Pindad Jadi Simbol Kemandirian Industri Pertahanan Indonesia dan Dukungan Domestik

Pindad Jadi Simbol Kemandirian Industri Pertahanan Indonesia dan Dukungan Domestik

Pemerintah terus mendorong Kolaborasi BUMN dan BUMS di Industri Pertahanan agar tak bergantung dengan Produk Asing-Dok. Pindad-

Sebagai contoh, PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (NKRI) menjalin Letter of Intent (LoI) dengan PT Pindad untuk pengadaan 100 pucuk pistol produksi Pindad, menunjukkan kolaborasi antar industri dalam negeri untuk saling mendukung kemandirian alutsista dan komponen pendukungnya.

"Kami telah mengantongi lisensi dari Kementerian Pertahanan untuk memproduksi komponen senjata, selongsong dan proyektil amunisi, serta komponen presisi untuk pesawat terbang, kapal, dan kendaraan tempur," jelas Direktur Operasi PT NKRI, Agus Prihanto.

Mereka berperan sebagai produsen komponen dan sub-assembly pertahanan dalam negeri dan fokus memproduksi komponen senjata dan amunisi serta bagian-bagian presisi untuk berbagai platform (darat, laut, udara). 

"Kami juga membantu memenuhi kebutuhan suku cadang lokal untuk Pindad, PT DI, PT PAL, dan perusahaan pertahanan lain tanpa harus mengimpor. Dengan modal dan tenaga ahli dalam negeri," katanya.

Sementara itu, PT Republik Defensindo (sering disingkat PT RDI) menonjol dalam kapasitas sebagai mitra lokal untuk pengembangan alutsista berteknologi tinggi melalui kerja sama internasional. 

Mereka bergerak di industri pertahanan dan juga berperan sebagaien/mitra perusahaan luar yang ingin memproduksi alat pertahanan di Indonesia. Salah satu pencapaian penting PT RDI adalah produksi bersama (joint production) sistem roket multiple launcher RM-70 Vampire kaliber 122mm asal Ceko. Pada pameran IDEX 2021 di Abu Dhabi, 

PT Republik Defensindo menandatangani kesepakatan dengan Excalibur Army (Ceko) untuk memproduksi lokal peluncur roket RM-70 Vampire di Indonesia (Batam) disertai transfer teknologi. 

BACA JUGA:TNI Dalami Temuan Pendaki, Serpihan Diduga Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung

Produksi dimulai tahun 2021 dan mencakup berbagai varian platform (4x4, 6x6, 8x8) dengan sasis truk Tatra, ditujukan bagi kebutuhan TNI serta potensi ekspor.

Kerja sama ini menunjukkan bagaimana perusahaan swasta Indonesia dapat mengambil alih peran yang dulunya dilakukan pihak asing, yakni dengan menjadi manufaktur lokal alutsista canggih. 

Mereka juga terlibat sebagai perantara lokal dalam pengadaan persenjataan berteknologi tinggi untuk TNI. Pada Januari 2024, misalnya, Kementerian Pertahanan menunjuk mereka sebagai penerima kontrak untuk pengadaan 45 rudal anti-kapal Atmaca dari Turki, menjadikan Indonesia pengguna ekspor pertama rudal tersebut.

PT RDI berperan memastikan alih teknologi peluncur dan integrasi sistem senjata tersebut ke platform TNI AL berjalan mulus, sekaligus membangun kapasitas kemandirian di bidang rudal.

Kolaborasi semacam ini mempercepat inovasi alutsista lokal dan memperluas kapasitas industri secara menyeluruh. 

Dengan semakin aktifnya BUMS Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada produsen asing, baik dalam penyediaan komponen, platform senjata, maupun teknologi kritikal.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Close Ads