Rupiah Anjlok Lagi, Kadin Dorong Pelaku Usaha Terapkan Kolaborasi Kerja Sama

Rupiah Anjlok Lagi, Kadin Dorong Pelaku Usaha Terapkan Kolaborasi Kerja Sama

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie.-Foto: Bianca/Disway.id-

JAKARTA, DISWAY.ID -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah. Berdasarkan data per Senin, 12 Januari 2026, rupiah anjlok 0,17 persen atau melemah 28 poin ke level Rp 16.847 per Dolas AS.

Efek dominonya terjadi tekanan cukup masif dan di berbagai sektor mengalami kekhawatiran, khususnya para pengusaha manufaktur.

Bukan tanpa alasan, anjloknya rupiah ini dapat berdampak pada beban biaya produksi. Tekanan itu semakin berat untuk para pelaku industri yang masih mengandalkan produk impor.

BACA JUGA:Viral Pak Ogah Tutup Exit Tol Rawa Buaya Pakai Rantai, Gak Dibuka Sebelum Diberi Uang!

BACA JUGA:Harga Emas Antam Melonjak Awal 2026, Tembus Rp2,65 Juta per Gram!

Prinsipnya adalah seorang importir maupun eksportir, perputaran bisnisnya akan mengacu pada nilai tukar Dolar. Bagi importir hal ini akan mencekik cash flow, belum lagi biaya ini dan itu seperti bea keluar maupun bea masuk.

Kontraksi nilai tukar rupiah ini mendapat respons serius Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Sang Ketua Umum, Anindya Bakrie mengatakan Kadin sedang merencanakan sesuatu untuk masalah ini.

Anin, sapaan akrabnya menyebut bahwa para pelaku bisnis di sektor ini perlu dibantu, setidaknya membuka peluang perluasan pasar Indonesia di kancah global.

Hal ini penting dilakukan agar para pemain bisnis skala besar tidak hanya bermain di satu atau dua tempat saja.

BACA JUGA:Jadwal Bioskop Trans TV Hari Ini 13 Januari 2026 Lengkap Sinopsis, Nonton Film Aksi-Thriller

BACA JUGA:Ribuan Warga Jakarta Utara Tidur di Pengungsian Akibat Banjir, BPBD Kirim Bantuan Rp575 Juta

Apalagi Kadin, kata dia, terus membangun dan mendorong investor baru, di mana itu menjadi salah satu starategi kerjasama yang utama dilakukan Kadin selama ini.

Namun Anin menambahkan selain investasi, dengan kolaborasi dapat dijajaki untuk menekan ongkos produksi suatu industri.

"Selain kerjasama investasi, kolaborasi mungkin bisa dijajaki, karena akan membuka pasar yang lebih luas lagi. Jadi inti-intinya seperti itu," ucap Anindya kepada Disway di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta Pusat, Senin, 12 Januari 2026.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Close Ads