Prabowo Minta Hilirisasi Gambir Dipercepat, Produktivitas Petani Jadi Fokus

Prabowo Minta Hilirisasi Gambir Dipercepat, Produktivitas Petani Jadi Fokus

Presiden RI Prabowo Subianto saat meninjau produk gambir yang ditampilkan dalam booth Kementerian Pertanian yang didukung PTPN IV pada helatan panen raya dan pengumuman swasembada pangan Indonesia, di Karawang.-dok disway-

BACA JUGA:KPK Periksa Wakil Ketua DPRD Bekasi Terkait Kasus Bupati Nonaktif Ade Kuswara Kunang

“Gambir bisa menjadi berbagai bahan pangan seperti teh dan juga bahan baku kosmetik, sabun, sampo, hingga kebutuhan industri. Tanin nya bahkan digunakan sebagai bahan tinta pemilu. Ini menunjukkan betapa luasnya pemanfaatan gambir,” ujarnya.

Menurut Jatmiko, selama ini sebagian besar gambir Indonesia masih diekspor dalam bentuk bahan mentah. Akibatnya, nilai tambah justru dinikmati oleh negara lain yang mengolahnya menjadi produk jadi.

Karena itu, upaya hilirisasi dinilai menjadi langkah krusial agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat di dalam negeri.

Fokus Awal: Naikkan Produktivitas Petani

Lebih lanjut, Jatmiko menyebut bahwa langkah awal yang paling realistis adalah meningkatkan produktivitas gambir rakyat dari lahan yang sudah ada.

Saat ini, produktivitas gambir di tingkat petani masih tergolong rendah, berkisar sekitar 0,5 ton per hektare.

“Dengan pendekatan riset dan metode pengolahan daun gambir yang lebih baik, produktivitas itu bisa ditingkatkan menjadi 0,75 ton bahkan hingga 1 ton per hektare. Artinya, ada potensi peningkatan 50 sampai 100 persen. Dampaknya langsung ke pendapatan petani,” jelasnya.

BACA JUGA:Bukan Sekadar Makan Siang, Kemenkes Siapkan Terapi Medis Khusus untuk 18 Persen Anak Stunting

BACA JUGA:Terkuak Kronologi Pramugari Gadungan Batik Air Bisa Lolos dari Pemeriksaan Versi Polres Bandara Soetta

Ia menambahkan bahwa peningkatan produktivitas tersebut akan diperkuat dengan rencana pembangunan fasilitas pengolahan atau pabrik gambir, yang disesuaikan dengan hasil riset dan kebutuhan pasar. Langkah ini dinilai penting agar rantai nilai gambir tidak berhenti di tingkat bahan baku.

“Kita tidak bisa hanya membangun pabrik tanpa melihat pasar. Produk apa yang paling cepat diterima, punya permintaan kuat, dan berpeluang dikuasai pasar, itu yang harus kita dorong lebih dulu,” katanya.

Peneliti Unand: Keunggulan Alam Sumatera Sulit Ditandingi

Dari sisi akademik, Peneliti sekaligus Direktur Kerja Sama dan Hilirisasi Riset Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Dr.Eng Muhammad Makky, S.TP, M.Si, menegaskan bahwa gambir merupakan komoditas yang secara alami memiliki keunggulan geografis yang sangat spesifik.

“Secara geografis, Sumatera merupakan kawasan endemik tanaman gambir. Gambir tumbuh di Sumatera Barat, Sumatera Utara, sebagian Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau. Namun yang paling mendukung dari sisi kondisi abiotik dan ekosistemnya adalah Sumatera Barat dan Sumatera Utara,” jelas Dr. Makky.

Menurutnya, keunggulan tersebut menjadikan gambir sebagai komoditas yang sulit dikembangkan di negara lain. Namun, keunggulan alam saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas dan penguatan industri hilir.

BACA JUGA:El Clasico Persib vs Persija Dijaga Ketat, Polda Jabar Kerahkan 3 Ribu Personel Gabungan

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: