IKN Tiongkok
--
Saya tiba di Beijing masih terlalu pagi: Senin lalu. Saat masih di Bandara Changi, sebelum berangkat tengah malam, saya sempatkan mandi di ruang tunggu. Anda sudah tahu: tiba di suatu kota terlalu pagi punya risiko; tidak bisa langsung masuk hotel --berarti tidak bisa mandi pagi.
Kali ini tidak ada yang menjemput saya di bandara Beijing. Janet dan suami sedang di Jakarta. Baru sekali ini saya harus dewasa --melakukan apa pun tanpa ada yang melayani.
Pasahal rombongan Disway Business Adventures Vol. 5 baru tiba di Beijing tengah hari. Saya punya waktu enam jam menunggu kedatangan mereka. Maka saya putuskan saja: ke Xiong An. Itulah IKN-nya Tiongkok. Sekitar satu jam dari bandara baru Daxing.
Bandara itu sendiri berlokasi di tengah-tengah antara Beijing-Tianjin-Xiong An. Ke mana pun ke tiga kota itu berjarak sekitar satu jam dari bandara Daxing.
Saya pernah ke Xiong An: delapan tahun lalu. Yakni ketika saya baru mendengar Tiongkok akan membuat kota baru masa depan sebagai ibu kotanya. Waktu itu saya hanya bisa melihat lahan kosong yang ditumbuhi tetanaman perdu liar. Dari jauh saya melihat seperti ada danau alami yang tidak indah sama sekali.
Ternyata itu memang bukan danau. Itu adalah embung besar untuk penampung air hujan agar tidak terjadi banjir. Saya ingin membandingkan kondisi Xiong An delapan tahun lalu dan sekarang.
Ada jalur kereta baru dari bandara ke Xiong An. Saya putuskan naik kereta itu saja. Saya pun cari-cari di mana stasiunnya: di lantai bawah tanah. Keretanya jurusan Beijing-Barat - Xiong An --bandara Daxing di tengah-tengah tiga kota itu.
Tiba di Daxing saya saksikan stasiunnya: baru. Besar. Sepi. Masih sedikit yang menggunakannya. Rupanya itu stasiun untuk masa depan Xiong An.

--
Saya langsung menuju lorong ke arah taksi.
"Bisakah antarkan saya muter-muter Xiong An? Setengah jam cukup?" kata saya kepada sopir taksi.
"Setidaknya satu jam," jawabnya. "Dari sini ke Kota Baru memakan waktu 20 menit. Baliknya nanti 20 menit lagi" tambahnya.
"好的。可以。谢谢. 走吧," kata saya.
Dari halaman stasiun, Kota Baru itu belum tampak. Stasiun itu sendiri sudah dikelilingi banyak bangunan baru. Sudah bukan hanya stasiun. Sudah seperti kota kecil yang baru, modern dan bersih.
"Peta digital ini saya matikan saja ya?" tanya si taksi.
"Terserah".

--
Ia hanya mematikan peta. Tidak mematikan argometer. Berarti ongkosnya nanti berdasar argometer. Kami tidak satu kata pun membicarakan bagaimana pembayarannya.
Pembangunan kota Xiong An ini diputuskan tahun 2017. Sampai sekarang masih jauh dari jadi. Tahap satunya sudah dihuni: Hotel-hotel, convention center, pertokoan, restoran, satu kantor pemerintah pusat. Sudah seperti kota biasa. Lebih tertata. Lebih bertaman. Lebih berpohon. Ramai. Sehari sebelumnya ada penutupan acara besar yang diikuti 90 negara di situ.

--
Di bagian lain Xiong An sedang dibangun kota modern. Dengan tower-tower tinggi. Beberapa BUMN besar punya gedung baru di situ: perusahaan listrik, kimia, dan keuangan. Mereka juga sudah mulai berkantor di situ.
Yang sedang dibangun adalah kampus empat universitas besar: Universitas Transportasi, Universitas Geologi, Universitas Sain Teknologi, dan Universitas Kehutanan/Lingkungan Hidup.
Nama resminya:
1). Beijing Jiaotong University (北京交通大学)
Universitas yang kuat di bidang transportasi, teknik perkeretaapian, teknik sipil, dan teknologi informasi.
2) University of Science and Technology Beijing (北京科技大学).
Terkenal dalam bidang metalurgi, pertambangan, ilmu material, dan teknologi industri.
3). Beijing Forestry University (北京林业大学)
Berfokus pada kehutanan, lingkungan hidup, ekologi, dan pengelolaan sumber daya alam.
4). China University of Geosciences (Beijing) (中国地质大学(北京))
Mengkhususkan diri pada geologi, eksplorasi mineral, sumber daya bumi, dan ilmu kebumian.

--
Selebihnya masih banyak yang kosong. Atau sedang di bangun. Yang jelas kota baru ini kalah cepat dibanding IKN yang idenya datang lebih belakangan.
Xiong An memang ditargetkan baru jadi tahun 2035. Bahkan dianggap selesai yang sebenarnya di tahun 2050. IKN Tiongkok dibangun tidak kesusu --meski uang mereka berlebih-lebih. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 27 Oktober 2026: Gas Asap
djokoLodang
-o-- ... Pokoknya produksi gas dalam negeri diutamakan untuk keperluan dalam negeri. Bisa juga dalam kontrak memang ada klausul seperti itu. ... *) semoga memang sudah ada klausul itu. Untuk kontrak-kontrak mendatang, klausul itu harus ada. --0-
riansyah harun
Camel Trophy yang lagendaris itu, pernah berlangsung di Indonesia antara tahun 1980 an. Sumatera tahun 1985, Kalimantan tahun 1985, dan Sulawesi tahun 1988. Pemilihan ini tentu sangat beralasan. Disamping medannya yang amat menantang, tentu juga memperlihatkan bahwa Indonesia punya hutan yang spesifik, sampai di istilahkan sebagai Paru Paru Dunia. Namun sekian puluh tahun kemudian, paru paru itu mulai kena penyakit. Entah kanker atau tidak..!! Kalau penyakit kanker mungkin tidak menyebar, tapi kanker kali ini menyebar, dan parah. Sebarannya sampai ke negara tetangga Singapura, Malaysia, dan Brunei Darusallam. Kanker asap. Celakanya asap ini tidak berbiaya, dia gratis untuk di hirup bagi warga yang terdampak. Seandainya asap itu seperti BPJS yang tidak dipungut iurannya.., pasti semua mau untuk menjadi pesertanya.
Sugi
Andai asap dari karhutla ini bisa dimanfaatkan oleh negara tetangga sebagai suatu berkah. Tapi sepertinya tidak bisa kalau arahnya ke hal positif. Selalu negatif. Kalau tetangga sebelah rumah kita sedang bakar sampah lalu asapnya masuk ke rumah kita, pasti bikin sesak dan naik darah. Hubungan dengan tetangga makin runyam. Jadi alibi si tetangga untuk memutuskan tali silaturrahmi dengan kita. Kita pun enggan berbaikan. Begitu seterusnya. Solusinya jangan bakar sampah atau cari cara pencegahan yang terbaik agar jangan sampai terjadi kebakaran. Kan zaman sudah maju, pasti ada teknologi alam maupun nonalam untuk hal itu. Itu kalau kita semua mau serius. Kalau tidak ya wasalam.
Liam Then
Ini info sewa helikopter di Amerika. Dry Lease. Robinson R44 (Helikopter piston ringan 4 kursi yang paling masif populasinya di AS): Biaya dry lease-nya berkisar antara USD 5.000 hingga USD 6.000 per bulan (sekitar Rp80–95 jutaan per bulan), ditambah biaya per jam terbang (flight hour fee) sekitar USD 150 - USD 300 per jam tergantung pemakaian. Tuh tidak mahal, anaknya Pak Iskan misalnya, itu bisa sewa 1 tahun langsung tanpa berkeringat, mengingat jumlah tabungannya, coba pikir, tanam nenas rugi 150 miliar saja, masih tenang-tenang cucup durian. Kalau saya ilang 150 miliar, lihat kulit duriannya saja sudah tak ada selera. Skema Wet Lease terima beres pun dibanding dengan biaya penanggulangan kalau sudah terbakar, bakalan masih berkali -kali lipat lebih murah. Misalnya Kalbar, Kaltara, Kalsel, Kaltim, Kalteng digabung, sisihkan 150m anggaran, ini bisa dapat lumayan banyak helikopter patroli sewaan dari Amerika, bahkan dengan pilotnya. Kalau memang tipis anggaran, itu banyak perusahaan perkebunan besar di Kalimantan, cari saja dosa-dosanya yang pasti lumayan banyak, denda gede-gede sekalian, ndak susah itu, hehehe...
Liam Then
Kalau tidak bersiap dari sekarang, tunggu lagi masuk musim kemarau baru bersiap. Takutnya kita sudah masuk siklus kemarau kering. Seingat saya, mungkin sudah sekitar 3-4 tahun, kemarau tak pernah sepanjang tahun ini, seperti yang Pak DI tulis kemarin, 3-4 tahun-tahun sebelumnya di Kalbar, selalu terjadi kemarau basah. Artinya meskipun musim kemarau, hujan selalu rutin datang dengan tingkat curah hujan yang lumayan besar. Jadi, takutnya kita sudah masuk siklus kemarau kering, yang mungkin juga bisa bertahan sampai 3-4 tahun ke depan. Saya ingat dulu, sekitar tahun 2000-an, atau 2010-an, sempat juga tiap tahun musim kabut asap karena pembakaran lahan.
Bahtiar HS
Hirup oksigen di bilik O2 seharga SGD 500 per jam di Singapura. Kalau Abah sekarang berumur 75 tahun, dan selama itu tidak berhenti bernapas, maka jika dikonversikan ke Rupiah menggunakan acuan kurs pasar global (1 SGD = Rp14.177,74), maka nilai gas O2 yg dihirupnya dari alam setara dengan Rp4.657.387.590.000,00 (4,65 triliun Rupiah). Semua for free. Itu baru anugerah oksigen. Nikmat mana lagi yg engkau dustakan? Makanya bagi mereka yg mau berpikir dan merenung, hikmah musibah asap ini menjadikannya tetap tidak lupa bersyukur. Karena anugerah yg dia terima selama ini jauuuuh lebih banyak dari Yang Punya Alam Semesta ini. Jadi, banyak bersyukurlah, dan stop mengeluh. Ini berlaku buat yg kena musibah apa saja. Gak melulu asap.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
- OKSIGEN BERBAYAR, ASAP GRATIS Ada satu hitungan Pak DI yang menarik. Satu jam masuk bilik O2 di Singapura harganya SGD 500. Kalau sehari penuh, berarti SGD 12.000. Sebulan? SGD 360.000. Untung manusia masih boleh bernapas gratis di luar bilik. Itu pun kalau udaranya bersih. Secara ilmiah, oksigen memang kebutuhan dasar manusia. Tetapi udara bersih juga punya nilai ekonomi. Ketika udara tercemar, biaya yang muncul bukan hanya untuk membeli purifier, madu Manuka, atau masuk bilik O2. Ada biaya kesehatan, produktivitas yang hilang, hingga omzet restoran yang ikut megap-megap. Di sinilah ironi asap lintas batas. Negara yang tidak membakar hutan ikut menanggung biaya pencemaran. Negara asal asap menanggung persoalan lingkungan, tetapi dampak ekonominya bisa merembet ke negara tetangga. Maka, jangan sampai kelak muncul industri baru: ekspor asap, impor oksigen. Yang satu dikirim tanpa tagihan, yang lain dibeli dengan dolar Singapura. Kalau itu terjadi, kita bukan hanya gagal mengelola hutan. Kita juga sedang menyubsidi polusi dan menciptakan pasar bagi penawarnya. Udara bersih semestinya bukan barang mewah. Sebab, paru-paru tidak pernah meminta kuitansi setiap kali menarik napas.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
- PIPA GAS, JALAN TOL DI BAWAH LAUT. “Di Lampung sana pipa itu tersambung ke arah Cilegon, Jakarta, Cirebon, Semarang, Cepu, Gresik, sampai ke ujung Madura.” Alinea Pak DI ini menarik. Selama ini kita mengenal jalan tol sebagai penghubung antarkota. Ternyata gas juga punya jalan tol sendiri. Bedanya, yang satu dilewati kendaraan, yang lain dilewati molekul. Lebih menarik lagi, jaringan pipa bukan sekadar urusan teknik. Ia menentukan siapa yang bisa menikmati energi, industri mana yang bisa berproduksi, dan daerah mana yang harus menunggu pasokan. Kalau jaringan jalan tersambung, orang bisa bepergian lebih mudah. Kalau jaringan gas tersambung, pasokan berpotensi dialihkan ke wilayah yang membutuhkan. Tentu saja, kapasitas pipa, ketersediaan gas, dan fasilitas pendukung tetap menentukan. Maka, pertanyaan strategisnya bukan cuma berapa banyak gas yang kita punya. Tetapi juga: apakah jaringan kita cukup terintegrasi untuk menyalurkan gas ke tempat yang paling membutuhkan? Jangan sampai gas kita punya jaringan panjang, tetapi kebijakan distribusinya pendek. Pipanya sudah saling terhubung. Semoga perencanaan energinya juga demikian.
riansyah harun
Gas dan Asap seperti dua padanan kata yang lagi terkenal saat ini. Asap bersifat diberi "secara gratis" walaupun tidak dikehendaki, sedangkan Gas dikehendaki tapi tidak diberi. Saya tidak tahu, kenapa yang menerima dengan "ikhlas" itu tidak terlampau marah besar, walaupun medsosnya gegap gempita. Malah sampai sampai harus merogoh koceknya untuk membeli filter udara ??? Namun si pemberi malah "marah besar" sampai sampai punya alasan masih menahan kiriman gas nya untuk dipakai sendiri ??? Rupanya saking pekatnya asap yang dihirup itu, dan setiap harinya..., sampai sampai membuat emosipun mudah meledak.
Liam Then
Pak Bahlil terekam bilang, nanti expor gas tidak usah lewat Singapura lagi, langsung saja lewat Indonesia. Saya setuju sekali. Langsung gas saja, itu kita sudah punya PSN Kuala Tanjung, dibibir Selat Malaka. Gedein saja sekalian jadikan pelabuhannya kelas dunia, Itu berapa ratus kilometer duluan tiba sebelum pelabuhan Johor Malaysia dan Singapura. Mata uang rupiah yang lebih murah dan tenaga kerja yang murah, bisa jadi daya tarik untuk kapal tambat, bongkar muat. Kalau sarananya lengkap, fasilitas canggih setara pelabuhan Shanghai yang otomatis itu, banyak kapal gede pasti mau singgah. Pangkalan gas alam juga sekalian dibangun. Sekarang Tiongkok sudah sangat ahli, order kesana saja, harga sudah pasti bersaing, sekaligus bangun terminal gas alamnya sekalian. Jadi perlahan -lahan kurangi ketergantungan kepada Singapura sebagai hub komoditas ekspor. Saya perhatikan, itu rerata emiten batu bara, sawit yang ada di BEI, punya anak usaha di Singapura semua. Entah untuk apa, mungkin salah satu sebabnya karena peran Singapura sebagai hub kapal dagang. Dari banyak anak usaha itu, banyak yang berperan sebagai perusahaan dagang. Kalau begitu, begitu mereka berdagang, duitnya masuk kemana? apakah masuk Bank Singapura dulu? Makanya sering ada muncul tudingan transfer pricing. Mungkin dari yang banyak itu, banyak juga yang nakal. Saya heran, kenapa ini dibiarkan oleh pemerintah. Apa susahnya transaksi langsung ke Indonesia? Kenapa harus punya anak usaha di Singapura?
Liam Then
Sekarang Singapura sudah sangat kaya. Tapi saya percaya Indonesia punya segalanya untuk bisa lebih kaya dari Singapura!! Dari ujung Sumatera, barang bisa lebih cepat mencapai pasar Asia Timur. Dari ujung Kalimantan, lebih dekat lagi. Dari Sulawesi juga sama. Dari Maluku dan Papua, kita juga ada alur pelayaran khusus yang bisa lebih cepat capai pasar Asia Timur. Posisi Indonesia, itu lebih dekat dengan pasar terbesar di dunia saat ini : Tiongkok. Dan juga lebih dekat kepada pasar kedua paling besar yang akan menyusul di belasan tahun ke depan : India. Jika mau dikerjakan dengan benar. Indonesia bisa lepas ketergantungan ke Singapura sebagai hub pelayaran internasional. Tergantung apakah Pemerintah cukup ambisius dan fokus saja apakah mau kerjakan atau tidak. Ada lebih dari 280jt pasang tangan di Indonesia. Dibanding dengan cuma tak sampai 10jt di Singapura .
Jokosp Sp
Bagi kami di Borneo, sudah tiga bulan ini minimal satu yang di kamar non stop 24 jam AC harus hidup. Ada kenaikan bayar listrik 20-30% dari bulan-bulan sebelumnya untuk AC dan Kipas Angin. Suhu di pagi hari sudah di 27*C, dan rerata suhu di siang hari antara 37-38*C. DItambah tiga bulan yang diselimuti asap, maka suhu pagi tidak jauh berbeda dengan suhu di siang hari sampai ke sore hari. Apalagi ada cucu baru, yang harus dijaga kesehatannya oleh neneknya. Ada perbedaan waktu yang terpakai sekarang untuk berjemur pakaian di luar. Yang normalnya enam jam baru kering, saat ini tiga jam sudah kering. Perbedaan lainnya, ada parfum yang tanpa dibeli dan diminta sudah gratis melekat ke semua pakaian tanpa lewat dana APBN. Merk parfum baru itu "Fumus Incendii", kalau di Inggriskan jadi "Smoke of a Fire" . Parfum laundry hilang manfaatnya. Bahkan parfum terkenal dari Saudi Arabia, seperti Arabian Oud & Oud Elite, Reef33, Reef Oud Clasic, Reef White Musk, Raudhah, Al Musbah Royal Oud, Gissah, atau Minyak Mawar Thaif (Raished Al Qurashi) jadi hilang bau aslinya karena tercampur dengan bau asap. Ternyata yang mahal dan berkualitas kalah dengan yang gratis dan tidak dikehendaki. Ampuuuuuuuun................
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Wilwa.. Saya juga heran ama orang Jerman. Katanya orangnya cerdas. Kok dulu bisa percaya dan tunduk patuh ama Hitler. Sekarang ama Trump.. Dan masih belum melawan..
Juve Zhang
Soal Singapura kita stop ekspor gas sudah betul tak usah dipikirin gas mereka banyak bahkan Rusia siap jual Gas LNG ke Singapura karena Rusia kelebihan pasokan Gas yg ke Jerman distop total.....bagi Rusia jual gas ke Singapura kecil sekali semua kebutuhan Singapura pun tak banyak dibanding kebutuhan Tiongkok yg super gede pun kebutuhan Jerman dulu gede... sekarang hanya Tiongkok yg beli dalam jumlah gede sekali gas Rusia.....jepang juga beli gas Rusia tak diboikot Amerika gak berani memboikot Jepang.... Tiongkok juga gak bisa diboikot Amerika ...dan Singapura juga sudah mau buat listrik energi matahari 300 MW diatas dam air di Johor...mirip yg dibangun sultan MBbS di Cirata yg 150 MW yg harus dibeli mahal oleh PLN dan PLN boncos disana.. Beli mahal jual murah....nasib mu PLN di ketiak sultan Petruk dan sultan MBbS....sultan MbBS kasih koper koper ke seseorang waktu mau pulang oleh oleh katanya 150 ember santan gurun .yg gurih...
Wilwa
@Juve. Karena waktu itu belum terpikir jualan RETAIL Obligasi RI/ Bond / Surat Utang Negara / Surat Berharga Negara / Whatever istilahnya, yang baru dilakukan era SBY tahun 2006. Saat itu sudah ada obligasi Fixed Rate yang satu slot 100 jeti. Gak terjangkau kalangan mendang mending. Coba kalau saat itu ORI Retail sudah populer khan gak perlu jual gas murah. Jadi MSP memang gak kreatif. Dibandingkan Sus atau Wi. :)
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
- PERANG MEDSOS GPP, TELKOMSEL TERSENYUM.. Kalau cuma perang medsos, gpp. Perusahaan telekomunikasi malah bisa tertawa. Makin ramai berdebat, makin laris kuota internetnya. Trafik meningkat, bisnis ikut bergembira. Yang penting, jangan sampai perang medsos berubah menjadi perang antar bangsa. Apalagi tetangga. Sebab, biaya perang bukan lagi sekadar pulsa. Ada senjata, kehancuran, dan nyawa manusia. Itu mahalnya bisa bikin makin sengsara semuanya.
Liam Then
Yang paling tak masuk akal adalah konsesi sawit Indonesia, mungkin terbesar di dunia. Tapi kenapa ratusan ribu orang Indonesia harus jadi buruh murah di perkebunan sawit Malaysia? Kenapa masih banyak konsesi lahan diberikan kepada perusahaan asing oleh pemerintah? Kenapa tidak dibagi-bagikan kepada mereka buruh sawit yang harus kerja upah murah di Malaysia? Sampai-sampai Indonesia sering dipandang rendah oleh orang Malaysia? Kalau punya harga diri, perempuan Indonesia harusnya tak jadi pembantu rumah tangga upah murah di Malaysia dan Singapura. Pekerjaan jadi asisten rumah tangga dengan upah minimum itu menghinakan. Kalau anda panggil balik buruh sawit di Malaysia pulang sekaligus, bilang : "pulang saudaraku, ini tanah kami sediakan, kamu tanam jadi milikmu, asal jangan lahannya diperjual belikan" saya jamin, industri sawit Malaysia, langsung dapat masalah besar. Kalau pemerintah Indonesia, mau keukeuh panggil pulang seluruh TKW, atau hentikan ijin perantara TKW ke Singapura. Tidak ketagihan remitansi uang yang tak seberapa itu, nilai tawar tenaga kerja Indonesia, akan lebih terjaga. Bangun penghidupan rakyat kecil di negara sendiri, lebih mulia daripada membiarkan rakyat kecil banting tulang dengan upah minimum untuk profesi yang seharusnya berupah besar. Asisten rumah tangga yang tinggal bersama majikan, kita objektif saja, itu praktis harus ready kapan majikan perlu. Saya lagi tunggu presiden RI yang mau ubah kenyataan pahit ini.
Siswanto Elha
Ternyata tidak sulit mengalahkan Singapura, klo rewel tinggal kirim asap dan stop kirim gas. Kalau masih belum cukup tinggal cari perusahaan kertas di Singapura yg pemiliknya orang Indonesia, klopun bukan orang Indonesia, pabrik dan bahan bakunya ada di Indonesia, wal hasil kebakar hangus seperti cerita lagu anoman obong di Singapura. seumpama terjadi perang, sejelek-jeleknya pemerintah tetap saja saya bela Indonesia bukan singapura.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
- BILIK OKSIGEN DAN BILIK CINTA.. Di Kalimantan, ada bilik yang membantu orang bertahan hidup. Ada pula kabar tentang bilik yang justru mengundang tanda tanya. Namanya sama-sama bilik, tetapi maknanya berbeda jauh. Komunitas Masjid Kapal Munzalan di Kalimantan Barat menghadirkan Bilik Oksigen. Manfaatnya menjangkau hingga Kalimantan Tengah. Dari satu tempat ke tempat lain, kepedulian bergerak untuk membantu sesama bernapas. Di sisi lain, istilah Bilik Cinta mencuat terkait dugaan penyalahgunaan fasilitas di lingkungan lapas. Tentu, kabar ini perlu diuji dengan fakta. Jangan sampai dugaan berubah menjadi vonis, apalagi menggeneralisasi semua petugas. Namun, kontrasnya tetap menjadi bahan renungan. Bilik Oksigen lahir dari semangat melayani. Sementara dugaan penyalahgunaan fasilitas, jika terbukti, menunjukkan bagaimana amanah bisa melenceng ketika pengawasan dan integritas melemah. Yang satu menumbuhkan harapan. Yang lain mengingatkan bahwa kepercayaan publik bisa runtuh oleh ulah segelintir orang. Pada akhirnya, masyarakat membutuhkan keduanya dalam makna yang benar: kepedulian yang nyata dan lembaga publik yang menjaga amanah. Sebab, menolong kehidupan itu mulia. Menjaga kepercayaan juga kewajiban.
Ahmed Nurjubaedi
Pada hari kedua saya bersama siswa-siswi SMP Khadijah Surabaya di KL kemarin, kami berkunjung ke International Islamic University Malaysia. Kami disambut dan didampingi oleh sekjen PPI Kuala Lumpur, mas Mumtaz beserta kak Aulia dan kak Nana. Mumtaz & Naja dari Jakarta, Aulia dari Semarang. Mumtaz dan Aulia lulusan pesantren. Naja SMA di Jakarta. Mengapa pilih IIUM? Pergaulan sosialnya lebih Islami. International exposure nya dapat (mahasiswa international lebih dari 30 negara). Biayanya 11-12 dibanding kuliah di Indonesia. Mutu kampusnya lebih baik. Begitu alasan mereka. Ternyata, perkuliahan normal di IIUM belum genap 10 hari berlangsung setelah lebih dari sebulan dilakukan secara daring. Benar. Kabut asap dari Indonesia penyebabnya. Selain tanya jawab perihal dunia kampus, kami dapat info yang menurut saya penting: setiap siswa di Malaysia mendapat subsidi untuk membeli buku senilai 300rb rupiah per tahun. Beli buku apa saja, lalu struknya bisa ditukar ke pihak yang ditunjuk. Malaysia memang sudah selesai urusan perut. Mereka sekarang juga mengurus isi kepala....
mario handoko
selamat siang bp thamrin, bp agus, sobat wilwa, bp haji jokosp, bp em ha, bp udin, bp mul dan teman2 rusuhwan. "langkah prabowo bentuk badan pengelola gambut untuk cegah karhutla." demikian berita di detik.com. jadi teringat pengalaman anak saya dulu. saat pertama kali pegang hape android. semua aplikasi diunduhnya. walhasil, hape nya ngadat. amsyongg tenan
yea aina
Konon negeri Anda itu kaya sumber daya alam. Tapi kontribusi berbagai konsesi dan imbal hasil SDA itu, bukan penerimaan APBN yang bisa diandalkan. Tidak seberapa. Pendapatan terbesar APBN ditopang 82,88% dari pajak, sebesar 2490.09 T. Selebihnya berupa PNBP 17,09% sebesar 513,6 T. Disitulah penempatan hasil konsesi dan imbal hasil SDA. Memang konstitusi menyebut: bumi, air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara. Tapi pengelolaannya diberikan kepada non negara (swasta dan asing). Apakah bisa digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat? Mungkin Anda bisa menjawabnya.
HONDA CBR150R
Saya tidak bisa membayangkan gimana kalau semua orang Singapore dipindahkan ke Kalimantan. Apa yang akan terjadi? Dimana kami di Kalimantan Barat menikmati asap sampai sekarang walaupun asapnya sudah tipis. Orang Kalimantan dan Sumatera memang hebat, paru2nya cap gatot kaca dan tetap beraktifitas walaupun psi-nya pada bulan September berkisar antara 900-1000 lebih dan tidak pakai masker pula. Di Singapore psi 200an sudah tidak mau keluar rumah, di Kalimantan Barat psi 1000 pun tetap harus kerja, kalau tidak kerja siapa yang mau kasih duit? Pemerintah? Kita mesti cool dulu katanya.
Juve Zhang
Siang ini marathon rutin ....sambil makan siang di kebun dengar percakapan tiga buruh tani di kebun tomat ....saya gak tega menulis pembicaraan mereka sangat sangat mencengangkan batapa mereka tak pegang uang padahal kerja keras dari pagi sampai siang merawat tanaman ....mereka gak tahu saya mendengar cerita mereka... sungguh sangat menyedihkan upah murah an cerita mereka .... rasanya kalau beberapa sampai kerja ke Hongkong jadi TKW di Hongkong memang sangat layak bayaran upah minimal Hongkong 7,3 juta sebuah....jauh lebih layak dari pada jadi buruh tani di kerajaan Singosari...
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
Komentar: 142
Silahkan login untuk berkomentar