Danantara Siap Lampaui Temasek & Khazanah
DANANTARA Indonesia mengonsolidasikan 844 BUMN. Selaku sovereign wealth fund (SWF), diprediksi bakal melampui Temasek dan Khazanah.-dhimas fin-
"Trust publik mulai muncul terutama karena tim manajemen yang didominasi oleh sosok profesional," ucap Samirin kepada Disway.id pada Rabu, 30 Juli 2025.
Ini adalah pengakuan atas kualitas jajaran pimpinan Danantara yang diisi individu-individu berintegritas dan berpengalaman.
"Yang terpenting, Danantara harus memperkuat terus trust tersebut. Caranya menjaga transparansi dan profesionalisme," lanjutnya.
Samirin secara tegas menyarankan Danantara harus berani menolak adanya intervensi politik atau kepentingan individu yang berpotensi menyebabkan penyelewengan dana.
Ini adalah tantangan terbesar bagi entitas yang memiliki hubungan erat dengan pemerintah.
“Misalnya pemberian pinjaman kepada Kopdes (Koperasi Desa) oleh bank Himbara. Ini harus tetap menjalankan prinsip-prinsip analisa kredit yang professional. Dukungan program 3 juta rumah pun harus sesuai dengan kaidah investasi yang menjunjung tinggi good governance," tegas Samirin.
Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya objektivitas dan prinsip bisnis yang sehat dalam setiap keputusan investasi. Terlepas dari tekanan eksternal.
Potensi penyelewengan dana serta risiko lainnya memang tidak bisa diabaikan. Karena itu, Samirin menyarankan Danantara Indonesia harus berhati-hati dalam pemilihan investasi dan struktur organisasi di dalamnya.
"Risiko politisasi sangat besar. Dalam hal ini, Danantara harus benar-benar menjunjung tinggi merit system," terangnya.
Penekanan pada merit system (sistem meritokrasi) adalah jaminan penempatan posisi didasarkan pada kompetensi dan kinerja. Bukan faktor politis.
Mendongkrak Aset dan Efisiensi BUMN
Selain isu transparansi Samirin juga mengidentifikasi tiga tantangan utama yang menanti Danantara:
Aset Bernilai Tinggi yang Tidak Produktif:
Banyak BUMN memiliki aset fisik yang nilainya sangat tinggi. Namun tidak dimanfaatkan secara optimal. Bahkan terbengkalai. Contoh kawasan Gelora Bung Karno (GBK). Meskipun ikonik, namun belum mencapai potensi produktivitas ekonominya secara maksimal. Tantangan Danantara adalah bagaimana mengidentifikasi aset-aset tidur ini dan mengubahnya menjadi mesin pencetak nilai ekonomi.
BUMN Kurang Sehat, Butuh Restrukturisasi:
Beberapa BUMN berada dalam kondisi finansial kurang sehat. Bahkan memerlukan restrukturisasi segera. Kasus seperti Garuda Indonesia, BUMN Karya (konstruksi) dan BUMN Farmasi adalah contoh riil. Penanganan BUMN "sakit" dapat membebani keuangan Danantara di awal. Namun restrukturisasi yang berhasil akan menjadi kemenangan besar dan fondasi bagi pertumbuhan jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: