OLAHRAGA SULTAN, LADANG CUAN

OLAHRAGA SULTAN, LADANG CUAN

Padel, olahraga raket yang memadukan elemen tenis dan squash kini menjadi primadona.-dhimas fin-

Teknik Pukulan & Penggunaan Otot Lengan: Pukulan yang salah dapat menyebabkan cedera bahu (rotator cuff injury) atau siku (tennis elbow).

Dampak pada Persendian (Jumping & Landing): Setiap pendaratan menciptakan dampak pada sendi lutut dan pergelangan kaki, memicu peradangan atau cedera degeneratif.

Benturan dengan Dinding atau Rekan: Risiko memar, benturan kepala, atau cedera ekstremitas akibat kecepatan bola dan pemain.

Khusus penderita riwayat jatuh atau masalah sesak napas kronis, Padel menuntut perhatian ekstra. 

"Padel adalah olahraga yang menuntut perubahan arah mendadak. Akselerasi, deselerasi cepat dan reaksi instan. Ini sangat menguji sistem keseimbangan,"  kata spesialis paru dan ahli rehabilitasi medik, dokter Karina Dewi. 

Risiko utamanya adalah peningkatan cedera serius. Seperti cedera kepala, patah tulang, atau cedera ligamen parah jika jatuh di lapangan keras atau bertabrakan dengan dinding kaca.

Diciptakan di Amerika Latin, Berkembang di Bali

Padel, diciptakan sejak 1969 oleh Enrique Corcuera dari Meksiko. Namun baru ngetren di Indonesia dalam dua hingga tiga tahun terakhir. 

Popularitas mulai meroket pasca-pandemi COVID-19. Ini ketika masyarakat mencari alternatif aktivitas fisik yang menyenangkan. Namun tetap aman.

Di Indonesia Padel pertama kali berkembang pesat di Bali. Hal itu disampaikan Head Coach Padel Pro, Sunu Wahyu Trijati. 

Ini tidak mengherankan. Mengingat Bali adalah destinasi wisata favorit bagi turis asing. Termasuk dari Amerika Latin—wilayah asal mula padel.

 "Sebenarnya padel ini awalnya banyak di Bali dulu ya. Karena Bali banyak international people, banyak bule-bulenya. Jadi mungkin dari Bali yang pertama menyesuaikan untuk olahraga yang awal mulanya dari Amerika Latin ini untuk bisa dimainkan di Asia. Khususnya di Indonesia," terang Sunu Wahyu  saat dikonfirmasi Disway di Jakarta pada Rabu, 16 Juli 2025.

Dari Bali, tren Padel menyebar ke Jakarta. Menarik minat masyarakat luas hingga melahirkan julukan "FOMO" bagi mereka yang tak ingin ketinggalan tren olahraga ini. 

Padel sukses mencuri perhatian berkat karakteristiknya yang unik dan mudah diakses.

Sunu Wahyu menjelaskan perbedaan esensial yang membuat Padel lebih digemari khalayak luas. Salah satunya  tidak membatasi usia pemain.

Selain itu, raket padel berbeda dari raket tenis. raket padel memiliki permukaan padat berlubang. Tanpa senar. Ukurannya sedikit lebih kecil. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads