Selfie Dulu, Tuhan Nanti
Di zaman sekarang, barangkali yang paling cepat bangun bukan manusia, melainkan kamera depan-Istimewa-
Dan di tengah semua itu, pertanyaan sederhana menjadi semakin relevan:
Apakah kita masih hidup untuk mengalami sesuatu, atau hanya untuk mengunggahnya?
Sebab jika setiap momen harus difoto agar terasa nyata, jangan-jangan kita bukan kehilangan makna hidup, kita hanya kehilangan kemampuan untuk hadir.
Akhirnya, mungkin kita perlu belajar lagi dari tragedi Narcissus. Bukan tentang larangan mencintai diri, tetapi tentang batas antara mencintai dan terjebak.
BACA JUGA:Homo Debatus
Sebab ketika seseorang terlalu lama menatap dirinya sendiri, ia bukan hanya lupa dunia, ia juga lupa Tuhan. Dan di titik itulah, kamera tetap menyala, tapi jiwa perlahan redup.
By Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si- Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: