Industri Furnitur Indonesia Bersatu! Pameran Raksasa IMMF 2026 Siap Gaet Pasar Dunia

Industri Furnitur Indonesia Bersatu! Pameran Raksasa IMMF 2026 Siap Gaet Pasar Dunia

Indonesia Siapkan Ekosistem Furnitur Terintegrasi dari Hulu ke Hilir---Dok. Istimewa

JAKARTA, DISWAY.ID - Industri mebel dan furnitur Indonesia memiliki posisi strategis dalam menopang perekonomian nasional sekaligus menyimpan peluang ekspansi global yang masih sangat besar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2025 sektor ekspor mebel menempati peringkat kedua subsektor kerajinan dengan kontribusi sekitar 12,2 persen, menegaskan pentingnya industri furnitur Indonesia dalam perdagangan internasional.

Meski demikian, di tengah nilai pasar industri furnitur global yang mencapai ratusan miliar dolar AS per tahun, pangsa pasar mebel Indonesia masih berada di bawah satu persen.

Kondisi ini mencerminkan besarnya ruang pertumbuhan ekspor furnitur Indonesia yang belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.

BACA JUGA:Indonesia Perkuat Modernisasi Industri Maritim Nasional dengan Monitoring Berbasis Teknologi Satelit

Tantangan utama industri furnitur nasional bukan terletak pada kapasitas produksi, melainkan pada lemahnya konektivitas rantai nilai. Mulai dari ketersediaan material furnitur, adopsi teknologi manufaktur, hingga perluasan akses pasar global, seluruh mata rantai ini membutuhkan integrasi yang lebih solid.

Saat ini, pasar furnitur internasional seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur sebenarnya sudah terbuka bagi pelaku usaha Indonesia. Namun, penguatan aspek standardisasi produk, efisiensi produksi, serta integrasi lintas sektor menjadi kunci agar UMKM furnitur Indonesia dapat terhubung langsung dengan jaringan pasar global.

Di dalam negeri, pasar furnitur domestik menunjukkan tren yang semakin menjanjikan. Sepanjang kuartal pertama 2025, penjualan rumah berukuran kecil melonjak hingga 83,97 persen secara kuartalan, menciptakan permintaan lanjutan yang signifikan terhadap furnitur rumah tinggal dan produk interior.

Pertumbuhan sektor properti nasional pun tak lagi terpusat di Jakarta. Kota-kota sekunder seperti Pekanbaru dan Pontianak mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi, masing-masing sebesar 2,12 persen dan 2,07 persen, membuka peluang ekspansi baru bagi industri mebel Indonesia di luar pusat ekonomi tradisional.

Dukungan kebijakan pemerintah melalui insentif PPN rumah serta kemudahan kepemilikan properti bagi pembeli asing turut mendorong peningkatan transaksi hunian. Kondisi ini mempertegas peran industri furnitur dan mebel sebagai penggerak efek berganda (multiplier effect) bagi sektor properti dan konstruksi.

BACA JUGA:Alga Merah Asal Indonesia Jadi Bahan Baku Pengganti Plastik, Emas Hijau Hasil Laut Siap Guncang Industri Dunia

Dalam konteks tersebut, pameran furnitur internasional menjadi platform strategis untuk memperluas akses pasar Asia Tenggara dan global. Pameran kini tak lagi sekadar etalase produk, melainkan ekosistem bisnis yang mempertemukan pelaku industri manufaktur, pembeli internasional, mitra teknologi, dan jaringan distribusi.

Menjawab kebutuhan itu, Amara Group bersama Koelnmesse GmbH mengumumkan integrasi strategis empat pameran dagang utama ke dalam satu platform industri terpadu dari hulu ke hilir. Mulai 2026, rangkaian pameran ini akan digelar secara co-located pada 23–27 September 2026 di NICE PIK 2 dan JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Platform terpadu tersebut diperkenalkan dengan nama Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect, dengan target menghadirkan sekitar 800 exhibitor, 15.000 pengunjung, serta partisipasi dari lebih dari 20 negara, menegaskan posisi Indonesia dalam peta industri furnitur global.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: