Pindad Jadi Simbol Kemandirian Industri Pertahanan Indonesia dan Dukungan Domestik

Pindad Jadi Simbol Kemandirian Industri Pertahanan Indonesia dan Dukungan Domestik

Pemerintah terus mendorong Kolaborasi BUMN dan BUMS di Industri Pertahanan agar tak bergantung dengan Produk Asing-Dok. Pindad-

“Setop kalau perlu, saya sampaikan end user (pengguna akhir/pembeli) saya lihat izin impor lagi, kaliber 5,56 mm, 7,62 mm, masa sih kita tidak bisa (membeli dari dalam negeri)? Kalau untuk pasukan khusus boleh lah,” kata Wamenhan M. Herindra di hadapan beberapa pejabat TNI, Polri, Bakamla, dan instansi lainnya saat Rapat Pleno KKIP November lalu.

Dia menjelaskan pembelian produk-produk pertahanan, misalnya peluru dan pistol buatan dalam negeri, itu penting, karena mendukung upaya membangun kemandirian industri pertahanan di tanah air.

Herindra lanjut mencontohkan produk pistol G2 buatan Pindad.

“Kita berharap pistol G2 mau dipakai Filipina, (itu dapat terwujud) kalau kita pakai, nanti (mereka) baru pakai SS1 dan SS2, anggota kita sudah banyak yang pakai dan beberapa kali memenangkan turnamen, sehingga mendapatkan kredit poin,” kata Herindra mencontohkan pentingnya menggunakan senjata-senjata buatan dalam negeri, misalnya senapan serbu SS1 dan SS2 buatan Pindad.

BACA JUGA:Modus 7 Kepala Daerah Tersangka Korupsi Hasil Pilkada 2024 Diungkap KPK: Identik dengan Politik Balas Budi

PT Pindad mampu memproduksi amunisi kaliber 5,56 mm dan 7,62 mm, termasuk berbagai jenis senjata ringan, yang kualitasnya diakui dan bahkan diminati negara sahabat. Langkah penggunaan produk dalam negeri ini penting untuk mendukung kemandirian industri pertahanan nasional dan mengurangi keterlibatan pihak asing dalam pengadaan alutsista dasar.

Upaya kemandirian di bidang pemeliharaan juga ditunjukkan melalui peningkatan kapasitas fasilitas perawatan TNI dan BUMN industri pertahanan. PT Dirgantara Indonesia (PT DI) misalnya, memperkuat layanan MRO (maintenance, repair, overhaul) untuk pesawat angkut dan helikopter TNI, sehingga perawatan berkala dapat dilakukan domestik. 

Demikian pula, PT PAL Indonesia telah mendapatkan transfer teknologi untuk perawatan kapal perang (termasuk kapal selam hasil kerja sama) agar docking dan overhaul bisa ditangani di galangan dalam negeri. 

Semua inisiatif ini menurunkan kebutuhan keterlibatan teknisi asing dalam menjaga kesiapan alutsista TNI. 

BACA JUGA:Dasco Tegaskan Tak Ada Campur Tangan Prabowo soal Usulan Tommy Djiwandono Jadi Calon Deputi Gubernur BI

Pemerintah pun mendorong kolaborasi antara BUMN dan BUMS pertahanan. Sebagai contoh, Pindad pada Indo Defense 2022 menjajaki kerja sama dengan Republic Armamen Industry bagian dari grup Republik (yang juga menaungi PT RDI) dalam pengembangan senapan serbu bullpup kaliber 5,56mm IFAR-22 dan komponen suku cadangnya. 

Dengan kata lain, Indonesia berusaha keras memastikan siklus hidup alutsista dari pengadaan, operasional, hingga perawatan bisa ditangani sendiri oleh industri dan SDM nasional.

Kehadiran pihak swasta menjadi bagian dari rantai pasokan lokal bagi BUMN pertahanan seperti Pindad. 

Dengan kemampuan ini, perbaikan dan produksi suku cadang dapat dilakukan di dalam negeri tanpa perlu mendatangkan teknisi atau komponen dari luar. 

Selain BUMN, keterlibatan industri pertahanan swasta (Badan Usaha Milik Swasta, BUMS) kian menonjol dalam upaya mewujudkan kemandirian alutsista.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Close Ads