Harga Emas Hari Ini Naik Rp10.000, Perlahan Bangkit Kembali ke Rp3.000.000

Harga Emas Hari Ini Naik Rp10.000, Perlahan Bangkit Kembali ke Rp3.000.000

Harga emas Antam hari ini-Tangkapan layar-

 

1.000 gram  Rp 2.881.971.000 -

BACA JUGA:Pemilik LM Pasti Senyum Hari Ini, Harga Emas Loncat Lagi Setelah Ambruk di Bawah Rp3.000.000

Ekonom dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat.

Menurutnya, emas naik bukan karena semua orang menjadi penggemar emas, melainkan karena banyak orang ingin memegang sesuatu yang nilainya dianggap lebih “tahan cuaca”.

"Penurunan dua hari terakhir pada dasarnya dipicu oleh kombinasi profit taking dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter yang mendadak," ujar Achmad ketika dihubungi oleh Disway.

BACA JUGA:Meski Harga Emas Drop, EMAS Tetap Optimistis Investor Tak Mudah Berubah Pikiran

Dalam hal ini, Achmad menyoroti dari kabar nominasi Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed berikutnya, yang dinilai merupakan salah satu pemicu sentimen sebagian pelaku pasar lebih hawkish dibanding ekspektasi sebelumnya

Pasalnya, dirinya menambahkan, persepsi “lebih hawkish” biasanya diterjemahkan menjadi potensi suku bunga lebih tinggi atau lebih lama, yang mendorong penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil, lalu menekan emas.

"Namun, pasar bukan ruang kuliah yang serba rapi. Setelah aksi jual besar, muncul mekanisme yang lebih manusiawi: rasa menyesal dan naluri “membeli saat diskon”. Itulah yang sering disebut dip-buying," jelas Achmad.

BACA JUGA:Cetak Rekor! Harga Emas Antam Naik Rp52.000 per 28 Januari 2026, Cek Nilai Buyback di Sini

"Ketika dolar berhenti menguat seagresif dua hari sebelumnya, ruang untuk pantulan harga terbuka. Jadi, kenaikan Rabu ini bukan karena “fakta baru” yang membuat emas tiba-tiba lebih berharga dalam semalam. Kenaikan ini terutama karena ritme kepanikan mereda, posisi spekulatif dikurangi, dan pembeli yang menunggu kesempatan masuk kembali merasa momentumnya pas," tambahnya.

Dalam menghadapi naik turunnya harga emas ini, Achmad menuturkan bahwa pesan utama yang harus diperhatikan oleh pembuat kebijakan adalah menjaga stabilitas makro domestik, terutama nilai tukar dan kredibilitas kebijakan, agar guncangan eksternal tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi gejolak harga ritel yang membebani publik.

 

"Emas boleh jadi payung. Tetapi payung terbaik bukan yang dibeli saat hujan sudah deras dan harga sudah melonjak," tegas Achmad.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads