Hari Toleransi Dunia, Kerukunan Beragama dan Filosofi Negara Ideal
Miftah Maulana Habiburrahman, Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan dan Pembinaan Sarana Keagamaan.-FB-
Negeri Darussalam yang diwariskan oleh Walisongo adalah cerminan dari Madinah Munawwarah yang didirikan oleh Nabi pada 1 Hijriyah/622 Masehi.
Rasulullah SAW mengubah Kota Yatsrib yang dikuasai oleh semangat kesukuan, fanatisme, dan konflik sosial menjadi kota “Yang-Tercerahkan” alias Al-Munawwarah, yang menjunjung tinggi toleransi, moderasi, dan koeksistensi. Yahudi, Nashrani, dan Islam hidup harmonis di Madinah.
Kabinet Merah Putih yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto membentuk Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan, tiada lain untuk mengembalikan tatanan sosial yang ideal, harmonis, toleran, moderat, harmonis, sehingga koeksistensi berlangsung dengan damai.
Dengan begitu, kerukunan beragama secara aksiologis adalah untuk membangun bangsa dan negara yang harmonis nan ideal.
Dalam konteks semacam inilah, Filsuf Yunani Plato menawarkan konsep Pemerintahan Ideal, yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan. Sebuah negara akan menjadi negara ideal apabila pemikiran-pemikiran filosofis, kebijaksanaan, budipekerti dan keluhuran membimbing setiap kebijakan politik. Dalam bimbingan semangat kerukunan beragama tersebut, bapak presiden membentuk UKP untuk mewujudkan sebuah tatanan pemerintahan yang ideal.
*) Miftah Maulana Habiburrahman, Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan dan Pembinaan Sarana Keagamaan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: