Memahami Keragaman Tradisi Pesantren
Tantan Hermansah (Ketua Prodi Magister KPI UIN Jakarta; Menulis Tesis tentang Tradisi Pesantren)--Dok pribadi
BACA JUGA:Mengenal Pondok Pesantren Lirboyo, Lengkap Sejarah dan Sosok Pendirinya
Di sinilah letak perbedaan cara pandang atau, dalam istilah Pierre Bourdieu, habitus antara komunitas pesantren dan masyarakat luar.
Tradisi penghormatan terhadap kiai juga sering ditafsirkan keliru.
Ketika santri menunduk atau menyentuh tangan kiai, sebagian pihak menyebutnya sebagai bentuk feodalisme.
Padahal dalam kerangka pemikiran Max Weber, tindakan ini adalah tindakan sosial bermakna—ekspresi penghormatan terhadap otoritas moral, bukan simbol penaklukan.
Tidak semua pesantren menerapkan bentuk penghormatan yang sama.
Ada pesantren yang sekadar menundukkan badan sedikit, ada pula yang membolehkan santri bersalaman tegak tanpa formalitas tertentu. Konteks lokal sangat mempengaruhi bentuknya.
Sejak lama, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menyebut pesantren sebagai sebuah subkultur.
Sebagai subkultur, pesantren memiliki sistem nilai, norma, dan tradisi internalnya sendiri.
Ia hidup berdampingan dengan kebudayaan nasional, tetapi juga memiliki cara unik dalam mengelola dan mereproduksi pengetahuan, spiritualitas, dan relasi sosial.
Karena itulah, pesantren mampu bertahan dari masa ke masa, beradaptasi dengan perubahan, tanpa kehilangan jati dirinya.
Keragaman tradisi pesantren bukanlah tanda ketidakteraturan, melainkan kekayaan sosial dan kultural Indonesia.
Ia adalah ruang tempat agama, budaya, ekonomi, dan politik lokal bertemu dan bernegosiasi.
Maka, setiap penilaian terhadap pesantren semestinya dilakukan dengan pemahaman kontekstual, bukan dengan kacamata dangkal.
Dialektika antara Kiai, jamaah, santri, dan masyarakat luas atau di sekitarnya, telah membentuk sebuah kultur tersendiri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: