Begini Strategi Asset Recycling di 5 Bandara yang Dikelola Angkasa Pura II

Begini Strategi Asset Recycling di 5 Bandara yang Dikelola Angkasa Pura II

Menhub Budi Karya Sumadi dalam kunjungan ke Soetta, Sabtu 22 Juli 2023. Bandara tersibuk di Asia Tenggara tersebut mengalami perluasan untuk menambah kapasitas penumpang-Kemenhub-

BACA JUGA:Anak Buah Rian Mahendra di PO MTI Pasang Basuri, Ternyata Sopir Bus PO Haryanto Sudah Duluan

Selain itu, aset tanah dimanfaatkan untuk pembangunan Terminal 4 pada 2025 - 2027 dan Cargo Village. 

“Tujuan dari Asset Recycling di Bandara Soekarno-Hatta adalah peningkatan kapasitas sehingga Bandara Soekarno-Hatta bisa melayani 120 juta penumpang per tahun dan mengakomodir 1,5 juta - 2,2 juta ton angkutan kargo. Selain itu, passenger experience juga meningkat sejalan dengan pengembangan fasilitas layanan,” ujar Muhammad Awaluddin. 

Sementara di 4 bandara lainnya yakni Sultan Mahmud Badaruddin II, Minangkabau, Sultan Syarif Kasim II dan Supadio, disiapkan revitalisasi dan pengembangan kapasitas bandara serta peningkatan bisnis non-aero.

Implementasi asset recycling di lima bandara tersebut direncanakan dengan menggunakan skema kemitraan strategis antara AP II dengan mitra. 

“Di Bandara Soekarno-Hatta dilakukan kemitraan strategis antara AP II dengan Indonesia Investment Authority (INA),” ungkap Muhammad Awaluddin.

BACA JUGA:Pengelola Bandara Angkasa Pura II Cetak Pendapatan Rp 2,75 Triliun

Muhammad Awaluddin menuturkan di dalam menjalankan kemitraan strategis, AP II mempertimbangkan 5 hal, yaitu:

Pertama, kemitraan strategis harus memiliki tujuan utama (key objectives) yang kuat dan berdasarkan analisa menyeluruh. Contoh dari key objectives antara lain untuk aspek finansial, aspek operasional bandara dan aspek keahlian. 

Kedua, asset recycling pada brownfield asset dilakukan juga untuk mendukung pendanaan dalam mengembangkan atau membangun aset baru. 

Ketiga, asset recycling pada brownfield asset, semisal terminal penumpang, pada tahap awal harus diprioritaskan untuk menambah kapasitas. 

Keempat, asset recycling dengan kemitraan strategis di bandara harus ditetapkan apakah di aset tertentu atau secara keseluruhan.

Kelima, sebelum program asset recycling dijalankan, harus ada informasi jelas dari stakeholder khususnya yang akan bersinggungan langsung, misalnya: informasi terkait konektivitas transportasi darat dan pembangunan wilayah sekitar bandara. 

BACA JUGA:Momen Bos MTI Rian Mahendra Bisiki Livia Pimpinan Bus Sambodo Ingin Nebeng Ruang Tunggu Ekslusif

Muhammad Awaluddin menambahkan bahwa skema kemitraan strategis ini juga memastikan seluruh aset tetap berada di bawah kuasa AP II.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: