Dimodali Joe Biden Rp 5 Triliun G20 Paksa Tiongkok Boikot Rusia

Dimodali Joe Biden Rp 5 Triliun G20 Paksa Tiongkok Boikot Rusia

Ilustrasi: Joe Biden, Vladimir Putin dan Xi Jinping-Syaiful Amri/Disway.id-disway.id

UKRAINA, POSTINGNEWS.ID - Pasukan Ukraina berjuang menahan serangan Rusia di beberapa medan tempur.

Perjuangan itu dilakukan ketika Amerika Serikat, setelah pertemuan para menteri luar negeri G20, menekan China agar mendukung Barat dalam menentang invasi.

Sebuah serangan rudal di Kharkiv, kota di timur laut Ukraina, melukai tiga warga sipil, kata gubernur wilayah setempat, meskipun serangan utama Rusia tampaknya terfokus di tenggara Kharkiv di Luhansk dan Donetsk.

Kedua provinsi itu, yang sebagian besar sudah dikuasai oleh separatis pro Rusia sebelum invasi Rusia pada Februari, membentuk wilayah industri Donbas di bagian timur.

BACA JUGA:Tiongkok Ungkap Amerika adalah Ancaman Terbesar Perdamaian Dunia, Buntut Laporan FBI dan M15

Para pejabat Ukraina melaporkan serangan di kedua provinsi itu pada Sabtu, sementara Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan dalam buletin reguler bahwa Moskow sedang mengumpulkan pasukan cadangan dari seluruh Rusia di dekat Ukraina.

Gubernur Donetsk Pavlo Kyrylenko mengatakan lewat Telegram bahwa sebuah rudal Rusia telah menyerang Druzhkivka, sebuah kota di belakang garis depan pertempuran, dan melaporkan penembakan artileri di pusat-pusat permukiman penduduk.

Gubernur Luhansk Serhiy Gaidai mengatakan di Telegram bahwa pasukan Rusia menembak di sepanjang garis depan, tetapi kemudian mengatakan serangan balik Ukraina telah menghantam gudang senjata dan amunisi Rusia dan memaksa Moskow untuk menghentikan serangannya.

Rusia, yang mengeklaim menguasai seluruh provinsi Luhansk akhir pekan lalu, membantah menargetkan warga sipil.

BACA JUGA:M15 serta FBI Ungkap Ancaman Tiongkok Terhadap Amerika dan Inggris Semakin Parah

Pada Jumat, Ukraina telah memohon lebih banyak senjata canggih dari Barat yang menurut Kiev sejauh ini membantunya memperlambat pergerakan pasukan Rusia.

Beberapa jam kemudian, Presiden AS Joe Biden menandatangani paket senjata baru untuk Ukraina senilai hingga 400 juta dolar AS (Rp 5,99 triliun), termasuk 4 sistem roket artileri mobilitas tinggi (HIMARS) tambahan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berterima kasih kepada Biden atas bantuan persenjataan itu yang menurutnya merupakan kebutuhan prioritas.

“Persenjataan inilah yang membantu kami menekan musuh,” katanya di Twitter.

Sumber: reuters

Berita Terkait