Kendaraan Listrik Bergerak Kuasai Pasar Otomotif Indonesia, Pengamat Waspadai Risiko Ini

Kendaraan Listrik Bergerak Kuasai Pasar Otomotif Indonesia, Pengamat Waspadai Risiko Ini

Mobil Listrik JAECOO dalam Pameran Otomotif IIMS 2026.-Foto: Bianca/Disway.id-

JAKARTA, DISWAY.ID -- Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, lanskap dunia otomotif telah mengalami perubahan cukup masif seiring meningkatnya demand kendaraan ramah lingkungan.

Tidak tanggung-tanggung, dominasi merek-merek Jepang yang telah mengakar sejak era 1970-an kini menghadapi tantangan eksistensial dari gelombang penetrasi kendaraan listrik (Electric Vehicle atau EV) asal Tiongkok.

Menurut Ekonom sekaligus Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny. P Sasmita, fenomena ini bukan sekadar perubahan preferensi konsumen, melainkan manifestasi dari strategi integrasi vertikal yang cukup canggih, serta dukungan kebijakan negara yang agresif.

BACA JUGA:Antisipasi Kenaikan BBM, Chery Indonesia Andalkan Teknologi Super Hybrid

"Dalam tiga tahun terakhir, Tiongkok telah mentransformasi dirinya dari sekadar pemain baru menjadi dirigen utama dalam orkestra elektrifikasi transportasi di tanah air," jelas Ronny ketika dihubungi oleh Disway, pada Sabtu (28/03).

Kendati begitu, Ronny juga menambahkan bahwa penting untuk melihat di balik angka-angka pertumbuhan yang berkilau. 

Pasalnya, dominasi Tiongkok yang hampir absolut di sektor hulu dan hilir kendaraan listrik Indonesia membawa sejumlah risiko struktural bagi ekonomi nasional dalam jangka panjang.

"Jika permintaan global beralih secara masif ke LFP, maka investasi smelter nikel raksasa di Sulawesi dan Maluku berisiko mengalami surplus pasokan yang kronis. Saat ini pun, harga nikel global telah tertekan akibat produksi berlebih dari Indonesia yang didanai oleh Tiongkok, menyebabkan harga jatuh di bawah biaya produksi rata-rata banyak produsen di luar Tiongkok," jelas Ronny.

BACA JUGA:Mudik Lebaran Makin Tenang, MG Gulirkan Program Aftersales Khusus Pelanggan

"Hal ini dapat menjerat Indonesia dalam posisi yang lemah dalam tawar-menawar harga internasional," tambahnya.

Selain itu, Investasi nikel dan kendaraan listrik Indonesia yang sangat didominasi oleh modal dan teknologi Tiongkok menghadapi tantangan besar terkait standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Banyak smelter di Indonesia masih sangat bergantung pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara yang memiliki jejak karbon tinggi.

Kondisi ini berpotensi membuat produk kendaraan listrik yang dirakit di Indonesia sulit menembus pasar negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat melalui Inflation Reduction Act (IRA), yang memberikan insentif hanya bagi produk dengan rantai pasok yang bersih dan tidak didominasi oleh entitas dari "negara yang menjadi perhatian" (Foreign Entity of Concern).

"Tanpa diversifikasi mitra investasi dan perbaikan standar ESG yang radikal, industri otomotif Indonesia berisiko terisolasi dalam satu orbit ekonomi saja, yaitu Tiongkok. Hal ini membatasi potensi Indonesia untuk menjadi pemain global yang sesungguhnya dan hanya menempatkannya sebagai satelit dari strategi industri Beijing," pungkas Ronny.

BACA JUGA:Lebih Presisi Cek Kaki-kaki Mobil dengan Kyoto Shaking Machine, Berikut Lokasi di Seluruh Indonesia

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: