Memahami Keragaman Tradisi Pesantren
Tantan Hermansah (Ketua Prodi Magister KPI UIN Jakarta; Menulis Tesis tentang Tradisi Pesantren)--Dok pribadi
Tradisinya tidak universal, melainkan berakar pada konteks sosialnya masing-masing.
Keragaman tersebut muncul dari banyak faktor, dan salah satu yang paling menonjol adalah figur kiai.
Dalam kehidupan pesantren, kiai bukan hanya guru.
Ia adalah tokoh spiritual, pemimpin sosial, bahkan simbol keberkahan.
Dalam banyak penelitian, peran kiai kerap disebut sebagai agen budaya.
BACA JUGA:Menag Nasaruddin Umar Prihatin Tayangan Xpose Uncensored Lecehkan Pesantren: Saya Sangat Sedih
Ia membentuk dan sekaligus dibentuk oleh struktur pesantren, sebagaimana dijelaskan dalam kerangka duality of structure oleh Anthony Giddens.
Posisi kiai begitu sentral, bukan karena ia menuntut kuasa, melainkan karena masyarakat dan santri menempatkannya sebagai panutan moral dan spiritual.
Tradisi sedekah kepada kiai, misalnya, sering disalahpahami sebagai praktik feodal atau bentuk kekayaan pribadi.
Padahal, di banyak pesantren tradisional, amplop atau sedekah itu bukanlah sumber akumulasi pribadi.
Banyak kiai justru menggunakan sumber daya tersebut untuk membangun sarana pondok, memperbaiki kobong, atau mencukupi kebutuhan santri.
Tidak jarang, kiai harus menjual aset pribadinya untuk menutup kekurangan biaya operasional pesantren.
Dalam situasi seperti ini, kesalahpahaman sering muncul dari luar.
Ketika melihat seorang kiai mengendarai mobil bagus, sebagian orang langsung menuduhnya mencari keuntungan pribadi.
Padahal kendaraan itu sering kali adalah amanah dari jamaah agar sang kiai dapat menjalankan peran dakwah dan pendidikan dengan lebih baik.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: