Apindo: Perusahaan Tahan Ekspansi, PHK Meluas, Produktivitas RI Terendah di ASEAN

Apindo: Perusahaan Tahan Ekspansi, PHK Meluas, Produktivitas RI Terendah di ASEAN

Apindo: Perusahaan Tahan Ekspansi, PHK Meluas, Produktivitas RI Terendah di ASEAN-Disway/Bianca Chairunisa-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Kondisi geopolitik global yang tidak menentu memicu gelombang kekhawatiran di sektor industri Indonesia. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan banyak perusahaan kini memilih menahan ekspansi dan memperlambat proses rekrutmen.

Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, menyatakan lebih dari 50 persen perusahaan yang disurvei mengaku telah mengurangi jumlah tenaga kerja, dan sebagian besar masih berencana melakukan pengurangan lanjutan.

BACA JUGA:Justin Hubner Tantang Dean James di Laga Pembuka Eredivisie, Mauro Zijlstra Gacor Bersama Volendam Bikin 6 Gol

BACA JUGA:Real Madrid Menggila! Siap Pinang Ibrahima Konate dan William Saliba

“Banyak perusahaan akhirnya memilih fokus pada efisiensi dibanding mengambil risiko ekspansi. Rekrutmen melambat,” ujarnya dalam acara Dewas BPJS Menyapa Indonesia di Jakarta, Senin 28 Juli 2025.

Produktivitas RI Terendah di ASEAN

Menurut Shinta, produktivitas tenaga kerja Indonesia menjadi salah satu yang terendah di ASEAN, hanya USD 23,57 ribu per pekerja, jumlah tersebut diketahui lebih rendah dibanding rata-rata kawasan sebesar USD 24,27 ribu. Padahal, industri global kini bergerak ke arah otomatisasi dan digitalisasi.

“Transformasi industri belum diimbangi oleh peningkatan keterampilan. Ini menjadi alarm bagi sektor ketenagakerjaan,” tegasnya.

BACA JUGA:Manchester United Larang Cetak Nama Ronaldo, Beckham, dan Cantona di Jersey Resmi, Kenapa?

BACA JUGA:Kabar Gembira! Kemenkes Berikan Insentif Rp30 Juta untuk 1.100 Dokter Spesialis di Fasilitas Kesehatan Pemda

Selain itu, dirinya juga menyoroti minimnya penciptaan lapangan kerja baru, padahal banyak sektor tengah mengalami gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Kelas Menengah Menyusut, Konsumsi Melemah

Shinta menyampaikan bahwa dalam lima tahun terakhir, kelas menengah Indonesia menyusut hingga 9,5 juta orang. Padahal, kelompok ini menjadi penopang utama konsumsi nasional.

Di sisi lain, pelaku industri dibebani lonjakan harga energi, bahan baku, serta fluktuasi nilai tukar. Biaya tenaga kerja meningkat, namun tidak dibarengi oleh produktivitas yang memadai. Sementara itu, struktur manufaktur nasional masih menghadapi persoalan di sektor logistik dan rantai pasok.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads