Densus 88 Ungkap 67 Anak Terpapar Ideologi Kekerasan: Ancaman Baru Terorisme Non-Agama
Densus 88 Antiteror menyatakan sebanyak 67 anak terpapar dan saat ini menjalani proses intervensi khusus berupa pemetaan psikologis dan pendampingan sosial-Disway.id/Rafi Adhi-
"SMAN 72 itu hanya satu di antara sekian banyak grup atau subgrup. Induknya berakar pada True Crime Community (TCC)," paparnya.
Ia menambahkan, sebelum insiden di SMAN 72, Densus sempat menggagalkan upaya serupa pada Oktober lalu, yang melibatkan seorang anak dengan keinginan menjadi pelaku kekerasan.
Tren Baru Terorisme: Sayap Kanan Non-Agama
Densus 88 menegaskan, ancaman terorisme saat ini tidak lagi hanya berbasis ideologi keagamaan.
Muncul tren baru berupa paham ekstrem sayap kanan non-agama, termasuk Neo-Nazi dan ideologi yang bersifat inkoheren atau campuran.
"Ancaman saat ini tidak hanya berbasis agama. Ada sayap kanan non-agama, bahkan ada yang hanya meniru (copycat) dari berbagai ideologi tanpa pemahaman utuh," sebutnya.
Ia menjelaskan, ideologi lama seperti Neo-Nazi mengalami metamorfosis dan menyebar lintas geolokasi akibat keterbukaan akses global.
BACA JUGA:Waspada! BNPT Beberkan Model Baru Perekrutan Paham Radikal: Anak-anak Jadi Target Baru!
Simbol seperti 'Natural Selection' yang muncul pada perlengkapan pelaku di luar negeri hingga kasus SMAN 72 disebut sebagai cerminan paham superioritas yang berujung pada proses dehumanisasi.
"Orang yang tidak terafiliasi dianggap bukan manusia. Ini yang mendorong kekejian-kekejian," tegasnya.
Dalam banyak kasus yang terdeteksi, sasaran kekerasan justru berada di lingkungan sekolah.
Densus menemukan adanya pola latar belakang personal yang bermasalah pada anak-anak yang terpapar.
"Kebanyakan ada sesuatu yang tidak normal dalam kehidupan anak. Bisa karena bullying di sekolah, lingkungan bermain, atau kondisi keluarga yang tidak baik-baik saja," ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat komunitas daring ekstrem menjadi rumah ideal bagi anak-anak yang merasa terasing.
Densus 88 menekankan pentingnya peran media dan masyarakat dalam pencegahan dini. Pasalnya, tidak semua kelompok ekstrem bisa terdeteksi aparat karena menggunakan akun anonim, nomor virtual, dan email tersembunyi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: