satu deret dengan Gedung Grahadi, bangunan yang dulu untuk pejabat tertinggi Belanda di Jawa Timur. Kini Grahadi jadi ''istana'' gubernur Jatim.
Alon-Alon Surabaya dulunya disebut Balai Pemuda. Dulunya lagi, di zaman Belanda, kompleks ini disebut De Simpangsche Societeit. Dibangun tahun 1907. Orang asli Surabaya menyebutnya Rumah Bola: ada permainan biliar di dalamnya. Di zaman itu hampir semua kota punya Rumah Bola –tempat orang Belanda dan Eropa mencari hiburan: dansa, bermusik, teater, dan main biliar. Disebut Simpang Club karena untuk masuk ke De Simpangsche Societeit harus menjadi anggotanya: pribumi dan anjing dilarang masuk.
Di Jakarta Rumah Bola itu disebut Gedung Harmoni –yang kini, dari luar, tampak hilang keanggunannya dan seperti tidak terawat.
Di Surabaya, Pemkot Surabaya memugarnya dengan sangat sukses: dua gedungnya dikembalikan ke bentuk dan arsitektur aslinya. Halaman luas di antara dua gedung itu dijadikan plaza terbuka yang tertata. Lalu ditambah ruang bawah tanah –termasuk untuk parkir. Wali Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini berjuang untuk mendapatkan tanah pojok milik Pemda di seberang jalannya –tapi sudah telanjur jatuh ke swasta. Risma kalah di pengadilan.
Risma punya keinginan bangunan bawah tanah itu diperluas sampai ke bawah jalan raya, bahkan sampai ke tanah yang gagal direbut itu. Alangkah hebatnya kalau gubernur Jakarta juga membuat parkir bawah tanah yang besar di bawah Monasnya.
Sayang sekali Bu Risma membangun gedung DPRD Surabaya di kompleks ini. Kelak gedung itu harus digusur ke lokasi lain: politik dan seni itu bertentangan. Yang seni membangun kehalusan rasa, budi, dan budaya, yang politik menghasilkan sebaliknya. Apalagi untuk membangun gedung DPRD itu, dulu, harus menggusur markas Dewan Kesenian Surabaya (DKS) –entah ke mana DKS menggelandang sekarang.
Gedung-gedung De Simpangsche Societeit itu, dan sekalian halamannya, disulap jadi ruang untuk ArtSubs: pameran dibuka Sabtu lalu untuk durasi sampai tanggal 8 November. Untuk menyulap itu diperlukan kayu-kayu sebagai tapak lantai. Besi-besi penguat dinding dan triplek yang begitu banyaknya –kalau dijajar bisa sepanjang dua kilometer.
Memang, biar pun dinding gedung-gedung itu masih sangat baik, ArtSubs membuat dinding baru untuk melapisinya: agar sesuai dengan kebutuhan pameran lukisan.
Saya diajak cucunya Pak Iskan nonton ArtSubs Senin sore lalu: saya kaget. Tumben, pameran seni di Surabaya didatangi begitu banyak pengunjung.
Kami ditemani salah satu advisory board ArtSubs, Aris Utama yang rupanya teman gila sepedanya cucu Pak Iskan.
Anda sudah kenal Aris Utama: suami artis Olga Lydia itu.
Yang saya juga merasa beruntung: pemrakarsa ArtSubs sedang ada di pameran. Para kolektor lukisan tahu siapa orang itu: Rambat. Ya, namanya satu kata: Rambat. Ups... ada juga istrinya.
Rambat orang Bali. Tinggal di Kerobokan. Aslinya dari Lampung. Lahir dan sekolah sampai SMP di Lampung. Lebih aslinya lagi: Klaten. Orang tuanya kelahiran Klaten. Istrinya orang Gerobokan, Jateng.
"Setelah tamat SMP melanjutkan ke mana?" tanya saya.
"Tidak sekolah lagi," jawabnya. "Bekerja apa saja, termasuk jadi tukang bangunan," tambahnya.

Rambat (kanan) menjelaskan salah satu karya seni instalasi di ArtSubs 2026.--
Rambat anak transmigran. Sampai sekarang sang ayah masih jadi petani di Lampung Timur. Rambat berubah nasib setelah merantau ke Bali: juga jadi tukang batu. Lalu punya kenalan orang Bali.
Suatu saat, ketika tidak ada proyek, ia diminta bantu jualan di pasar desa. Yakni pasar yang jualan kerajinan dan benda-benda seni. Ia diminta menjaga kios jualan kacamata kelas harga Rp 10.000-an. Di pasar itulah Rambat mulai kenal benda seni. Juga bertemu banyak turis, termasuk turis asing.
"Saya banyak belajar benda seni. Termasuk lukisan," katanya.
Lama-lama ia tahu cara jualan lukisan. Jadilah pedagang lukisan. Rambat pun tahu mana lukisan berharga dan mana yang tidak. Ia pun kenal banyak pelukis. Kelasnya terus naik. Pelukis tenama pun jadi sahabatnya.
Ini tahun ketiga Rambat menyelenggarakan ArtSubs. Yang terbesar. Tahun lalu nasibnya sial: ketika ArtSubs baru berjalan beberapa hari terjadilah demo besar-besaran. Jakarta terbakar. Seorang ojol tewas dilindas mobil polisi. Merembet ke Surabaya: Gedung Grahadi dibakar. Jaraknya dengan ArtSubs hanya sepelemparan batu. Rambat bergegas menutup pameran. Mengemasinya.
"Mengapa berani berpameran di Surabaya? Bukankah Surabaya tanah gersang untuk kesenian jenis ini?" tanya saya.
"Surabaya bukan lagi gersang, tapi padang pasir," guraunya. "Kalau pameran seperti ini dilaksanakan di Jakarta pasti untung," katanya serius.
"Bagaimana kalau di Yogyakarta?"
"Kalau di Yogya bisa impas".
Saya pun berterima kasih tak terhingga kepadanya: Rambat saya anggap sedang mengairi padang pasir dengan air Bengawan Solo. Siapa tahu lama-lama akan tumbuh benih-benih seni yang subur.
Saking seriusnya pameran ini Rambat sudah tiba di Surabaya satu bulan sebelum pembukaan. Pun orang seperti Nirwan Dewanto, salah satu anggota kurator. Sudah sebulan juga Nirwan menyeleksi mana lukisan yang layak dipajang.
Tidak semuanya lukisan. Ada seni instalasi. Ada patung. Ada seni arsitektur.

Salah satu seni instalasi di ArtSubs 2026.--
Misalnya ada satu ruangan kamar tidur seperti benar-benar kamar tidur yang mewah. Tapi ranjangnya, kursi tamunya, kursi sofanya, lemarinya, semua berbentuk penyet. Pun pintu masuk dan lebar kamarnya sendiri.
Ada juga satu ruangan isinya karya pematung terkenal Nyoman Nuarta: mulai miniatur istana di IKN sampai gerbang perunggunya. Nyoman memang pemenang desain istana dan masjid IKN. Nyoman ikut hadir di pembukaan.
Di dekat pintu gerbang adalah museum seni. Karya kolaborasi seniman KBUSR. Di dalamnya ada karya Handiwirman, Yusra, Yuli, Koko, Agung, dan Ardana. Ini seni instalasi yang diberi nama museum. Ide awalnya halaman museum itu akan terbuat dari hamparan lumpur Lapindo. Tapi tidak dapat izin membawa lumpur asli Lapindo ke Alon-Alon.
Begitu banyak lukisan mahal di ArtSubs: termahal seharga Rp 3 miliar. Tapi ada juga satu kawasan khusus untuk ''UMKM''-nya lukisan: yang harganya di bawah Rp 20 juta/lukisan.

Pengunjung menikmati karya-karya seni lukis yang ada di ArtSubs 2026.--
Surabaya yang ''gersang seni'' ternyata punya pelukis yang masuk kriteria ArtSubs: Gabriel Eva. Lukisan "Hutan Alice'' -nyi dipajang besar sekali. Indah. Teduh. Di pojok lukisan itu ada semacam jendela atau lorong kecil. Di ujung lorong sana terlihat hutan teduh dari jauh. Anda harus berimajinasi seolah masuk ke lorong itu: terlihatlah alam raya –dan itu adalah lukisan besar Gabriel di depan Anda.
Dulu saya mengenal Gabriel sebagai desainer baju. Dia memang Arek Suroboyo yang sekolah di Arva School of Fashion Surabaya. Gabriel seorang pendaki gunung. Aktif juga di properti.
Kunjungan saya berakhir di seni instalasi di ruang bawah tanah. Serba hitam. Judulnya sebuah kalimat yang tidak selesai: "Habis gelap ....". Anda sendiri yang akan mengisi titik titik itu –setelah Anda memasuki ruangannya, lalu keluar lagi untuk menatap judul itu.
Tidak semua pengunjung boleh memasukinya. Misalkan Anda punya penyakit ''alergi'' kegelapan, Anda dianjurkan untuk tidak memasukinya. Setelah menyatakan diri sehat silakan masuk: maksimum lima orang. Begitu melewati tirai hitam Anda tidak melihat apa-apa lagi kecuali kegelapan. Karena itu Anda dianjurkan harus berpegangan reeling di dindingnya.
Saya juga pegangan. Tangan kiri berpegangan reeling tangan kanan meraba-raba ke depan --khawatir tiba-tiba ada benda keras di depan hidung. Lalu saya melangkah kecil-kecil takut ada jebakan kaki di depan.
Saya beringsut maju sambil sesekali membuka mata: masih belum melihat apa-apa. Setelah beberapa langkah kecil, tangan kanan saya mendeteksi ada dinding di depan. Berarti sudah mentok. Diminta duduk di bangku. Saya raba-raba memang ada bangku. Duduk menghadap ke depan. Gelap. Terus diminta menatap ke depan. Lama-lama muncul bayangan samar warna putih. Kian lama kian jelas. Ada dua kotak putih. Atau dua jendela terang. Atau dua wajah pucat. Terserah imajinasi Anda. Selesai.
Setelah ruang dibuat terang ternyata ada cermin di situ. Benda putih tadi sebenarnya hanya satu. Kepala saya pun kebentur dinding sampai menimbulkan suara benturan yang keras. Orang-orang menertawakan saya. Saya kecele ketika ingin mengintip: ada apa di balik cahaya putih itu.
Untuk masuk ''Habis gelap....'' harus bayar: satu dolar. Anda harus membayarnya dengan rupiah –karena ini di Indonesia. Di dinding sebelah kasir ada angka-angka digital live dari bank: di saat Anda membayar itu angka digital menunjukkan kurs dolar sedang di angka berapa.
Inilah karya seni yang –seperti karya seni pada umumnya– mengandung kritik sosial: betapa jatuh nilai rupiah kita. Sang seniman –yang mempunyai karya ini– tidak ingin mendapat uang dari Anda. Dengan membayar pakai cara itu ia hanya ingin Anda menyadari betapa lemahnya mata uang kita. Setelah Anda membayar si kasir memberikan ke Anda tanda mata yang harganya setara dengan 1 dolar Amerika.
Seniman yang menyajikan karya seni ''Habis gelap ....'' ini Anda sudah tahu: Wawan Dalbo. Ia seorang arsitek di Yogya. Juga pemilik sebuah hotel di sana –teman sepedaannya cucu Pak Iskan.
Dalbo punya galeri besar di Yogya, yang kalau masuk harus bayar Rp 30.000. Puluhan ribu orang berkunjung ke galerinya setiap tahun: Galeri Edsu.
Besarnya ArtSubs juga terlihat dari jumlah artis yang ikut di dalamnya: 151 pelukis. Karya yang dipamerkan 500 benda seni.

--
Selesai melihat ArtSubs saya tidak habis pikir: bagaimana orang seperti Rambat berani mengadakannya di Surabaya. Pasti mahal sekali. Perkiraan saya Rambat perlu punya dana Rp 15 miliar untuk bisa mengairi ladang tandus seni di Surabaya.
Uang memang bisa dicari. Tapi hanya Rambat yang berani mencari uang untuk seni.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 22 September 2026: Palung Langit
Momon Atun
Ibarat berenang, teorinya ruwet kaki dan tangan harus singkron, hidung tutup mulup mangap2.. Lbh mudah di praktekkan
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
PALUNG YANG ADA DI DALAM KATA.. Saya jadi teringat satu hal. Dulu saya belajar nahwu untuk bisa membaca kitab. Sekarang saya baru tahu, ternyata nahwu juga bisa dipakai untuk membaca diri sendiri. Isim, fi’il, huruf. Semula hanya terasa seperti rumus. Tetapi di tangan Kiai Miftach, semuanya menjadi cermin. Lisan diperbaiki. Hati juga diperbaiki. Sebab lisan yang fasih belum tentu menunjukkan hati yang bersih. Ini yang menarik dari tulisan Pak Dahlan. Bahasa ternyata bukan sekadar alat untuk menyampaikan pikiran. .Bahasa bisa menjadi jalan untuk menyelami pikiran, bahkan menyelami diri. Saya sendiri lebih sering tersandung bahasa Indonesia. Maka rasanya tidak perlu buru-buru menyelam ke palung bahasa Arab. Palung bahasa Indonesia saja kadang sudah cukup dalam. Dan mungkin di situlah pelajarannya. Semakin dalam seseorang memahami bahasa, semestinya semakin hati-hati ia menggunakannya. Sebab kata bisa menunjukkan isi kepala. Tetapi diam kadang justru menunjukkan isi hati. Bahasa Arab punya palung. Bahasa Indonesia mungkin juga punya. Tinggal kita mau menyelam atau cukup bermain di permukaan.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
SALAH HARAKAT, SALAH NIAT.. Saya paling tertarik pada bagian ketika seorang anak SD mengoreksi tata bahasa Arab seorang Rais Aam. Hebat. Saya saja kalau membaca Arab tanpa harakat, baru tiga kata sudah mulai mencari harakat di wajah sendiri. Nahwu memang menarik. Satu harakat bisa mengubah bunyi. Kadang mengubah makna. Dalam kehidupan, satu niat juga bisa mengubah arti sebuah tindakan. Dari luar kelihatannya sama. Tetapi “i’rab”-nya berbeda. Karena itu saya setuju dengan gagasan memperbaiki lisan sekaligus hati. Kalau hanya lisan yang diperbaiki, kita bisa menjadi sangat fasih mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak kita kerjakan. Politik pun mungkin perlu ilmu nahwu. Bukan supaya semua politisi bisa membaca Jurumiyah. Tetapi supaya mereka tahu kapan harus menjadi isim, kapan harus menjadi fi’il, dan kapan sebaiknya menjadi huruf: kecil bentuknya, tetapi menentukan hubungan antarkata. Dan ada satu pelajaran penting. Jangan malu salah harakat. Yang lebih berbahaya adalah merasa tidak pernah salah. Kalau salah membaca kitab, bisa diperbaiki guru. Kalau salah membaca kehidupan, kadang gurunya baru datang setelah pensiun.
Mbah Mars
Yg jelas² haram itu daging anjing dan babi. Kalau uang suap mah paling pol makruh wkwkwkwkwk. Maka ada guyon, koruptor itu paling takut pada daging babi dan anjing.
Achmad Faisol
memperbaiki hati terwujud dalam akhlak/etika... saat pilpres kok mendukung gas pol yang melakukan pelanggaran berat etika, ya...? tanya kenapa...
xiaomi fiveplus
* kitab nahwu yang dilagukan itu imrithi, bukan jurumiyah * contoh kataba kataba.. katabu katabat.. itu dari kitab amtsilat al-tashrifiyyah, bukan jurumiyah
rid kc
Hanya koreksi: 1. Kalau kata itu dilagukan seperti kataba-katabaa-katabuu dst itu bukan nahwu tapi shorof. Kalau nahwu itu mempelajari gramatikal bahasa Arab dari sisi susunan kalimatnya. 2. Gus Rozin bukan terpilih sebagai rois Syuriah tapi ketua tanfiziiyah.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
SAYA TIDAK BERBAKAT DALAM BIDANG BAHASA.. Buktinya sederhana. Saya pernah hidup 13 tahun di Bandung. Sampai sekarang tidak juga bisa berbahasa Sunda dengan baik. Jadi, kalau soal bakat bahasa, saya rasanya bisa dijadikan barang bukti. Tetapi saya pernah mengalami hal yang membuat saya agak percaya bahwa "bakat itu bukan segala-galanya". Bahkan mungkin bakat itu tidak ada. Yang ada, bisa itu karena: 1) belajar. 2) belajar keras. Atau, 3) cara paling ampuh: karena kepepet. Waktu SMP saya pernah kepepet uang. Maka saya belajar menulis. Mulanya cerita anak-anak, karena ada honornya. Lama-lama artikel, cerpen, cerpan. Mulai dari majalah anak-anak, majalah berita, majalah wanita sampai majalah mahasiswa. Pokoknya menulis apa saja yang bisa berubah menjadi uang. Konon, jangan puisi - karena puisi tidak ada honornya. Sampai suatu hari seorang redaktur majalah berita datang ke rumah. Ka bertanya.. “Saya mencari Mas Agus Suryono.” “Saya Agus Suryono, Pak.” “Saya mencari Agus Suryono yang sering menulis artikel.” “Itu saya, Pak.” Dia menatap saya. “Hah? Masih SMP, tulisannya kayak orang dewasa?" ### Sejak saat itu saya sadar. Kadang orang bukan tidak punya bakat. Hanya belum pernah benar-benar kepepet.
MZ ARIFIN UMAR ZAIN
Tk, SD, smp, saya di sekolahan Islaam. Tata bahasa Arab diajarkan. Perbendaharaan kata masih kurang dikuasai. Ustaadz Umar Khirid nawari ngaji kitab di kediaman nya. Saya mau. Baca kitab "alAdzkaar", dzikir2. Jadi tahu Terjemahan surat alFaatichah. Saya mau agar 100% ngerti, hafal Terjemahan surat alFaatichah. Semoga berbarokah. Saya sma di sman, kuliah di ITTekstil Bandung. Semoga kita sama2 sukses.
Sugi
Posisi bahasa-bahasa selain keduanya adalah di tingkat duniawi saja. Menthok di situ saja. Tidak menembus langit dengan sekian lapisannya, juga tidak menembus palung dengan sekian dalamnya.
abi nadine
kataba katabaa katabuu berasal dari amtsilatut tashrifiyah, karangan kh ma'shum ali, santri angkatan pertama sekaligus menantu hadratussyaikh kh hasyim asy'ari
Mbah Mars
Apa beda nahwu dengan shorof ? Nahwu membahas susunan kalimat. Mengapa akhir sebuah kata dibaca dhamah, fathah dan kasrah ? dhomah misalnya karena berposisi sbg faail (subyek). Dibaca fathah karena sbg maf'ul bih (obyek) dsb. Sedang shorof membahas bentuk kata, yaitu bagaimana satu kata berubah menjadi kata yg lain disebabkan pelakunya berubah. Kataba (dia laki² menulis), katabat (dia perempuan menulis), katabta (Kamu laki² menulis), katabti (kamu perempuan menulis). Kataba berubah menjadi yaktubu jika waktu kejadiannya berubah menjadi sedang (fi'il mudhari'). Kataba berubah menjadi uktub ketika digunakan dlm makna amar (perintah) dsb. Kitab jurumiyyah tdk membahas kataba-katabaa-katabuu dst. Itu dibahas dlm kitab tipis al-amtsilatu at-tashrifiyyah. Jurumiyyah juga bukan berbentuk syair seperti kitab Alfiyah, kitab nahwu yg terdiri dari 1000 bait. Berikut ini kalimat pembuka kitab Jurumiyyah yg masih saya hafal karena dulu di madrasah hrs dihafalkan: "Al- kalaamu huwa al-lafdzu al-murakkabu bi al wadh'i. Wa aqsaamuhu tsalaastatun ismun wa fi'lun wa harfun dst. Ada lagi kitab nahwu yg tebalnya ngadubilah: An Nahwu al Wafi. Dengan menguasai kitab Jurumiyyah memang kita akan menguasai dasar² ilmu nahwu .
Achmad Faisol
Tapi kan biasa orang salah menggunakan tata bahasa. ####### ini masalah tradisi/kebiasaan... di NU, terutama bahtsul masail, kalau ada yang salah harakat saja sudah turun derajatnya... di NU rais 'aam dianggap paling alim dan paling ahli fikih... nah, kalau rais 'aam salah tata bahasa, apa efek psikologis bagi warga NU...?
Maman Lagi
Kesapu.send. Lanjut Abah nulisnya:Al-fath atu al Rabbaniyyah... Saya baca 'th' dengan huruf tho. Bingung bin kedr. Setelah pak BHS menerangkan saya jadi smile.
Bahtiar HS
Saya cek judul kitab Kyai Miftach adalah Al-Fathatu ar-Rabbaniyyah 'ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyah yg dlm bhs Arab tertulis (الفاتحة الربانية على المقدمة الآجرومية) Sekilas alfathatu tertulis spt alfatihah (dengan fa yg panjang). Tapi bukan dibaca alfaatihah, melainkan al-fat-ha-tu. Tanya Kyai AI, ia menjelaskan bhw dlm judul kitab2 klasik Islam, kata Al-Fath atau Al-Fathah sering kali ditulis dg dua gaya penulisan (khath). 1) Gaya Khath Rasm Usmani/Klasik: ditulis الفاتحة tanpa alif panjang di tengahnya, melainkan menggunakan Alif Khajariyah (Alif tegak kecil) di atas huruf Fa (الفٰتحة). Jika jenis font komputer tdk memunculkan alif kecil tsb, tulisan visualnya akan terlihat persis sama dg Al-Fatihah, padahal cara bacanya tetap pendek (Al-Fathatu). 2) mengikut asal katanya dari kata Al-Fath (الْفَتْح) yg diberi Ta Marbuthah di akhir jd Al-Fathah (الْفَتْحَة) yg berarti "sebuah singkapan", "pembukaan", atau "anugerah". Pada gaya ini, huruf Fa langsung menyambung ke Ta, tanpa ada jeda huruf Alif sama sekali. Kalau scr terjemahan ke dlm bhs Indonesia, saya kurang pas dg "Penjelasan aspek ketuhanan... " spt yg digunakan Abah, tp lbh pas menurut saya "Sebuah singkapan aspek ketuhanan... " Krn "penjelasan" itu hanya menerangkan yg terlihat. Sedang "singkapan" lbh mendalam maknanya krn ada unsur "mengungkapkan rahasia yg tak terlihat atau terpikirkan oleh kita". Shg kita baru tersadar woww ternyata ada misteri ketuhanan dlm kitab Jurumiyyah! Wallahu a'lam.
riansyah harun
Walaupun saya belum membaca buku beliau, namun Kiai Miftah sepertinya menohok sesuatu yang seperti wajar di salah satu negeri yang andapun sudah tahu semuanya. Banyak yang suka bermain kata kata untuk terlihat hebat, dan bisa menyenangkan orang lain. Enak di kuping tapi sakit di hati setelah sekian tahun kemudian. Uppsss, kita sudah pada tahu lah, siapa yang menjanjikan sesuatu tapi tidak dipenuhinya. Pada saat sebelumnya, mereka memasang wajah senyum, menyapa, dan membagi sesuatu. Namun dikemudian hari, ternyata tidak sesuai dengan apa yang mereka janjikan. Mungkin "mereka mereka" itu, diperlukan membaca buku Kiai Miftah tentang sebelum memperbaiki hati, maka perbaikilah lisan.
Ahmed Nurjubaedi
Senin kemarin saya membawa rombongan KepSek & pengurus yayasan pendidikan di Sby ke Green School Bali untuk mencari inspirasi. Saya cukup sering ke Green School membawa rombongan serupa, selain mahasiswa. Green School memang bukan sekolah biasa. Bertempat di Badung, nyelempit di pinggir hutan, bangunan sekolahnya terbuat dari 100% bambu, yg sdh diolah sehingga anti rayap & ngengat, tahan hingga 50 tahun. Yang dahsyat, Green School yg menyelenggarakan pendidikan dari PG sampai SMA, sudah mampu mengantarkan siswanya jadi pembicara di TedTalk. Karena aksi mereka yg TOP yaitu menginisiasi, menggulirkan, dan menggerakkan program Bye-bye Plastic Bag di seluruh Bali. Saat mereka masih SD kelas 5 & 6 SD. Green School mengajari siswanya untuk menjadi 'leaders of today, something a normal textbook cannot match'. Gubernur Bali saat itu, Mangku Pastika, sampai menandatangani semacam janji, bahwa pemerintah Bali akan bebas tas plastik pada 2018. Setelah sesi berkeliling di area lebih dari 2 hektar dipandu oleh siswa Green School kelas 10 asal Polandia, kami bertemu dengan Ibu Kate, salah seorang leader Green School. Saat kami bertanya tentang program professional development untuk para guru, Bu Kate yang Australian bilang begini. Kami telah melakukan banyak kesalahan sejak 2005 berdiri. Dan kami bekerja keras sekali memperbaiki kesalahan2 itu. Dan saat ini, kami punya semacam pusat pelatihan untuk guru2 kami. Kami juga membuka kesempatan guru dari manapun untuk ikut belajar bersama
Momon Atun
Santri boleh demo kalau lauk kyai lebih enak dan tempat tinggal kyai lebih megah dari santri.” Satu perbuatan nyata lebih ber-power drpd sejuta omon omon hehe..
heru pujihastono
Nama asli beliau pengarang Al ajurumiyyah: Muhammad bin Daud son haji ( Fez Maroko). Wafat th 723 H (1349 M) . Karomah buku ini: 1. Selama beliau menyusunnya , selalu menghadap kiblat/ Mekkah. 2. Tertulis di penutupnya: kerendahan hati beliau: " ditulis oleh hamba yg faqir, pendosa hanya seorang abdi bagi para penuntut ilmu, berharap ampunan Tuhan nya. 3. Cetak biru nya di lempar ke laut sembari beliau berucap: kalau yg saya tulis ini sbg bentuk keikhlasan, tentu buku ini TDK basah terkena air laut. Dan buku itu sampai di tangan kita era ini.
Mbah Mars
Ciri khas ponpes NU itu mengajarkan cara membaca kitab yg urutannya sbb: 1. Membaca dan menerjemahkan per kata (makna mufradat) pada tahap ini hrs benar bunyi hurufnya baik huruf di awal, tengah maupun akhir. Penguasaan ilmu nahwu sorof serta makna kosa kata sangat diperlukan. 2. Setelah selesai satu kalimat utuh, pembaca kitab masuk pada tahap pemaknaan utuh (terjemah bebas yg lebih kontekstual) Tradisi seperti itulah yg sdh mendarahdaging di pesantren NU. Maka, begitu Rais 'Am (di Al Azhar ini Grand Syeh) kok salah melafadzkan kata Arab saat berpidato itu dianggap fatal.
Jokosp Sp
Seorang ahli mengatakan : Penerbitan BOND DKI dipicu oleh turunnya anggaran pemerintah pusat ke daerah, yang diporotes oleh banyak pemerintah daerah. Bagaimana daerah mau membangun dan menggaji ASN_nya dengan dana yang terbatas, sementara pembangunan KDMP dan embege terus menguras dana negara. Itu harusnya diapresiasi, karena pemerintah daerah punya improvement untuk lebih mandiri. La kok malah ditentang........piye ini?.
MULYADI PEGE
Betul Abah, mustahil saya yg generasi 50an dan Abah yg 70an dapat menyaksikan indonesia menjadi negara maju. Harapan itu pernah membuncah ketika era Habibie, Gus Dur, Mega, dan SBY. Satu persatu bantalan dan rel "kereta indonesia" diperbaiki. Tapi sayang, di kepemimpinan berikutnya, baut-baut relnya dicolong dan ditimbang ke pengepul barang bekas. Sebagai rakyat biasa,Pernah merasa bangga punya pemimpin bisa menurunkan nilai tukar dollar, sehingga merasa tenang menguyup kopi, menghisap udud, menyuap nasi, membayar SPP, dll. Tanpa kuatir harga2 akan naik. Sebagai rakyat biasa, pernah merasa bangga punya pemimpin bisa membawa indonesia menjadi negara paling demokrasi di dunia. Sebagai rakyat biasa, pernah merasa bangga mempunyai pemimpin yg pelan-pelan tapi pasti membawa indonesia menjadi negara yg bebas hutang. Tiga dekade yg kita lewati, terasa halu harapan itu. Ya Tuhaaan..
Wilwa
@Juve. Kungfu ala Tao yang dicampur dengan Kungfu ala Buddha bukan hal yang aneh karena di Tiongkok dalam “agama” pun begitu, Buddha campur Khonghucu campur Tao yang di sini disebut Tridharma atau Tiga Ajaran atau Tiga Agama adalah sebuah proses panjang berliku hingga lebih dari seribu tahun. Mirip dengan Buddha campur Hindu campur Jawa / Lokal lain di sejarah Nusantara. Aliran Buddha khas Tiongkok itu konon berpusat di vihara Shaolin 少林 (Little / Less 少 Garden/ Park/ Forest 林 alias Kebun/ Taman/ Hutan 林 Kecil 少). Zen atau Chan adalah terjemahan dari Dhyana , sebuah istilah Sansekerta khas Buddhisme yang artinya “meditasi / perenungan yang mendalam”. Aliran Chan 禪kemudian menyebar dari Tiongkok ke Jepang dan diucapkan sebagai Zen 禅 dalam bahasa Jepang. 禅/禪 kalau dianalisis dari elemen aksara Mandarinnya adalah terdiri dari 2 unsur/simbol yaitu Cloth 衤(<< 衣) dan Single 单/單. Single Cloth. A Cloth. Sebuah Pakaian. Sebuah Jubah. Pakaian atau Jubah ini merujuk pada jubah yang dipakai Bodhidharma, seorang Bhikkhu penyebar agama Buddha yang datang langsung dari India yang menyebarkan Dharma saat akhir Dinasti Nan Bei 南北 alias era akhir Dinasti Selatan 南 Utara 北 (420-589) yang kemudian melahirkan Dinasti Sui 隋 (581-618) yang pendek itu sebelum menjadi Dinasti Tang 唐 (618-907) yang panjang itu (hampir 3 abad). Dinasti Tang adalah era kejayaan Buddhisme khususnya aliran Zen dengan Shaolin sebagai pusatnya. Konon kungfu shaolin adalah warisan Bodhidharma. Duh text limit.
Juve Zhang
Menarik penjelasan prof Wilwa.... Mandarin bhsa Sulit dipermudah dengan filsafat kehidupan....hati yg tulus dari pejabat Tiongkok akibatnya Mereka berubah drastis dari miskin melarat sampai Kaya Raya....Hati mereka Tulis melayani rakyat istilah Zhu Rong Ji semua ASN Tiongkok adalah Pelayan Rakyat....disini Raja Rakyat artinya IPDA Y@y@t rumahnya dihitung sampai ratusan milyar saking banyaknya....ini Raja Rakyat gaji 8 juta sebulan penghasilan ratusan milyar.... Amsiong
Wilwa
Inti dari ajaran semua agama dan kepercayaan adalah mengenai 心 (= heart). Aksara xin 心 ini asalah gambar dari jantung. Ini mengenai sebuah rasa dari sesuatu yang selalu berdenyut dalam diri. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata atau kalimat. Kalau Anda mempelajari aksara Mandarin maka Anda akan paham bagaimana 心 dipakai sebagai elemen dari aksara pikiran, perasaan, kerinduan, kasih sayang, empati, dll. Sebuah aksara sederhana namun di aksara itulah orang-orang bijak merenungkannya. Paling fenomenal dari 心 adalah di aksara 德. Yang berarti virtue, kindness, ethics, morality, dan sejenisnya. Makna 德 ini dijelaskan oleh para pakar aksara Mandarin sebagai sebuah JALAN 彳(<< 行) menuju HATI 心 yang LURUS 直. Aksara 直 (= straight, lurus) kemudian di-stylish atau berevolusi menjadi tiga aksara Mandarin modern yaitu 十+目+ 一 yang ditempatkan di atas huruf 心 sehingga mayoritas orang Chinese modern kini tak tahu bahwa 德 artinya adalah “jalan hati lurus”. Dan itulah 道. Yang satu kesatuan dengan 德. Dan kitab 經 yang membahasnya disebut Dao De Jing 道德經 (baca: Tao Tê Cing). Taoisme pada dasarnya adalah sebuah jalan menuju hati yang lurus. Menarik bukan menganalisis aksara Mandarin?
Juve Zhang
@d@ro kaya raya dari tambang Kalsel...apakah tidak kepikiran memberikan Sedikit uangnya untuk memberikan alat desalinasi air laut jadi air minum seperti di Singapura??...sangat mampu jika @d@ro mau memberikan sedikit keuntungan nya ke pabrik pengolahan air laut jadi air minum....saya tinggal hampir satu tahun di Kalsel punya kenangan juga.... ikutan kerja di grup @D@ro.... Sebuah perusahaan yg makmur menurut standar zaman dulu pun.
Edi Sampana
Ketinggian Kota Banjarmasin (mantan ibu kota Kal Sel, berpenduduk paling banyak) berada dibawah permukaan air laut. Dulu, disebut juga kota seribu sungai karena banyak sekali sungai kecil yang membelah kota. Karena sekarang sungai kecil itu mendangkal dan menyempit (karena okupasi warga), kalau musim hujan sering terendam karena terhambatnya prinsip bejana berhubungan (air tidak lancar mengalir ke tempat yang rendah). Kualitas air tanahnya juga tidak bagus, karena itu sumber air baku PDAM adalah sungai. Pada musim kemarau (lama tidak hujan), sering air laut masuk ke sungai ini yang menyebabkan tingginya kadar garam air sungai. Yang paling parah adalah tahun ini, karena mulai hari ini (22 Sep 2026) PDAM Banjarmasin tidak bisa lagi menyalurkan air minum kepada seluruh pelanggan. Pada wilayah/daerah tertentu, air yang disalurkan hanya bisa dipakai untuk MCK. Sedih
Muh Nursalim
Biasa aja. Itu tafsir isyari dari nahwu. Karena tafsir ya suka-suka yang kasih tafsir. Siapapun ndak boleh protes. Wong itu tafsirnya kyai Ahyar. Anda bisa saja menafsirkan jar itu andap ashor. Tak suka menonjolkan diri. Tapi bisa juga jar seperti bunyinya. Ia menjadi duri setiap kehidupan. Atau ini, semua laki-laki itu akan mati dikerling wanita. Sebagaimana nun niswah (huruf nun yg menunjukkan perempuan) akan mematikan fiil mudhari'. Bayangkan laki-laki, super sibuk karena selalu fiil. Tapi di hadapan nun niswah. Klepek-klepek. Tak berdaya. Ini tafsir.
Er Gham 2
Saya hanya mengusulkan. Agar setiap hari, saat makan siang, para petinggi BGN di pusat, provinsi, dan kabupaten, menu makan siangnya adalah menu MBG dari sppg. Digilir saja dari tiap sppg nya. Tidak perlu banyak yang dikirimkan. Cukup 3 sampai 5 ompreng. Senin sampai Jumat. Ini untuk memunculkan empati dan sebagai contoh yang baik. Jangan jangan mereka takut keracunan juga saat ikut makan menu MBG tiap hari. Atau kurang selera makannya. SPPG juga bakal ketakutan jika sampai terjadi keracunan pada para petinggi MBG itu, sehingga akan serius menyajikan menunya. Ini belajar dari pidato pimpinan Gontor: "Silakan demo, jika lauk pimpinan Gontor lebih baik dibandingkan lauk santri".
Sogia Manom
Kalau dalam Mandarin ada istilah diatas langit ada langit ,sedangkan di arab ada istilah di dalam Palung ada Palung yg lebih dalam , maka di kita ada istilah ...SUMUR TAK BERDASAR ...kebayang panjang tali yg di ikat bak untuk ambil air di sumur itu
Abdul Malik Muhammad
Paling tidak, ada 3 cabang Ilmu untuk mempelajari bahasa Arab: 1. Nahwu (sintaksis), yang mempelajari struktur kalimat, posisi kata dan berubahan baris harakat akhir kata. 2. Sharaf (morfologi), mempelajari perubahan bentuk kata asal ke bentuk lain, seperti yang abah bilang "kataba-katabaa-katabuu.. dst. 3. Balaghah, yang mempelajari sastra dan keindahan susunan kalimat bahasa Arab.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 98
Silahkan login untuk berkomentar