59 Persen Kematian DBD Terjadi pada Anak, Ahli Ingatkan Waspada Saat Sekolah Dimulai

Sabtu 01-08-2026,20:29 WIB
59 Persen Kematian DBD Terjadi pada Anak, Ahli Ingatkan Waspada Saat Sekolah Dimulai

Ilustrasi MPLS: Ada satu hal yang tidak kalah penting untuk masuk dalam daftar persiapan orang tua, yaitu melindungi anak dari demam berdarah dengue (DBD).--smpn253jakarta.sch.id

BACA JUGA:Pekan Imunisasi Dunia 2026: Saatnya Sadar, Gejala DBD Bisa Fatal Jika Terlambat Ditangani

DBD Bukan Penyakit Musiman

dr. Ikhsanuddin Qothi, dokter sekaligus kreator konten, menjelaskan bahwa masih banyak keluarga yang menganggap DBD hanya perlu diwaspadai saat musim hujan.

“DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan juga perlu dijaga setiap saat. Pada musim kemarau, tempat-tempat yang dapat menampung air tetap berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak jika tidak ditutup, dikuras, atau dibersihkan secara rutin,” jelas dr. Ikhsan.

Ia menambahkan bahwa DBD disebabkan oleh virus yang terdiri atas empat serotipe, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4.

BACA JUGA:Pekan Imunisasi Dunia 2026: Saatnya Sadar, Gejala DBD Bisa Fatal Jika Terlambat Ditangani

Virus tersebut dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, terutama Aedes aegypti.

“Nyamuk Aedes aegypti aktif terutama pada pagi dan sore hari. Ini berarti risiko gigitan dapat mengikuti anak selama beraktivitas, baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sekitar. Dengue juga tidak selalu terlihat. Sebuah studi di Asia Tenggara dan Amerika Latin memperkirakan sekitar 45% anggota rumah tangga pasien DBD juga terinfeksi, dan hampir tiga perempat dari infeksi yang terdeteksi tidak menunjukkan gejala. Proporsinya bahkan lebih tinggi di Asia Tenggara. Temuan ini mengingatkan kita bahwa risiko DBD dapat berada sangat dekat dengan keluarga tanpa disadari, sehingga pencegahan tidak boleh menunggu sampai ada yang sakit,” lanjutnya.

Risiko yang dapat muncul tanpa disadari ini menjadi semakin penting untuk diperhatikan ketika anak kembali ke sekolah dan menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah, termasuk mengikuti kegiatan belajar, berolahraga, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan menunggu perjalanan pulang.

Karena itu, pencegahan tidak cukup dilakukan hanya di rumah, tetapi juga perlu diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah.

Sekolah dapat berperan dengan memastikan tidak ada wadah atau area yang menjadi tempat genangan air, melakukan pemantauan jentik secara berkala, serta mendorong siswa dan seluruh warga sekolah untuk berpartisipasi aktif dalam penerapan 3M Plus.

BACA JUGA:Kasus Rawat Inap DBD Tembus 1 Juta, Indonesia Bentuk Aliansi Besar Perangi Dengue

Pernah Terinfeksi Tidak Berarti Kebal

dr. Ikhsan juga mengingatkan bahwa pernah terkena DBD tidak membuat seseorang kebal terhadap seluruh serotipe virus dengue.

“Setelah terinfeksi salah satu serotipe, seseorang masih dapat terinfeksi kembali oleh serotipe yang berbeda. Infeksi berikutnya dapat meningkatkan risiko terjadinya dengue berat. Karena itu, orang tua tetap perlu melakukan pencegahan meskipun anak atau anggota keluarga sebelumnya pernah terkena dengue. Hingga saat ini, belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan dengue. Penanganan yang diberikan bertujuan untuk membantu mengatasi gejala, menjaga kondisi pasien, dan mencegah perburukan. Deteksi dini dan akses terhadap penanganan medis yang tepat berperan penting dalam menurunkan risiko dengue berat. Orang tua juga tidak boleh langsung merasa aman ketika demam anak mulai turun. Pada sebagian pasien, tanda bahaya justru dapat muncul setelah demam mereda. Jika anak mengalami muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, mimisan atau gusi berdarah, terlihat sangat lemas, gelisah, atau mengalami penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan,” tegas dr. Ikhsan.

BACA JUGA:Kasus Rawat Inap DBD Tembus 1 Juta, Indonesia Bentuk Aliansi Besar Perangi Dengue

Dampak yang Tidak Berhenti di Ruang Perawatan

Selain berdampak pada kondisi fisik, DBD dapat mengganggu kegiatan belajar dan aktivitas harian anak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: