Bank Dunia: Upaya Hilirisasi Berikan Nilai Tambah bagi Ekonomi Indonesia
Bank Dunia menilai rencana percepatan Hilirisasi Tambang Indonesia dengan melarang ekspor bahan mentah untuk mendorong industrialisasi disambut baik-Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID - Bank Dunia menilai rencana percepatan Hilirisasi Tambang Indonesia dengan melarang ekspor bahan mentah untuk mendorong industrialisasi disambut baik.
Selain itu dalam laporan World Bank East Asia and Pacific Economic Update April 2026, Bank Dunia juga turut menyebut bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif sebagai eksportir produk tambang setengah jadi, seperti besi, baja paduan, tembaga setengah murni, dan bubuk seng.
BACA JUGA:Lari Seru di Empat Kota, bank bjb Tawarkan Promo Menabung Berhadiah Tiket Ultimate 10K
BACA JUGA:Viral Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit Hasan Sadikin Nyaris Dibawa Orang Tak Dikenal
"Dengan kombinasi kebijakan yang tepat dan terukur, Indonesia dapat menggantikan pembatasan ekspor yang bersifat distorsif guna mendorong pengembangan aktivitas pertambangan yang lebih hijau dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi," jelas Bank Dunia dalam laporan tersebut, ditulis pada Kamis, 9 April 2026.
Lebih lanjut, Bank Dunia juga turut menyebut Indonesia sebagai contoh nyata dalam memanfaatkan kebijakan pelarangan ekspor bahan mentah sebagai momentum penting bagi hilirisasi.
Menurut laporan tersebut, Indonesia telah berhasil mendatangkan investasi signifikan di sektor pengolahan mineral, bahkan dalam jangka pendek, lewat penerapan kebijakan tersebut sejak 2014 walaupun kerap menghadapi tantangan dari komunitas internasional, termasuk World Trade Organization (WTO).
Sebagai dampaknya, Bank Dunia menilai kapasitas smelter Indonesia kini telah matang
"Pelarangan ekspor berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan produksi dan ekspor Indonesia di produk-produk nikel serta penanaman modal asing di ekstraksi dan pengolahan nikel," tutur Bank Dunia.
BACA JUGA:Dokter Spesialis Anak Ungkap Bahaya Tersembunyi Timbal, Orangtua Wajib Waspada
"Selain itu, reformasi kebijakan di sisi fiskal, fasilitas perdagangan, infrastruktur, pengelolaan lahan, dan perizinan bisnis dapat semakin memperkuat pengembangan hilirisasi industri di Indonesia," tambahnya.
Kendati begitu, Bank Dunia juga menambahkan bahwa Indonesia juga dinilai memiliki potensi keunggulan komparatif pada produk hilir seperti pegas berbahan besi dan baja, produk canai datar dari baja tahan karat, serta berbagai produk berbasis nikel yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Pasalnya, produksi produk-produk tersebut saat ini dinilai masih berada di bawah kapasitas potensialnya.
"Bank Dunia menilai program hilirisasi masih memiliki ruang untuk memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar," tulis laporan tersebut.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: