Dapur yang Paling Membutuhkan

Dapur yang Paling Membutuhkan

Mashudi: MBG bukan hanya urusan nasi, lauk, sayur, buah, susu, dapur, dan kotak makan. MBG juga urusan keberanian negara menentukan prioritas.-dok disway-

Desil 1 adalah kelompok sangat miskin. Desil 2 miskin. Desil 3 hampir miskin. Desil 4 rentan miskin. Desil 5 pas-pasan. Di atas itu, desil 6 sampai 10 adalah kelompok yang lebih mampu. Dari menengah sampai kaya.

BACA JUGA:Qodari: Fakta Soal MBG, Siswa Kelaparan Berkurang Signifikan di Sekolah

Dalam bahasa sehari-hari, desil 1 sampai desil 5 itu kelompok menengah ke bawah.

Mereka bukan sekadar baris data. Mereka adalah keluarga yang setiap hari hidup dengan kalkulator di kepala.

Beras dihitung. Uang bensin dihitung. Uang sekolah dihitung. Obat anak dihitung.

Lauk tambahan pun kadang harus ditunda sampai ada uang masuk.

Karena itu, menurut saya, MBG sebaiknya lebih berani ditajamkan. Berikan kepada desil 1 sampai desil 5.

Ibu hamil dari kelompok itu. Ibu menyusui dari kelompok itu. Balita dari kelompok itu. Anak usia dini dari kelompok itu. Dan seluruh pelajar dari keluarga desil 1 sampai desil 5.

Dengan cara itu, dasarnya jelas. Penerimanya jelas. Kriterianya jelas. Anggarannya juga lebih mudah dihitung.

Tidak perlu lagi muncul rasa ganjil ketika anak dari keluarga sangat mampu ikut menerima MBG, sementara anak keluarga miskin di pinggiran kota atau daerah 3T masih menunggu. Tidak perlu lagi publik bertanya-tanya mengapa negara memberi makan anak yang sebenarnya sudah cukup makan di rumah.

Tentu anak orang mampu juga berhak makan bergizi. Tetapi kalau keluarganya sanggup menyediakan, biarlah keluarga mengambil peran itu.

Negara sebaiknya berdiri lebih dekat kepada dapur yang kosong. Kepada ibu yang sedang hamil tetapi asupannya pas-pasan. Kepada balita yang gizinya rentan. Kepada anak sekolah yang datang ke kelas dengan perut seadanya.

Di titik itu MBG akan terasa sebagai kebijakan. Bukan sekadar pembagian.

Masyarakat kita sebenarnya tidak anti-program besar. Tidak juga anti-bantuan. Yang sering membuat gaduh adalah ketika bantuan terasa tidak tepat sasaran.

Ketika yang mampu ikut menikmati, sementara yang lemah masih antre. Ketika uang negara keluar sangat besar, tetapi prioritasnya belum terasa tajam. Ketika negara ingin merangkul semua, tetapi pelukannya justru kurang kuat kepada yang paling membutuhkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: