PPN 12% Bukan Sekadar Angka: Rakyat Menjerit, Industri Tercekik
Di balik cerita ibu rumah tangga, pedagang, dan pekerja yang mengencangkan ikat pinggang, kebijakan PPN 12% kini dipertanyakan secara lebih serius.--Bianca Khairunnisa
"Banyak "middle-low" (masyarakat hampir miskin) yang tidak terdata sebagai penerima bantuan namun sangat terdampak oleh inflasi akibat PPN 12 persen. Bagi masyarakat kategori low dan middle-low income, biasanya mereka akan memilih alternatif untuk "mengurangi porsi" atau "beralih ke merek termurah," ungkap Niti.
Menurutnya, jika bantalan sosial tidak mencakup kelompok rentan ini, maka kebijakan tersebut belum bisa dikatakan sepenuhnya tepat sasaran.
"Perlindungan konsumen di sini bukan lagi soal hak memilih, tapi soal aksesibilitas dan keterjangkauan harga," tegas Niti.
Tekanan yang dirasakan konsumen akibat kenaikan PPN 12% tidak berhenti pada pengeluaran harian semata.
BACA JUGA:Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Berikan Insentif PPN 6 Persen untuk Tiket Pesawat

dampak dari kenaikan PPN 12 persen tersebut juga turut menyelimuti sektor penjualan bahan pokok di pasaran.--Dimas Rafi
Dari keluhan konsumen ke tekanan industri
Ketika kelas menengah dan kelompok hampir miskin mulai menahan belanja, menunda transaksi, dan memangkas pengeluaran non-esensial, dampaknya merambat ke sektor yang selama ini menjadi penopang konsumsi jangka panjang.
Salah satu yang paling cepat merasakan efek domino tersebut adalah industri otomotif, di mana kenaikan harga akibat pajak membuat konsumen kian berhitung, cicilan membengkak, dan keputusan membeli kendaraan kerap ditunda.
Pengamat Ekonomi Andalas, Syafruddin Karimi merasa bahwa akan adanya tekanan yang diberikan terhadap industri otomotif bila pemerintah tetap menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Hal tersebut dikarenakan adanya kenaikan langsung pada pajak bagi konsumen kendaraan yang membuat industri otomotif terkena dampaknya secara cepat.
Menurutnya, dengan kenaikan PPN ini mengakibatkan harga on the road (OTR) kendaraan menjadi lebih melambung tinggi.
BACA JUGA:Ini Kunci Jawaban Post Test PPG 2025 Modul FPPN 1, 2, 3 yang Bisa Jadi Bahan Referensi Belajar
Dengan begitu akhirnya dapat berdampak pada naiknya nilai cicilan kredit yang dapat mempengaruhi pertumbuhan pasar, terutama konsumen yang sensitif terhadap besaran angsuran bulanan.
"Ketika PPN naik, pembeli cenderung menunda transaksi atau beralih ke mobil bekas. Ini bukan sekadar soal harga, tapi persepsi keterjangkauan," jelas Syafruddin saat dihubungi disway.id pada Sabtu, 10 Januari 2026.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: