CAATSA hingga Skema Barter Jadi Sorotan, Praktisi Intelijen Soroti Dugaan Permainan Broker
Praktisi Intelijen, Sri Radjasa-Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID - Di balik kemegahan parade Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) TNI dalam peringatan hari jadi TNI, terdapat ekosistem bisnis pertahanan bernilai triliunan rupiah yang selama ini relatif jarang terlihat oleh publik.
Ekosistem tersebut melibatkan banyak pihak, mulai dari produsen senjata, pemerintah, perusahaan nasional, konsultan, agen hingga perantara. Secara prinsip, keberadaan perantara dalam proses pengadaan Alutsista bukan sesuatu yang otomatis melanggar hukum.
Akan tetapi Praktisi Intelijen Sri Radjasa menyoroti soal dugaan adanya praktik percaloan yang menurutnya dapat merugikan keuangan negara.
Ia menilai sebagian pihak yang berperan sebagai broker atau middlemen justru memiliki pengaruh besar dalam menentukan proses pengadaan Alutsista.
Menurut Sri, mereka bukan insinyur ahli senjata maupun personel militer yang berpengalaman dalam operasi, tetapi memiliki akses dan kemampuan untuk memengaruhi proses pengadaan dengan nilai kontrak yang sangat besar.
“Inilah realitas bisnis Alutsista di negeri ini, jauh dari perkiraan publik bahwa bisnis Alutsista adalah domain pemerintah, atau dilakukan G to G. Peran broker Alutsista (middlemen) sangat sentralistik, untuk menentukan peralatan militer yang mana harus dibeli, dari perusahaan mana dan berapa nilai kontraknya,” jelas Sri Radjasa, pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Sri Radjasa juga mengungkapkan dugaan adanya kelompok warga sipil yang dibantu purnawirawan dalam memonopoli proyek pembelian Alutsista dengan nilai mencapai triliunan rupiah.
Ia menyebut praktik tersebut sebagai dugaan kejahatan terorganisasi yang menurutnya berlindung di balik narasi “rahasia negara” dan “nilai patriotisme”.
Menurut Sri, salah satu tahapan yang dilakukan adalah operasi pra-tender. Dalam tahapan tersebut, kebutuhan dan proses tender disebut telah diarahkan sebelum tender resmi berlangsung.
“Langkah awal para 'calo' Alutsista melakukan operasi pra-tender. Oleh karenanya proses tender dan kebutuhan yang akan dibeli, merupakan desain yang disiapkan para calo,” katanya.
Ia melanjutkan, para calo juga disebut melakukan lobi secara intensif dengan sejumlah perwira militer di Markas Besar TNI.
Targetnya, menurut Sri, adalah memastikan dokumen spesifikasi teknik (Spektek) sesuai dengan rancangan yang telah disiapkan sebelumnya.
“Target para calo adalah memastikan dokumen spesifikasi teknik (Spektek) sesuai dengan desain yang telah mereka siapkan,” katanya.
Spesifikasi Teknik Jadi Sorotan?
Sri menjelaskan, Spektek tersebut nantinya dapat memuat persyaratan mengenai jenis Alutsista dan pabrik yang harus dipilih.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: