Contoh Teks Khutbah Idul Fitri Muhammadiyah 20 Maret 2026 Singkat dan Sederhana, Bisa Jadi Referensi Khatib!
Contoh Teks Khutbah Idul Fitri Muhammadiyah 20 Maret 2026 Sederhana.--ist
Hari ini kita merayakan kemenangan, tapi sekaligus kita sedang berduka. Kita berduka karena tamu agung, kekasih hati kita, Bulan Suci Ramadan, telah meninggalkan kita semalam.
Baru kemarin rasanya kita memulai sahur pertama. Baru kemarin kita merasakan nikmatnya dahaga yang terbayar saat berbuka. Selama bulan Ramadhan pula, kita telah menunaikan ibadah puasa, shalat tarawih, hingga beritikaf untuk meraih lailatul qadar. Di bulan Ramadhan, kita telah berupaya memperbaiki hubungan kita dengan Allah, mendekatkan diri dengan penuh keikhlasan dan hati yang lapang.
Hal ini telah sejalan dengan tujuan ibadah puasa itu sendiri, yakni mencapai ketakwaan. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ١٨٣
Namun kini, masjid-masjid akan kembali sunyi dari lantunan tadarus. Suasana syahdu di sepertiga malam akan segera berganti dengan hiruk-pikuk dunia yang melelahkan. Hari ini, kesedihan masih terasa di hati kita semua. Kita bersedih bukan karena hari raya ini tidak membahagiakan, melainkan karena kita baru saja melepas kekasih yang paling tulus, yaitu bulan suci Ramadan.
Meski begitu, ibadah kita kepada Allah tak boleh berkurang. Mari kita bawa semangat Ramadan keluar dari masjid. Jangan biarkan kejujuran, kedermawanan, dan kesabaran kita ikut pergi bersama berakhirnya bulan puasa. Jadilah pribadi yang mencerahkan semesta, yang tangannya ringan menolong sesama, dan hatinya lapang memaafkan khilaf saudara.
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ
"Barang siapa yang beribadah kepada Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tidak akan pernah mati." (HR. Bukhari & Muslim)
Melalui hadis tersebut, Nabi Muhammad mengingatkan kita agar ibadah tidak berhenti di bulan Ramadhan. Allah tetap Tuhan kita setelah Ramadhan berakhir, shalat tetap wajib, sedekah tetap dianjurkan, dan hawa nafsu tetap harus dikendalikan.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Sesuai dengan semangat tajdid, mari kita jadikan kesedihan ini sebagai bahan bakar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kesalihan kita jangan hanya bertahan di bulan Ramadan. Mari kita isi bulan Syawal ini dengan peningkatan ibadah, baik bersifat horizontal maupun vertikal.
Ibadah yang intens ini perlu kita lakukan secara istiqomah di bulan Syawal. Hal ini juga diperintahkan Nabi Muhammad dalam sebuah hadis:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
"Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus, walaupun sedikit." (HR. Bukhari & Muslim)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: