Hasil Studi Zurich: 88 Persen Pekerja dengan Ketahanan Diri Tinggi Miliki Kinerja Baik

Rabu 04-11-2026,05:39 WIB
Hasil Studi Zurich: 88 Persen Pekerja dengan Ketahanan Diri Tinggi Miliki Kinerja Baik

Studi yang dikembangkan Zurich bersama sejumlah akademisi itu bahkan menemukan bahwa hubungan antara ketahanan diri dan kinerja kerja lebih kuat dibandingkan faktor pendapatan.--Zurich

JAKARTA, DISWAY.ID – Ketahanan diri atau resilience ternyata memiliki pengaruh besar terhadap produktivitas pekerja.

Hal ini terungkap dalam studi global Zurich bertajuk The Resilient Workforce yang menemukan bahwa 88 persen pekerja dengan tingkat ketahanan diri tertinggi melaporkan kinerja kerja baik atau sangat baik.

Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan pekerja dengan tingkat ketahanan diri terendah.

Dalam kelompok ini, hanya 44 persen pekerja yang melaporkan kinerja baik atau sangat baik.

BACA JUGA:ITDP dan Kemenhub Luncurkan Hasil Studi Reformasi dan Peta Jalan Elektrifikasi Transportasi Publik Perkotaan

Temuan tersebut menunjukkan bahwa produktivitas tidak hanya ditentukan oleh keterampilan, pengalaman, atau besaran pendapatan.

Kemampuan seseorang menghadapi tekanan, beradaptasi, dan bangkit dari situasi sulit juga berperan penting dalam menentukan kinerja di tempat kerja.

Studi yang dikembangkan Zurich bersama sejumlah akademisi itu bahkan menemukan bahwa hubungan antara ketahanan diri dan kinerja kerja lebih kuat dibandingkan faktor pendapatan.

Temuan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam perayaan 35 tahun kehadiran Zurich Indonesia.

BACA JUGA:Hasil Studi: Beras Merah Mengandung 40 Persen Lebih Banyak Kandungan Zat Kimia Beracun Dibandingkan Beras Putih

Dalam kesempatan itu, Zurich mempertemukan sejumlah pakar di bidang penelitian, layanan kesehatan, dan teknologi kesehatan untuk membahas masa depan kesehatan serta ketahanan tenaga kerja.

Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, mengatakan perusahaan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam menjaga kesehatan, keterlibatan, dan produktivitas karyawan.

Menurut dia, membangun ketahanan tenaga kerja atau workforce resilience bukan lagi sekadar urusan sumber daya manusia, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang.

"Selama 35 tahun hadir di Indonesia, kami melihat bahwa kebutuhan perlindungan terus berkembang. Saat ini, perusahaan tidak hanya menghadapi risiko bisnis yang semakin kompleks, tetapi juga tantangan untuk menjaga kesehatan, keterlibatan, dan produktivitas tenaga kerja," ujar Edhi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: