Kekosongan Obat Pasien Transplantasi Ginjal Imbas Efisiensi? Ini Kata Kemenkes
Kekosongan Obat Pasien Transplantasi Ginjal Imbas Efisiensi? Ini Kata Kemenkes-Disway/Annisa Zahro-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Para pasien gagal ginjal yang telah melakukan transplantasi mengeluhkan sejumlah obat-obatan yang kosong.
"BPJS mengatakan kekosongan obat itu sudah ditangani, tetapi faktualnya memang sering terjadi kekosongan stok obat di fasilitas kesehatan," ungkap Ketua Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) Tony Samosir pada diskusi publik di Jakarta, 11 Maret 2025.
BACA JUGA:Kemenkes Jawab isu Kekosongan Obat Pasca Transplantasi Ginjal
BACA JUGA:BPJS Kesehatan Ungkap Peningkatan Pasien Gagal Ginjal Kronis, Ini Pemicunya
Padahal obat ini sangat penting untuk memastikan peluang hidup para pasien pascaoperasi.
Bahkan, tak jarang para pasien tersebut saling pinjam obat ketika ada stok dan kekosongan obat.
"(Pasien) dari Semarang itu hubungi saya (tanya ketersediaan obat). Di Semarang itu sudah tidak ada, terpaksa saya mengirimkan ke Semarang. Tapi saya bilang, nanti kalau sudah ada kembalikan lagi karena saya juga butuh. Jadi kami di grup sering tolong-menolong," ungkapnya.
BACA JUGA:Sayangi Ginjalmu, Pentingnya Konsumsi Air Murni untuk Detoks Selama Puasa
BACA JUGA:Razman Curiga Hotman Paris Idap Penyakit Lain Selain Abses Hati, Sakit Jantung dan Ginjal
Selain itu, pihaknya juga menyoroti pergantian obat yang bisa di-cover BPJS Kesehatan, seperti tacrolimus originator menjadi non-originator yang lebih murah.
Hal ini, menurut survei KPCDI, kualitas tacrolimus non-originator menimbulkan permasalahan baru.
Survei terhadap 23 pasien transplantasi ginjal, kadar kreatin 39 persen pasien setelah konsumsi tacrolimus non-naik.
Bahkan, 13 persen di antaranya mengalami kenaikan melampaui batas normal.
Kemudian juga 52 persen pasien mengalami efek samping setelah mengonsumsi tacrolimus non-originator.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: