Kepala Staf IDF Dilaporkan Membangkang, Tolak Perintah Netanyahu Serang Iran

Senin 26-10-2026,17:20 WIB
Kepala Staf IDF Dilaporkan Membangkang, Tolak Perintah Netanyahu Serang Iran

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.--The White House

JAKARTA, DISWAY.ID - Ketegangan di tubuh pemerintahan Israel kembali menjadi sorotan setelah Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, dilaporkan menolak keras instruksi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk segera melancarkan serangan terhadap Iran.

Laporan yang dikutip dari Channel 12 dan dilansir Drop Site pada Senin (26/10/2026) itu menyebut Zamir meminta agar rencana serangan dibahas secara mendalam terlebih dahulu.

Ia juga disebut menginginkan otorisasi resmi yang ditandatangani para pemimpin politik sebelum militer menjalankan perintah tersebut.

Jika laporan itu benar, perbedaan sikap antara Netanyahu dan pimpinan militer Israel dapat menjadi persoalan serius, terutama di tengah situasi kawasan Timur Tengah yang sensitif.

Keputusan untuk menyerang Iran berpotensi memicu eskalasi konflik yang dampaknya tidak hanya dirasakan kedua negara, tetapi juga kawasan yang lebih luas.

BACA JUGA:Indonesia Pangkas Ekspor Gas ke Singapura, PM Lawrence Wong Bereaksi, Bahlil Ancam Setop Ekspor!

Meski demikian, laporan mengenai penolakan Zamir tersebut tidak diterima begitu saja oleh seluruh pejabat Israel. Sejumlah pejabat dilaporkan menyebut pemberitaan Channel 12 itu sebagai “kebohongan”.

Karena terdapat bantahan tersebut, informasi mengenai perselisihan Netanyahu dan Zamir masih perlu dipahami sebagai laporan media yang belum terkonfirmasi secara independen.

Menurut sumber yang dikutip Channel 12, Zamir tidak ingin instruksi untuk menyerang Iran langsung dijalankan tanpa pembahasan lebih lanjut dan persetujuan resmi dari jajaran politik Israel.

Permintaan itu disebut berkaitan dengan besarnya risiko yang dapat muncul apabila Israel memutuskan melancarkan serangan terhadap Iran pada saat situasi regional sedang sensitif.

Zamir dikabarkan khawatir keputusan militer yang diambil secara terburu-buru dapat memicu kesalahan perhitungan atau miscalculation. Dalam konflik yang melibatkan negara-negara dengan kemampuan militer besar, kesalahan membaca situasi dapat memperluas pertempuran dan membuat upaya pengendalian konflik semakin sulit.

Seorang pejabat senior Israel bahkan menyampaikan pernyataan bernada keras terkait posisi Zamir dalam perkembangan tersebut.

“Sejarah tidak akan melupakan peran Zamir dalam beberapa hari terakhir,” ujar pejabat senior Israel tersebut, sebagaimana dikutip dalam laporan yang beredar.

BACA JUGA:Hakim Perintahkan Jaksa Lanjutkan Pembuktian Kasus, Sidang Febrie Bakal Digelar Seminggu 2 Kali

Pejabat itu juga menilai perintah Netanyahu berpotensi menimbulkan konsekuensi besar apabila dilaksanakan pada waktu yang dinilai tidak tepat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait