Pelarangan Thrifting Picu Krisis: Konsumen Tetap Ramai, Pedagang Kecil Gulung Tikar
Kebijakan pemerintah yang menertibkan dan menghentikan impor pakaian bekas (thrifting) memunculkan gelombang keluhan dari para pedagang, terutama mereka yang menggantungkan mata pencaharian di pasar tradisional-disway.id/Bianca Khairunnisa-
JAKARTA, DISWAY.ID -- Kebijakan pemerintah yang menertibkan dan menghentikan impor pakaian bekas (thrifting) memunculkan gelombang keluhan dari para pedagang, terutama mereka yang menggantungkan mata pencaharian di pasar tradisional.
Meski langkah ini dimaksudkan untuk melindungi industri tekstil nasional, kondisi di lapangan menunjukkan kenyataan berbeda.
Pedagang kecil kini menghadapi situasi sulit karena kehilangan sumber pendapatan, sementara produk lokal yang mereka jual sulit bertahan di persaingan.
BACA JUGA:Membongkar Mafia Thrifting: 2 Modus Besar Penyelundupan Lewat Jalur Tikus hingga Manipulasi Dokumen
Nurhayati (45), pedagang pakaian di Pasar Senen, Jakarta Pusat, tampak menata tumpukan kaus lokal yang kini menjadi barang dagangannya.
Setelah larangan impor ketat diberlakukan, ia terpaksa beralih total ke produk baru, namun omzetnya menurun drastis.
“Dulu kalau jual thrifting impor, untung bersih bisa Rp5 sampai Rp7 juta per bulan. Barang cepat habis, pembeli ramai karena unik dan murah,” ujarnya kepada Disway.id, Selasa 18 November 2025.
Kini, ia nengaku pendapatannya merosot lebih dari 60%.
“Sekarang dapat Rp2 juta saja sudah Alhamdulillah. Pembeli nyari yang murah, tapi modal kami naik. Banyak teman saya di blok ini yang akhirnya tutup toko,” keluhnya.
BACA JUGA:Bukti MBG Jadi Multiplier Effect: Polri Bergerak, SOP Ditingkatkan, Limbah pun Berguna!
BACA JUGA:Mengawal MBG dari Hulu ke Hilir: Pengawasan Dapur Diperketat, Gizi Terjaga, Anak-anak Sehat!
"Sekarang, dapat Rp2 juta saja sudah syukur. Pembeli itu kalau nyari lokal, maunya yang benar-benar murah. Padahal modal kita naik terus. Sudah banyak teman saya di blok ini yang akhirnya tutup toko," tutur Nurhayati.
Kesulitan Menjual Produk Lokal: Kualitas dan Harga
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: