Asbanda dan Bank Bengkulu Soroti Penguatan Likuiditas BPD di Seminar Nasional

Jumat 21-08-2026,17:06 WIB
Reporter: M. Ichsan |
Asbanda dan Bank Bengkulu Soroti Penguatan Likuiditas BPD di Seminar Nasional

Secara nasional kondisi industri perbankan masih kuat dan likuiditas secara agregat tetap memadai.-Istimewa-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) dan Bank Bengkulu menggelar Seminar Nasional Bank Pembangunan Daerah Seluruh Indonesia (BPD-SI) di Bengkulu, Jumat (21/8/2026).

Seminar bertema “Dukungan Pemerintah terhadap Penguatan Likuiditas BPD dalam Meningkatkan Stabilitas Sistem Keuangan Nasional” tersebut merupakan bagian dari rangkaian Undian Nasional Tabungan Simpeda Tahun XXXVII-2026.

BACA JUGA:IEU-CEPA Masuk Tahap Akhir, Pemerintah Kawal Penandatanganan dan Kesiapan Implementasi

Seminar dibuka oleh Wakil Gubernur Bengkulu Mian dan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Fauzi Amro. Hadir pula Ketua Umum Asbanda Agus Haryoto Widodo, Direktur Utama Bank Bengkulu Iswahyudi, jajaran direksi BPD, serta sejumlah pemangku kepentingan.

Salah satu isu yang mengemuka dalam seminar tersebut adalah perlunya menjaga likuiditas BPD di tengah perubahan kebijakan pengelolaan dan penyaluran dana pemerintah.

Ketua Umum Asbanda Agus Haryoto Widodo mengingatkan, kebijakan yang bertujuan meningkatkan efisiensi dan mempercepat penyaluran dana perlu tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap ekosistem keuangan daerah.

BACA JUGA:Wamendagri Wiyagus Titip 4 Pesan ke Mahasiswa Untad, Dorong Percepatan Penuntasan TB di Sulteng

Menurutnya, BPD memiliki karakteristik yang berbeda dengan bank pada umumnya karena struktur pendanaannya erat berkaitan dengan siklus fiskal daerah, mulai dari transfer pemerintah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), pembayaran gaji aparatur sipil negara (ASN), hingga transaksi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Aset BPD Tembus Rp1.043 Triliun

Agus mengatakan, secara nasional kondisi industri perbankan masih kuat dan likuiditas secara agregat tetap memadai. Namun, kondisi tersebut belum tentu mencerminkan distribusi likuiditas yang merata, termasuk bagi BPD.

Hingga Juni 2026, total aset 27 BPD mencapai sekitar Rp1.043 triliun. Sementara itu, total kredit yang disalurkan sekitar Rp673 triliun dan dana pihak ketiga (DPK) sekitar Rp770 triliun.

BACA JUGA:Update Mutilasi di Depok, 2 Potong Betis Korban Ditemukan Radius 3 Kilometer dari Lokasi Pembunuhan

Meski secara fundamental BPD berada dalam kondisi sehat, Agus menilai tekanan terhadap sumber pendanaan tetap perlu diantisipasi. 

Di sisi lain, fungsi intermediasi terus tumbuh dan kebutuhan pembiayaan di daerah juga semakin besar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: