Dilema Gig Worker: 88,1 Persen Pilih Fleksibilitas, tapi 71,9 Persen Hadapi Pendapatan Tak Pasti

Minggu 04-10-2026,00:01 WIB
Dilema Gig Worker: 88,1 Persen Pilih Fleksibilitas, tapi 71,9 Persen Hadapi Pendapatan Tak Pasti

Seminar: Masa Depan Ekonomi Gig & Platform di Indonesia pada Jumat (2/10).--istimewa

JAKARTA, DISWAY.ID – Pekerjaan berbasis platform digital semakin menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk memperoleh penghasilan.

Fleksibilitas waktu menjadi daya tarik utama, terutama bagi mereka yang ingin mengatur sendiri kapan bekerja dan menjadikan pekerjaan gig sebagai sumber penghasilan utama maupun tambahan.

Namun, fleksibilitas tersebut berjalan beriringan dengan tantangan ketidakpastian pendapatan.

Kondisi ini menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam pembahasan mengenai masa depan gig worker dan ekonomi platform di Indonesia, terutama ketika muncul wacana penguatan perlindungan melalui regulasi ketenagakerjaan.

Karakter pekerjaan gig juga dinilai berbeda dengan hubungan kerja konvensional.

BACA JUGA:KP2MI dan Universitas Udayana Jalin Kerja Sama Perkuat Pelindungan Pekerja Migran Indonesia

Mitra platform, pekerja proyek, maupun kontraktor independen memiliki pola kerja dan sumber penghasilan yang beragam sehingga pengaturan yang sama dengan pekerja formal dinilai belum tentu sesuai dengan seluruh bentuk pekerjaan berbasis platform.

Hal tersebut tercermin dalam survei lapangan Segara Research Institute yang dilakukan pada Agustus-September 2026 terhadap 506 gig worker di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar.

Survei tersebut menunjukkan 88,1 persen responden menyebut fleksibilitas waktu sebagai keunggulan pekerjaan gig. Pada mitra ojek online, angka tersebut bahkan mencapai 95 persen.

BACA JUGA:Panduan Cek BSU 2026 Bakal Cair Rp900 Ribu Modal NIK KTP, Pekerja Wajib Tahu!

Di sisi lain, 71,9 persen responden menyebut ketidakpastian pendapatan sebagai salah satu tantangan dalam menjalani pekerjaan gig.

Di antara mitra yang menghadapi hambatan, sepi order menjadi kendala yang paling banyak disebut, yakni 53,4 persen. Sementara itu, keluhan terkait tarif hanya disebut oleh 3,4 persen responden.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendapatan gig worker tidak hanya berkaitan dengan besaran tarif, tetapi juga dengan naik-turunnya permintaan masyarakat yang turut dipengaruhi kondisi ekonomi, daya beli, dan perubahan pola konsumsi.

BACA JUGA:Sinopsis Drama Korea Dead-End Job Tayang 30 Oktober, Lee Jae Wook Terjebak Pekerjaan Penuh Teror Misterius

Bukan Sekadar Soal Tarif

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait