Hadiah Lebaran

Hadiah Lebaran

--

"Saya harus PCR dulu. Baru bisa rapat," ujar saya pada Meiling. Pun di Singapura. Hasil PCR baru dikirim 24 jam setelah tes.

Malam itu, meski ada rapat jam 19.00 saya harus mampir PCR. Lusanya, pagi-pagi, saya harus balik ke Indonesia.

"Kenapa harus PCR?" tanya Meiling.

"Saya tidak tahu. Mungkin peraturan Singapura," jawab saya asal-asalan.

Meiling pun mencarikan tempat PCR di dekat Financial Center –tempat rapat malam itu. Sambil makan malam. Di gedung tertinggi nomor 2 di Singapura.

"PCR di Raffles Hospital saja," katanyi setelah selesai utak-atik HP-nyi.

Bentley itu pun berbelok ke alamat yang dimaksud. Naik ke lantai 2. Wow. Antrean panjang. Mau PCR semua. Ada antrean go show, ada antrean ''sudah buat janji''. Mula-mula saya antre di go show. Meiling urus pembayaran: SGD 115. Selesai bayar, Meiling minta saya pindah jalur.

Sambil menemani antre, Meiling bertanya ke petugas di situ. "Keharusan PCR ini peraturan Singapura atau peraturan Indonesia?" tanyanyi.

"Peraturan Indonesia," jawab petugas itu.

Meiling pun memukul pundak saya. "Dengar sendiri kan?" ujarnyi dalam Bahasa Mandarin.

Proses PCR itu cepat sekali. Administrasi awalnya yang lama: banyak daftar isian di kertas. Seperti bukan di Singapura saja.

Keluar dari RS saya sudah menerima email dari rumah sakit itu. Rupanya sekadar testing. Apakah alamat email yang saya tulis di kertas isian tadi sudah benar. Testing itu penting karena hasil PCR akan dikirim ke alamat email saya.

Harusnya saya tahu bahwa itu peraturan Indonesia. Dua hari sebelumnya saya meninggalkan Singapura ke Malaysia. Jalan darat. Lewat jembatan Tuas. Yang melengkung tinggi di atas laut selat Johor.

Di pos perbatasan Singapura, sebelum melewati jembatan, kami tidak ditanya apa-apa. Soal Covid. Hanya menyerahkan paspor untuk distempel. Setelah jembatan, di pos perbatasan Malaysia, juga tidak ditanya Covid. Hanya menyerahkan paspor. Untuk distempel oleh petugas imigrasi Malaysia.

"Horeeee, kita ke luar negeri," teriak Meiling kepada suaminyi  yang lagi pegang kemudi.

Hari itu saya tidak menawarkan diri untuk mengemudi. Saya tahu diri. Sang suami lebih mampu. Punya hobi balap mobil. Seperti ayahandanya. Mobil mereka banyak sekali: Bentley, Mercy, Jaguar, Ferrari...entah apa lagi.

"Terima kasih Pak Dahlan. Kalau tidak karena Pak Dahlan kami pun belum akan ke luar negeri," ujar Meiling. "Sudah hampir tiga tahun kami tidak ke mana-mana," tambahnyi.

Sang suami sudah sering mengemudi di jalur Singapura-Kuala Lumpur itu. Juga di banyak jalur di Eropa, Amerika, dan Australia. Saya baru dua kali. Yang pertama naik bus. 40 tahun lalu. Yang kedua bersama Robert Lai. Tujuh tahun lalu.

Kali ini saya ingin mencatat di setiap gerbang tol. Ingin tahu berapa biaya tol dari Singapura ke Kuala Lumpur.

Awalnya saya heran. Di pintu tol pertama tertulis 0 ringgit. Saldo di kartu tol milik Sang suami tidak berkurang.

Di pintu tol berikutnya juga sama: 0 ringgit. Saldo utuh. Oh... Mungkin baru di pintu tol terakhir bayarnya.

Kami pun mampir rest area. Ingin juga menyumbangkan air tubuh saya di Malaysia itu. Agar jangan hanya menyumbang untuk IKN.

Rest area itu sudah berumur lebih 30 tahun. Tidak jreng lagi. Tapi masih tetap terawat. Hanya desainnya sudah terasa kuno. Sudah berumur 42 tahun. Kalah dengan rest area baru di dekat Salatiga, Jateng.

Di rest area itulah saya bertanya pada pengendara lain. Soal 0 ringgit tadi. Jawabnya mengingatkan saya bahwa hari itu adalah hari arus balik. Hari ke-7 setelah Idul Fitri. Liburan sudah habis. Banyak orang yang dulu mudik harus balik ke ibu kota.

Dan hari itu pemerintah Malaysia menggratiskan jalan tol di seluruh negara. Itu bagian dari hadiah Lebaran. Dari negara untuk rakyatnya.

Hadiah Lebaran pertama diberikan sehari sebelum Lebaran dan di hari Lebaran. Tol gratis.

"Wah, kami juga dapat hadiah Lebaran dari pemerintah Malaysia," ujar suami Meiling.

Itu betul. Di pintu terakhir masuk kota Kuala Lumpur tarifnya benar-benar 0 ringgit.

Jarak Singapura-Kuala Lumpur itu hanya 5 jam perjalanan. Itu pun dengan kecepatan disiplin: maksimum 120 km/jam.

Tidak berani lebih dari itu. Apalagi baru saja kami melihat: Lamborghini yang belum lama menyalip kami, terlihat parkir di pinggir jalan. Ada dua polisi yang lagi mencegat Lambo itu.

Tidak banyak beda tol Malaysia ini dengan di Indonesia. Kecuali lebih mulus. Sejak dulu.

Pembeda lainnya: sepeda motor tidak dilarang masuk tol. Anehnya tidak banyak motor yang memanfaatkan fasilitas itu. Maka sepanjang Singapura - Kuala Lumpur tidak sampai 20 sepeda motor yang terlihat di jalan tol.

Mungkin Indonesia tidak akan meniru itu. Pernah jalan tol menuju stadion Gelora Bung Tomo dibuka untuk motor. Tepat di Persebaya day. Mampet. Wani!

Tiba di Kuala Lumpur kami langsung ke Ritz Carlton. Bermalam di situ. Agar dekat dengan Bukit Bintang –Orchard Road-nya Kuala Lumpur masa kini. Hidup sekali. Lebih hidup dari yang di Singapura. Sambil kya-kya di Bukit Bintang, saya tergoda bertanya ke diri sendiri: di mana ya di Jakarta bisa kya kya seperti ini.

Setelah bertemu Anwar Ibrahim –dan beberapa relasi– keesokan harinya kami balik ke Singapura. Lewat jalan yang sama. Tidak ada lagi hadiah Lebaran dari negara.

Saya pun bisa mencatat tagihan tol sepanjang 414 km itu. Tidak untuk dibanding-bandingkan.

Dari Kuala Lumpur ke pintu tol Johor Bahru 32 ringgit.

Dari situ ke Jembatan Tuas 3 ringgit.

Tol jembatan Tuas 6 ringgit. Hasilnya tentu dibagi dua dengan Singapura.

Total: Anda sudah tahu.

Hari itu pun kami merasa dirugikan Malaysia 39 ringgit. Saat berangkatnya dulu kami tidak merasa untung 39 ringgit.

Begitulah fitrah manusia. Setelah Idul Fitri. Sulit berterima kasih. Sulit juga mencatat jasa orang lain.

Tentu Meiling tidak perlu lagi memukul pundak saya. Lain kali. Aturan wajib PCR itu barusan dihapus. Presiden Jokowi sendiri yang menghapus. Sekalian dengan no masker di luar ruang.

Di Indonesia, peraturan baru itu banyak dibaca: bebas masker. Di mana pun. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Reputasi Segalanya

Beauty Mom
Jadi presiden yang suka di fitnah ya harus begitu, menjaga image dan reputasi. Mereka khan suka bersilat lidah dan mencari titik lemah setiap saat, ditambah lagi suka menyebar berita yang masih belum jelas dan berbau fitnah....... Rasanya begitu kalau tidak salah.

Akagami Shanks
BIDLOT BID OFFER OFFLOT (A) 90 91 (A) (B) 99 92 (B) (C) 98 93 (C) (D) 97 94 (D) Total = Simulasi> Total saham= 3,6 Miliar lembar. Pengendali atau saham yang di transaksikan pada BID = 2.800.000 Lot atau 280.000.000 lembar. Presentase = (9%). Volume Bid = 100.000 lot Volume Offer = 100.000 Lot. Step 1> beli 2.800.000 (9%). Step 2> belok kiri 500.000 Lot supaya (ARB). Nyari Rugi dulu. Step 3> lomba antri di bid. Step 4> belok kiri lagi. Step 5> lomba antri di bid. Step 6> Jika sudah sampai pada average pembelian lawan. Langsung di ARA-kan. Sampai 15 ribu rupiah misal. Step 7>Turun pelan-pelan. Tambahkan kecap. Sewa influencer, atau sajikan ke maba yang sedang belajar ekonomi dengan alasan fundamental, teknikal, bandarmologi, perang ukraina, dll. Ok, ini analisa asal-asalan saja. Jangan di percaya. Mungkin pak dis mau menjelaskan soal teknik manipulasi harga. Hehe.

Muchammad Lutfi Asyari
Kelak di padang mashyar,para koruptor akan dikumpulkan.Dan ditanyai satu persatu oleh malaikat.Darimanakah uang kau peroleh.Dan kemanakah uang yang sudah kau peroleh.Para koruptor itu menjawab rata-rata dibuat kepentingan pribadi dan keluarganya.Maka sama malaikat langsung dicegurno neroko.Cuma malaikat ada yang kebingungan,saat ada yang menjawab:uangnya dilarikan buat naik haji, menyumpang panti dan membangun masjid.

thamrindahlan
Bijak tunggu pengadilan dari pada dari pada menyangka nyangka kesalahan atawa kebenaran seseorang tersangka kasus munyak goreng. Bukan orang sembarangan kalau dia bisa menjadi konsultan resmi kemendag. Terlepas konsultan yang membawa kemaslahatan atau malah mempengaruhi kebijakan kemendag untuk kepentingan pesanan para konglomerat. Kenapa Pak Kwik saja yang dijadikan konsultan, apakah karena Beliau nyinyir terhadap konglo hitam, Abah lebih tahu. Kemendag, kementerian yang memperdaganagkan segala macam, kewenangannya luar biasa, ibarat gula maka semutpun pada hadir disana baik sebagai konsultan, mafia dan pedangang pasar tanah abang. salamsalaman.

Jo Neka
Kemarin memuji hari ini mengkritik semakin bingung warga disway terhadap orientasi POLITIK pak Dahlan.Tetapi menurut saya pak DI mencoba memaparkan apa adanya.

Er Gham
Pegawai pabrik dan pegawai kantor punya jam kerja yang sama. Namun pegawai kantor terkadang sedikit menggunakan waktu kerja buat waktu pribadi. Dan sulit dimonitor atasannya. Ini contoh jadwal yang ekstrim dan bersifat khayalan semata, semoga tidak ada pegawai yang seperti ini: 1. Datang tepat waktu jam 8 pagi, tapi setelah simpan tas dan buka komputer/ laptop, keluar 30 menit untuk cari sarapan dan merokok 1 batang. 2. Kembali ke meja kerja, buka hp untuk baca dan balas medsos dulu 30 menit. 3. Setelah 1.5 jam bekerja, keluar ruangan kembali untuk merokok 2 batang dan diskusi politik sesama rekan kerja selama 30 menit, lalu kembali ke ruangan. 4. Jam 11.30 sudah keluar ruangan untuk cari makan siang, padahal istirahat dimulai jam 12 siang. 5. Jam 13.30 baru kembali dari makan siang, padahal seharusnya jam 1 siang sudah kembali ke meja kerja. 6. Habis makan siang, masih santai, dan agak mengantuk, jadi buka medsos 30 menit, padahal saat makan siang juga buka medsos. Sekalian telepon anak istri untuk tanya kabar mereka. 7. Setelah kerja 1,5 jam, kembali keluar ruangan untuk merokok 1 batang selama 15 menit dan pergi membuat kopi di pantry selama 15 menit. 8. Jam 16.30 sudah siap siap pulang, jadi buka hp untuk lihat lihat medsos dan bahas situasi lokal dan global dengan sesama rekan kerja. 9. Jam 16.55 sudah antri depan lift, biar tidak rebutan lift dengan pegawai lain. 10. Jam 17.00 melakukan tapping name tag di pintu keluar. Datang dan pulang tepat waktu.

edi hartono
Saya heran kalau membaca artikel disway lewat HP. Setiap dua kalimat yg sepanjang 1/3 layar akan diselingi iklan yg full memenuhi layar. Dua kalimat lagi dan akan diselingi deretan iklan lagi yg lebih memenuhi layar HP dibanding kalimat artikelnya nya. Saya pernah buka disway lewat laptop tampilannya lebih menarik. Tetapi yg tampilan HP tdk menarik sama sekali. Artikel mungkin menarik, tetapi penampakan iklan seperti itu membuat gak minat untuk buka2 artikel lan selain catatan harian dahlan, yg tampilan iklan nya dibikin beda.

Jokosp Sp
Sudah diprediksi akan tidak lama, karena : 1. Stop eksport tidak akan populer, malah menurunkan reputasi presiden 2. Presiden akan kalah dengan produsesn dan distributor, buktinya pabrik stop beli TBS dari petani dan cukup mengolah dari TBS kebun sendiri 3. Presiden pasti akan dikomplain oleh negara lain dampak dari stop eksport ( pelanggaran pasar bebas ) 4. Petani Sawit yang akan terkena dampak secara langsung, terbukti harga TBS langsung anjlog/ terjun harganya. 5. Harga minyak goreng tidak akan turun, karena produsen dan distributor selalu menyimpan dan menahan produksinya. 6. Tindakan tegas aparat tidak sampai ke akar masalah korupsi dan nepotismenya, terbukti perusahaan stop beli TBS petani tidak ada antisipasi dan tindakan lanjutannya. Jadi kesimpulannya : lebih penting reputasi dibanding kesejahteraan rakyat dan petani. Dan akhirnya para produsen dan distributor yang menari - nari. Silahkan minum lagi sampai teler, agar lebih gag peduli.

Johannes Kitono
Setiap orang bisa bikin keputusan yang salah termasuk Presiden Jokowi. Yang dengan sportip telah mencabut keputusan Sapu Jagatnya. Silahkan ekspor lagi CPO dan turunannya.Ditahannya LCW yang konsultan oleh Kejagung justru bisa jadi masalah besar. Seorang konsultan biarpun andal yang membuat keputusan tetap Dirjen atau Menterinya. Nanti para pakar yang jadi nara sumber akan mogok bicara dan membisu. Ketika diminta pendapatnya. Takut di tangkap oleh Polisi atau Jaksa. Apa kata dunia kalau seorang konsultan ekonomi saja harus masuk penjara. Gegara hanya kasih opini saja. Lebih baik Jaksa segera membebaskan LCW dari pada ramai ramai diprotes oleh Asosiasi Konsultan se Dunia. Petani sawit saja protes keputusan Sapu Jagat. Kemana perginya rekan rekan dan kolega LCW ? Ayo protes dan pasti diliput Disway.

Budi Utomo
Hanya tidak tengil seperti Kwik Kian Gie alias Guo Jian Yi 郭建 (baca: Kuo Chien I). Marganya sama dengan Aaron Kwok bintang film Hongkong yang terkenal itu. Jian sama seperti Jian dari provinsi Fujian 福建 alias Hok-kian. Yi artinya kebenaran / truth. Kebenaran dalam lingkup membela wong cilik / rakyat jelata. Bukan kebenaran dalam arti spiritual/rohani. Nama adalah sebuah doa. Dan benar selama era Orde Baru, Kwik Kian Gie adalah orang Tionghoa yang berani melawan konglomerat kroni Suharto yang suka menindas pengusaha kecil dan rakyat kecil. Saya rajin mengikuti tulisannya di Kompas kala itu. Abah menjulukinya TENGIL mungkin gegara Kwik kemudian beralih ke KMP (Koalisi Merah Putih yang diplesetkan di medsos jadi KaMPret alias Kelelawar) Prabowo-Sandiaga. Lawan Jokowi. Hmmm. Salam. Budi Utomo.

Dwiyana Iskandarsyah
Konsultan kan cuma memberi saran. Penanggung-jawabnya tetap pengambil keputusan dong..

Otong Sutisna
Mungkin karena tulisan abah tentang minyak goreng terlalu sering, perhatian saya malah pada iklan "otong 10 cm", apakah karena sering di oles migor jadi nambah 10 atau tulisan ini sangat seksi jadi bakal banyak yang komen sehingga iklan nya makin nambah....kedepan nama saya mau di paten kan ah....

bagus aryo sutikno
REPUTASI itu berarti asi'nya dah keriput, sudah kadaluwarsa, perlu olesan minyak kadal. Sehingga akhirnya bisa RE PUT asi kembali.

Mirza Mirwan
Dalam Bahasa Jawa ada "unen-unen", semacam ungkapan, yang berbunyi: "Melik nggendhong lali". Didorong hasrat untuk memperoleh keuntungan pribadi secara mudah seseorang cenderung melupakan prinsip-prinsip yang semula diperjuangkannya. Kemarin, JAM Pidsus, Febrie Ardiansyah, membeberkan apa saja kesalahan Lin Che Wei (LCW) hingga ia dijadikan tersangka ke-lima dalam kasus mafia minyak goreng. Pembaca bisa membaca beritanya di portal Detik, Kompas, Tempo, dsb. Kesalahan LCW antara lain: 1) Sejak Januari 2022, LCW sudah tidak punya jabatan apa-apa di Kemendag. Tetapi ia masih ikut setiap rapat yang membahas CPO. 2) Meski bukan pejabat Kemendag, dalam hal ini Ditjen Daglu, LCW ikut mengatur kuota ekspor untuk perusahaan eksportir CPO dan minyak goreng. 3) Kejagung punya bukti pembayaran dari tiga perusahaan eksportir yang petingginya sudah dijadikan tersangka, dalam kapasitas sebagai konsultan. Selebihnya, silahkan baca sendiri. "Melik nggendhong lali" bisa mengubah seorang yang idealis melupakan idealismenya ketika rejeki nomplok berada di depan mata. Persetan dengan idealisme!

bagus aryo sutikno
Di jawa ada istilah LI CENG WE. Suatu kondisi yg diidan2kan para istri. Anda ndak bisa nggogle u cari arti li ceng we. Anda kudu rajin ke warung kopi. LI CENG WE. Hahahahahaha

Budi Utomo
Lin Che Wei. Hmmmm. Saya surfing di internet tidak ketemu aksara Mandarinnya. Kalau Lin Che Wei adalah pinyin maka tebakan saya adalah 彻伟. Che artinya penetrate atau menembus. Wei artinya extraordinary / luar biasa atau great / agung. Nama adalah sebuah doa. Che Wei adalah orang yang diharapkan orangtuanya bisa menembus SESUATU secara luar biasa besarnya. Sesuatu itu apalagi kalau bukan takhta dan harta. Demikian tebakan saya. Kalau salah mohon dimaafkan. Salam. Budi Utomo

LiangYangAn 梁楊安
ah... kadang-kadang saya suka ber-praduga kurang baik, kalau saya perhatikan, biaya pesta demokrasi di tanah air tercinta ini terlalu mahal, kadang terpikir oleh saya dari mana sumber dananya, bagaimana mendapatkannya, dst, dst. sementara itu di lain sisi ada beberapa kasus yang menyangkut uang dalam jumlah besar justru disekitaran waktu pesta demokrasi tersebut, misalnya saja kasus bank bali dan kasus bank century (kalau saya tidak salah baca). masalah minyak goreng sekarang ini juga menyangkut uang dalam jumlah yang besar (kalau saya tidak salah memperkirakannya). bukankah nuansa pesta demokrasi pun sudah mulai hingar-bingar (kalau saya tidak salah mengamatinya). hanya saja, sayang sekali saya tidak menemukan "rumus biaya murah untuk pesta demokrasi" dalam teori fisika, hahahahaha... ada-ada saja. juga "jembatan Einstein-Rosen" sebagai jalan pintas melalui suatu lorong panjang yang menghubungkan 2 wilayah dari ruang-waktu yang jauh, tidak bisa menjelaskan perjalanan dari sumber dana ke kontestan pesta demokrasi itu. ah... saya sampai lupa, karena memang sudah dibantah oleh John Wheeler dan Robert Fuller bahwa Wormhole dari Jembatan Einstein-Rosen itu tidak stabil. hahahahaha... rupanya hari ini saya benar-benar lagi error... mungkin error 401 seperti yang muncul di disway. L.Y.An

bagus aryo sutikno
Ayooo duduk betsama memecahkan masalah. Kalau tak selesai juga, kadang masalah kudu diselesaikan dengan tidur bersama.

ASLI HD
Sy suka share artikel DISWAY ke alumni SMP , SMA yg sy anggap berpikirnya level sarjana, yg bikin kaget sy adalah tanggapan dr beberapa mereka ( tdk semua sih..?), yaitu , sdh lah gak usah mikir yg berat2 , share info yg ringan2 sj , bikin rukun antar temen2 alumni. Biarin aja, masalah ini sdh ada yg ngurusi..???? Simple dan sederhana sekali, (menurut mereka...?)

Juve Zhang
Apa posisi LCW di kementrian sehingga "kebijaksanaannya" sangat " berguna" bagi Kementrian, kembali ke Dunia Setan di Lingkaran Setan, Mentrinya Petugas Partai karena diu disorongkan oleh partai, Partai alasannya perlu "amunisi" buat hajatan rutin 5 tahunan. Datanglah LCW sebagai "petugas " Taipan, yg konon menerima Milyaran Rupiah per bulan sesuai temuan Kejaksaan, logika membawa kita Milyaran itu kemana saja, anda pasti tahu. Yg hebat juga tak ada hitam diatas Putih atas "penugasan" ke LCW baik dari Taipan maupun Menteri, artinya secara hukum ,LCW aman aman saja, raut muka tenang saja, tinggal cari pengacara handal. Fenomena petugas Taipan ini banyak di Nusantara ini yang penting REPUTASI anda . Bisa tutup mulut rapat rapat bawa sampai mati tugasnya mirip agen Spionase, mati pun tak akan diakui negara ,konon ceritanya. Anda kenal " konglomerat" dengan nama Handy Talky, pasti kan. Anda kenal "konglomerat" Prasasti Panghegar? Kenal kan, ada lagi beberapa yg terkenal di dunia per Tugas an ini, yg heboh ROYCE gracie yg disebut Petugas Partai semestinya dan seharusnya Petugas Rakyat, beliau rendah hati, otak brilian , sepenuh hati buat Rakyat, yg men juluki Royce Gracie Petugas Partai jelas senang Tepuk Dada sendiri ,artinya Hebat loh saya . Teman beliau pasti juga tukang tepuk dada sendiri, yg konon akan laju ke 2024. Selamat memilih yg rendah hati, sepenuh hati buat rakyat Indonesia.

Jimmy Marta
Keputusan yg cepat berubah. Ini sy pikir seperti dokter yg keliru diagnosanya. Salah kasih resep. Hingga pasien datang mengeluh sakitnya gk sembuh2. Walau dah berkunjung berulang kali. Analisa saya sama dg bbrp disway rider lainnya.Gak ada salahnya kasih resep generik pajak. Naikkan pajak ekspor. pajak durian runtuh itu. Kalau untuk lcw ini analisa sy, ia adalah konsultan perkawanan. Pemberi saran masukan sekaligus penghubung. Antara regulator dan oligarki. Keluar aturan pemerintah terkesan tegas. Namun 'kawan' tidak tersinggung.

Sumber:

Komentar: 153

  • Komentator Spesialis
    Komentator Spesialis
  • thamrindahlan
    thamrindahlan
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • Legeg Sunda
    Legeg Sunda
  • Komentator Spesialis
    Komentator Spesialis
    • Akagami Shanks
      Akagami Shanks
    • Komentator Spesialis
      Komentator Spesialis
    • Liam Then
      Liam Then
  • Akagami Shanks
    Akagami Shanks
    • Akagami Shanks
      Akagami Shanks
  • Ujang Wawa
    Ujang Wawa
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
    • Komentator Spesialis
      Komentator Spesialis
    • Akagami Shanks
      Akagami Shanks
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
  • Agus Suryono
    Agus Suryono
  • Akagami Shanks
    Akagami Shanks
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Agus Suryono
    Agus Suryono
  • Agus Suryono
    Agus Suryono
  • Tom Hardy
    Tom Hardy
  • Niar Subarkah
    Niar Subarkah
  • agus budiyanto
    agus budiyanto
  • Djokher Djokhers
    Djokher Djokhers
  • Jimmy Marta
    Jimmy Marta
  • Kang Sabarikhlas
    Kang Sabarikhlas
    • Komentator Spesialis
      Komentator Spesialis
  • bagus aryo sutikno
    bagus aryo sutikno
    • Komentator Spesialis
      Komentator Spesialis
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Jimmy Marta
    Jimmy Marta
  • Hardiyanto Prasetiyo
    Hardiyanto Prasetiyo
    • Tom Hardy
      Tom Hardy
    • Jimmy Marta
      Jimmy Marta
  • Agus Suryono
    Agus Suryono
  • Jimmy Marta
    Jimmy Marta
  • ALI FAUZI
    ALI FAUZI
  • Agus Suryono
    Agus Suryono
    • Agus Suryono
      Agus Suryono
    • Liam Then
      Liam Then
  • DeniK
    DeniK
  • Agus Suryono
    Agus Suryono
  • Gito Gati
    Gito Gati
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
  • Jimmy Marta
    Jimmy Marta
  • Sastra Boenjamin
    Sastra Boenjamin
  • Yea A-ina
    Yea A-ina
    • Yea A-ina
      Yea A-ina
    • Dede Kosasih
      Dede Kosasih
  • Tom Hardy
    Tom Hardy
    • Tom Hardy
      Tom Hardy
    • Jimmy Marta
      Jimmy Marta
    • Macca Madinah
      Macca Madinah
    • Macca Madinah
      Macca Madinah
  • Komentator Spesialis
    Komentator Spesialis
    • Komentator Spesialis
      Komentator Spesialis
    • Otong Sutisna
      Otong Sutisna
    • Tom Hardy
      Tom Hardy
  • Macca Madinah
    Macca Madinah
    • Jimmy Marta
      Jimmy Marta
    • Macca Madinah
      Macca Madinah
    • Macca Madinah
      Macca Madinah
  • Muchammad Lutfi Asyari
    Muchammad Lutfi Asyari
  • Muchammad Lutfi Asyari
    Muchammad Lutfi Asyari
  • Komentator Spesialis
    Komentator Spesialis
  • Komentator Spesialis
    Komentator Spesialis
  • Ketut Ngurah Noka
    Ketut Ngurah Noka
    • Jimmy Marta
      Jimmy Marta
  • DeniK
    DeniK
  • Abdul Wahib
    Abdul Wahib
  • DeniK
    DeniK
  • Vaksin Bucin
    Vaksin Bucin
  • Mister Xi
    Mister Xi
    • Mister Xi
      Mister Xi
    • Mister Xi
      Mister Xi
    • Mister Xi
      Mister Xi
    • Mister Xi
      Mister Xi
    • Cah kene ae
      Cah kene ae
    • Jimmy Marta
      Jimmy Marta
    • Abu Abu
      Abu Abu
    • Anwarul Fajri
      Anwarul Fajri
  • Vaksin Bucin
    Vaksin Bucin
  • Tom Hardy
    Tom Hardy
    • Tom Hardy
      Tom Hardy
    • DeniK
      DeniK
  • Er Gham
    Er Gham
    • Jimmy Marta
      Jimmy Marta
    • Er Gham
      Er Gham
    • Er Gham
      Er Gham
  • Dodik Wiratmojo
    Dodik Wiratmojo
  • Dodik Wiratmojo
    Dodik Wiratmojo
  • Muin TV
    Muin TV
  • Hardiyanto Prasetiyo
    Hardiyanto Prasetiyo
  • Hardiyanto Prasetiyo
    Hardiyanto Prasetiyo
  • Budi Utomo
    Budi Utomo
  • Akagami Shanks
    Akagami Shanks
  • Giyanto Cecep
    Giyanto Cecep
    • Komentator Spesialis
      Komentator Spesialis
    • Vaksin Bucin
      Vaksin Bucin
  • edi hartono
    edi hartono
    • Jimmy Marta
      Jimmy Marta
  • Lukman bin Saleh
    Lukman bin Saleh
    • Purnomo Inzaghi
      Purnomo Inzaghi
    • Komentator Spesialis
      Komentator Spesialis
    • DeniK
      DeniK
    • Vaksin Bucin
      Vaksin Bucin
    • Lukman bin Saleh
      Lukman bin Saleh
    • Komarudin Setiono
      Komarudin Setiono
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • omami clan
    omami clan
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Eko Hariyanto
    Eko Hariyanto
  • mzarifin umarzain
    mzarifin umarzain
  • Wawan Wibowo
    Wawan Wibowo
    • yafni alris -husin
      yafni alris -husin
    • Lukman bin Saleh
      Lukman bin Saleh
  • jobs 28
    jobs 28
  • Abu Abu
    Abu Abu
    • Abu Abu
      Abu Abu
  • jobs 28
    jobs 28
  • alasroban
    alasroban
  • JIM vsp
    JIM vsp
  • DeniK
    DeniK
  • mzarifin umarzain
    mzarifin umarzain
  • Mister Xi
    Mister Xi
    • yafni alris -husin
      yafni alris -husin
  • Mister Xi
    Mister Xi
    • Mister Xi
      Mister Xi
    • Azza Lutfi
      Azza Lutfi
  • mzarifin umarzain
    mzarifin umarzain
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • Liam Then
      Liam Then
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
    • mzarifin umarzain
      mzarifin umarzain