Jelang Ramadan dan Lebaran, Lonjakan Harga Daging Sapi Bikin Pelaku Usaha Kuliner Kelimpungan
Menjelang bulan suci Ramadan dan Lebaran, ketersediaan daging sapi di sejumlah pasar tradisional menjadi sorotan-disway.id/Cahyono-
Ia pun yakin kenaikan harga daging sapi bersifat sementara.
“Kalau harga dinaikin takut pembeli kabur. Biasanya nggak lama juga turun lagi,” katanya.
BACA JUGA:Gen Z dan Pilihan Childfree: Antara Realitas Hidup dan Finansial
BACA JUGA:Pinjol Berujung Teror! Debt Collector Disorot, OJK Ungkap Lonjakan Pembiayaan 23,86 Persen
Warteg Tak Terlalu Terdampak
Tak hanya pedagang bakso, Tim Bisik Disway juga menyambangi Warteg Sedayu Bahari di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat, untuk melihat dampak kenaikan harga daging sapi.
Pemilik Warteg Sedayu Bahari, Kusnanda, mengatakan lonjakan harga daging sapi tidak terlalu berpengaruh pada usahanya.
Pasalnya, dari 17 cabang yang dimiliki, hanya satu lokasi yang menyediakan menu berbahan dasar daging sapi, yakni sop iga.
“Rata-rata warteg saya nggak ada menu olahan daging sapi. Paling cuma di sini yang ada sop iga,” ujar Kusnanda, Minggu, 1 Februari 2026.
BACA JUGA:Di Balik Mudahnya Pinjol: Kesehatan Mental Terancam, Perlindungan Ekonomi Dipertanyakan
BACA JUGA:Pinjol, Pedang Bermata Dua: Dari Solusi Instan ke Jerat Utang Tanpa Akhir
Ia mengakui harga daging sapi di pasaran memang naik.
Namun, karena hanya membeli iga sapi dalam jumlah terbatas, dampaknya tidak signifikan.
“Memang naik, tapi saya belinya iga sapi yang nggak terlalu banyak dagingnya, sekitar Rp100 ribu per kilo,” katanya.
Menariknya, menu sop iga justru selalu habis terjual, terutama di musim hujan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: