Taruna Kelapa

Taruna Kelapa

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut Joko Supratikto saat menunjukkan cabai yang didatangkan dari Probolinggo.--

Apa boleh buat: Bank Indonesia pun harus mendatangkan cabai dari Probolinggo, Jawa Timur. Dua ton. Dikirim ke Manado: lagi ada ''krisis'' cabai di sana.

Apa urusan cabai dengan Bank Indonesia? Karena harga cabai di Manado sudah mencoreng wajah inflasi di daerah itu. Bank Indonesia sangat sensitif terhadap inflasi. Menjaga inflasi adalah salah satu tugas pokoknya. Secara nasional inflasi masih baik: di bawah 3 persen. Tapi inflasi nasional adalah kumpulan inflasi dari daerah-daerah: harga cabai di Manado sudah melewati Rp150.000/kg –dari normalnya Rp25.000/kg.

Apakah orang Manado mau diajak mengurangi makan pedas? Tidak mungkin. Di sana hanya ada dua jenis makanan: pedas sekali atau sangat pedas. Pun bubur Manado; paling enak dimakan dengan cabai.

Pastilah orang Manado yang paling gembira ketika menerima hasil penelitian bahwa cabai mengandung vitamin C sangat tinggi. Saran serius saya: biar pun kandungan vitamin C-nya tinggi tetaplah jangan bikin jus cabai.

Bank Indonesia sangat ketat dalam mengendalikan inflasi. Termasuk Bank Indonesia kantor perwakilan Sulawesi Utara. Di tiap daerah ada tim pengendalian inflasi. Pimpinannya kepala daerah. Bank Indonesia jadi unsur penting di dalamnya. El Nino sudah membuat Manado krisis cabai. Hasil panennya menurun drastis. Padahal makan cabai yang paling enak adalah kalau cabainya segar. Ada pedas dan harumnya.

Hanya waktu bikin bumbu Bali yang sebaiknya pakai cabai merah kering –kalau tidak salah. Maka teori agar di saat panen raya, cabai yang melimpah dikeringkan sulit diterima lidah Manado. Pun kalau dibuat tepung cabai. Akibatnya tetap saja di saat panen raya harga cabai jatuh. Sedang di saat musim El Nino bubuk cabai tetap tidak laku.

Saya diminta ikut mendengarkan paparan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulut Joko Supratikto mengenai hasil survei kinerja ekonomi di daerah itu pekan lalu. Hasilnya: semua aspek ekonomi di Sulut stabil –kecuali inflasi karena harga cabai yang meroket. Tapi itu mudah diatasi: datangkan saja cabai dari Jatim. Lewat kapal. Bank Indonesia memang punya anggaran untuk itu: anggaran pengendalian inflasi.

Yang diundang di forum itu adalah responden survei ekonomi Bank Indonesia Sulut. Termasuk para pengusaha –dan karena itu saya diminta bicara dengan mereka. Satu pembicara lainnya: David Sumual, ekonom Bank BCA.

Tentu saya ingin tahu perkembangan bisnis kelapa dan pala di Sulut: apa kabar. Asumsi saya, dengan jatuhnya rupiah belakangan eksporter kelapa dan pala bersuka ria –meski sebagian besar dari Anda sakit kepala.

Benar. Begitu. Eksporter kepala –ups, kelapa– sangat menikmatinya. Mulai yang ekspor tepungnya sampai santannya. Bahkan, air kelapa pun, yang dulu dibuang, kini laku di pasar ekspor.

Saya pun minta agar pengusaha yang sudah ekspor mengangkat tangan. Ternyata banyak sekali. Mereka saya minta naik panggung: saya memberi gelar mereka pahlawan ekonomi.


Dahlan Iskan saat berdiskusi dengan para pengusaha Sulawesi Utara di acara Bank Indonesia perwakilan Sulut.-Bank Indonesia Sulut-

Memang ekonomi Sulut bisa maju hanya oleh dua hal: ekspornya terus berkembang dan pariwisatanya dibanjiri turis asing. Bukan karena produksi Cap Tikus-nya meroket –kecuali kenaikannya itu untuk ekspor.

Sulut sudah punya modal sosial yang kuat. Masyarakatnya tidak mudah konflik. Sumbu mereka panjang. Suka damai. Torang basudara. Meski motto mereka –yang dulu ditulis besar-besar di atap bandaranya– sudah tidak ada lagi, tetap saja budaya Manado adalah tolong menolong: orang hidup itu saling menghidupi.

Dulu, kali pertama membaca tulisan itu dari jendela pesawat yang sedang taxi menuju apron saya pikir itu semacam ucapan selamat datang dalam bahasa Manado: Si Tou Timou Tumou Tou. Ternyata itulah makna gotong royong dalam bahasa lokal.

"Apakah selama 10 tahun terakhir jumlah pohon kelapa di Sulut bertambah?" tanya saya.

"Justru terus berkurang, Pak," jawab para eksporter itu.

Saya tahu penyebabnya. Sejak perkebunan sawit mewabah di Indonesia, produk nyiur kurang lagi melambai. Harga kopra jatuh. Pun harga produk hilirisasi kelapa. Andalan Sulut, Gorontalo, dan Palu pun tidak pernah bisa ereksi lagi.

Sampailah pada tiga puluh tahun kemudian, ketika ekonomi Tiongkok meraksasa. Kebutuhan apa pun meningkat drastis di sana. Termasuk kebutuhan kelapa: mulai arang tempurung, sabut, tepung, santan, sampai air kelapanya. Tidak ada yang tersisa.

Harusnya Sulut sangat sejahtera. Tapi semangat menanam dan memelihara kelapa sudah telanjur hilang. Pohon yang tersisa sudah menua. Pohon yang baru belum ada. Menyesal. Lemes. Sawit memang masih terus berkibar tapi ternyata tidak sampai benar-benar mematikan kelapa. Sawit hanya sempat membuat kelapa klepek-klepek tapi ternyata akhirnya ada hari kebangkitannya: ekspor ke Tiongkok. Hampir tanpa batas atas.

Hari kebangkitan itu rasanya bukan sementara. Bisa sangat panjang –kecuali Presiden Donald Trump berhasil mencekik ekonomi Tiongkok.

Sebaiknya Sulut bangkit lebih dulu sebelum Tiongkok merasa sulit dapat produk kelapa.

"Sekarang ini sudah banyak perusahaan Tiongkok yang beroperasi di Sulut," ujar salah satu eksporter itu. Mereka berburu kelapa. Berarti eksporter Sulut harus rebutan bahan baku dengan pendatang dari utara yang lebih banyak punya modal kerja.

Tidak usah takut. Bersaing adalah darah daging pengusaha. Hanya politisi dan penguasa yang takut pada pesaing baru.

Yang perlu ditakutkan: jangan-jangan mereka datang tidak hanya berdagang. Mereka berdagang sambil melakukan penelitian: bagaimana bisa menanam kelapa di suhu subtropics di bagian selatan wilayahnya –termasuk pulau Hainan.

"Sekarang ini, sejak kedatangan mereka, kelapa bulat pun laku diekspor," ujar pengusaha itu.

Itu ancaman baru lagi. Kalau sampai terjadi ekspor besar-besaran kelapa bulat industri pengolahan kelapa di dalam negeri bisa mati! Dan itu juga akan dan sedang terjadi di Gorontalo.

Lalu kalau sampai Tiongkok buka kebun kelapa besar-besaran mereka bukan saja bisa meningkatkan produksi. Mereka juga bisa membuat standar: semua kelapa harus punya bentuk, ukuran dan rasa yang sama. Itulah dasar industrialisasi kelapa. Agar bisa diciptakan mesin pengupas yang sangat modern. Efisien. Kunci industri adalah efisiensi.

Mumpung presidennya orang Manado: jangan hanya bikin SMA Taruna Nusantara di sana. Juga harus tercipta jutaan taruna kelapa di bumi Kawanua. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 23 September 2026: ArtSubs Rambat

Sugi

Oh ternyata Surabaya punya Dewan Kesenian juga ya. Baru dengar Bah. Yang biasanya santer: DKJ. Setiap tahun selalu mengadakan Sayembara. Semoga setelah ini pemerintah Kota Surabaya bisa lebih aware dengan kesenian. Sehingga mau menghidupkan DKS lagi. Biar Jawa Timur tidak lagi jadi padang pasir tapi jadi oase kesenian bangsa. Menyelenggarakan even ArtSub rutin. Kesenian lainnya seperti ludruk, wayang, dls. Bahkan sayembara sastra level kota tapi rasa nasional.

Edi Sampana

Presiden Prabowo bertekad mengurangi jumlah BUMN dengan menutup yang merugi dan menggabungkan BUMN. Katanya untuk mengurangi kebocoran dana negara yang terpakai untuk gaji dan tunjangan komisaris/direksi. Dalam wawancara terakhir dgn wartawan ia menyatakan akan mengusut pimpinan BUMN yang merugi. Padahal kita tahu bahwa mereka rugi bukan semata korupsi tapi karena mendapat penugasan dari presiden Jokowi untuk mengerjakan proyek yg tidak *masuk* dalam hitungan bisnis (misalnya proyek jalan tol, bandara, kereta cepat China). Sebagai mantan menteri BUMN, ditunggu tulisan Abah tentang rencana mengusut direksi BUMN ini. Apaka serius atau omon-omon saja karena yang salah adalah menteri/presidan yang memerintahkan ? Karena kalau tidak melaksanakan perintah itu akan kehilangan jabatan yang banyak rejekinya ?

Mbah Mars

Kalau baca CHD itu jangan tergesa-gesa ya. Alon-alon saja. Jangan kemrungsung. Biar bisa menyesap nikmatnya. Seperti menyesap kopi panas. Bacanya bisa di mana saja. Bisa di rumah, di masjid atau di mana saja. Yg jelas tidak harus di alun-alun. Karena biasanya alun-alun itu jauh dari rumah. Alun-alun itu tanah lapang. Cocok untuk olah raga. Nah, kalau jalan kaki di alun-alun jangan alon-alon biar cepat berkeringat.

djokoLodang

-o-- *) Mengapa, ya, kalau kita buang air kecil, airnya disebut air seni? --0-

Saleh Saleh

Gedung Harmoni Jakarta sudah dibongkar 1985 untuk perluasan jalan, yang terlihat terbengkalai di dekat halter Harmoni adl Hotel

Prieyanto

Lamunan pun sejatinya adalah seni. Di atas kanvas bayang-bayang angan, kau bebas melukis apa saja; menciptakan rupa, merangkai cerita, dan menghadirkan segala yg dikehendaki hati. Kau bisa menjelma menjadi apa pun, mengikuti rasa yg sedang singgah di relung jiwa. Jika kau sedang membayangkan memiliki tambatan hati yg senantiasa menghujanimu dengan kata-kata indah, puitis, dan romantis, bak sajak-sajaknya Rendra, bak 'Aku Ingin' - nya Sapardi Djoko Damono, atau bak 'Di bawah Kibaran Sarung'-nya Joko Pinurbo; yang mampu membuat hatimu berbunga hanya dengan untaian kata... Dan kau mengira semua itu cukup untuk membuatmu bahagia, percayalah, sepertinya kau sedang jatuh cinta pada fatamorgana. Sebab, seindah apa pun kata-kata yg terucap, cinta tetap membutuhkan sesuatu yg nyata. Yakni lembaran-lembaran kertas yg bisa ditukar dengan beras. Cinta boleh hidup dari kata-kata, tetapi rumah tangga tak bisa selamanya hidup dari metafora. #prie

MULIYANTO KRISTA

Tumben cacak adik iso rukun dolan bareng terus fotoe "mejeng" nang CHDI. .. #momenlangka. ..

Jokosp Sp

Habis gelap.......................terus gelap...................mataharinya ndak kelihatan beberapa hari ini, kalah dengan tebalnya asap dari kebakaran hutan dan lahan. Masih tunggu ada berkah hujan dari Yang Maha Kuasa.

Mbah Mars

Alon-alon versi Surabaya: tanah lapang yg luas. Lalu utk mengungkapkan keadaan yg "pelan-pelan" pakai oata apa Pak ? Jangan² pakai "Alun-alun" . "Kalau naik motor jsngan ngebut ya. Awas ! Alun-alun saja" Apa gitu ?

Jokosp Sp

Di daerah pedesaan daerah pedalaman, malah saya dipanggilnya Pak Juku. Dengar pertama dulu agak gimana gitu. Saya penasaran, maka satu anak saya suruh mengeja huruf kapital secara urut. Ternyata di sekolah dasarnya ketika SD masih kelas satu diajarkan oleh gurunya bacaannya : a, b, c, d..............k, l, m, n, o...............p, q, r, s, t, o pecah. Menyebutkan U dengan menyebutnya O pecah. Jadi tidak mungkin memanggil saya dengan J O pecah K O pecah............... :) :) :)

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Saya lama hidup di Jogja. Ketika pulang ke Jawa Timur kaget sama cara menulis orang Jawa Timur terhadap kosakata bahasa jawa. Di sebuah petunjuk jalan di Mojokerto ada tulisan: Alon-Alon Mojokerto. Saya merasa aneh sama ejaan itu di petunjuk jalan resmi. Ejaan jawa yang saya tahu adalah: alun-alun, bukan alon-alon. Karena alon-alon Mojokerto artinya Mojokerto disuruh pelan-pelan. Dan itu terjadi di banyak kata. Ejaan yang menurut orang jawa asli (Solo dan Jogja) pakai "u", di Jawa Timur ditulis "o". Ajur ditulis ajor. Sembur ditulis sembor. Tembus ditulis tembos. ... dan banyak kata lainnya lagi yang kita jumpai ketika berkirim teks dengan orang Jawa Timur etanan.

Mbah Mars

EMPTY MPTY MTY MT Silahkan Anda baca. Bunyinya sama. Termasuk jika semua huruf dihapus tetap terbaca:"Em-ti"

Leong Putu

Seni itu seperti wanita. Kita harus bisa memahaminya, pun saat dia diam. Dan untuk memilikinya tak cukup hanya dengan ae lov yu.

MULIYANTO KRISTA

Bu Risma(pemkot Surabaya) memang kalah di pengadilan soal sengketa lahan tersebut. Tapi pada Januari 2022 tanah tersebut telah diserahkan dengan sukarela oleh pak Alim Markus kepada pemkot Surabaya untuk digunakan perluasan alun-alun Surabaya. Abah sepertinya kudet.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Saya aktif menulis di Twitter (X). Dari X itu pula saya kenal Olga Lydia yang cantiknya 5i itu. Kami saling follow di X sehingga kadang dia kasih kabar kalau sedang di Surabaya. Kalau Disway sudah jadi apps dan kita bisa sharing foto di komentar, pasti sudah saya pamerkan foto saya sama sang 5i.

Ibnu Shonnan

Hingga saat ini jawaban yang saya berikan dari pertanyaan anak bungsu masih belum bisa memuaskannya. Setiap ba'da Maghrib si bungsu ini, ikut kegiatan saya di sebuah lembaga pendidikan. Perjalanan melewati dua bangunan besar yang tertulis KDMP. Setelah melewatinya, si bungsu ini masih sering tanya dengan pertanyaan yang sama: Ayah kenapa kopelasi melah putih dibangun besar, kalau yang dijual hanya diterjen dan sabun cuci piring. Tidak ada jajannya?

Achmad Faisol

...termahal seharga Rp 3 miliar. ####### sebagai orang awam di bidang seni, saya hanya bisa berkata, "wow!" namun, di dunia kerja juga banyak pegawai yang setelah melaksanakan tugas tambahan mendapat bonus 3M, "Makasih, Mas, Mantap..."

Jokosp Sp

Mana foto jepretan Aloen-aloen Soerabayanya, ndak terlihat sama sekali?. Padahal ceritanya secara indah dan sangat gamblang sudah menghabiskan panjang kali lebar sampai dua kilo meter luasannya. Ehhhhhh......kameranya ternyata masih pakai HP yang sering diminta lungsurannya oleh para perusuh. La mbok yao mbayari ke jasa foto grafer yang bisa ambil foto dari drone. Tak kira Aloen-aloen Soerabaya itu indah banget, ternyata hanya sampai di imajinasi saja. Luput iki......

Ismail Lutan

Surabaya tanah tandus seni Indonesia? Sedih dengarnya. Soalnya saya pernah beraktifitas (ikut berkesenian) di AKSERA, belakangnya Kampus Uviversitas Wijawa Kusuma, Dukuh Kupang tahun 1993-an. Saat itu cerpen-cerpen saya pernah dimuat di harian Jawa Pos. 'Kuncen' AKSERA ketika itu Pak Mas'ud (alm). Beliau seorang pelukis. Di situ banyak seniman terbaik Surabaya ngumpul. Seperti Pelukis legendaris Amang Rahman Djubeir, yang kemudian menjadi wali nikah saya dengan gadis Surabaya.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PADANG PASIR YANG DISIRAM AIR "SENI".. Yang paling menarik dari ArtSubs bukan tentang lukisan seharga Rp3 miliar. Bukan pula 151 pelukis dan 500 karya seni. Tetapi keberanian Rambat membawa seni ke tempat yang katanya “padang pasir”. Saya jadi teringat tanaman. Kalau tumbuh di tanah subur, itu biasa. Yang menarik justru kalau ada orang mau menyiram tanah tandus setiap hari. Belum tentu langsung tumbuh. Tetapi tanpa ada yang menyiram, sudah pasti tidak tumbuh. Rambat tampaknya tidak sedang sekadar membuat pameran. Ia sedang melakukan percobaan sosial: apakah Surabaya benar-benar padang pasir seni? Jawabannya mulai terlihat. Pengunjung datang. Seniman datang. Kolektor datang. Bahkan orang yang semula hanya ingin melihat cucu, akhirnya ikut masuk ke ruang gelap dan kepalanya membentur dinding. Itu bukan kritik seni. Itu pengalaman langsung. Ada satu hal lagi yang menarik. Rambat bukan lulusan sekolah seni. Pernah menjadi tukang bangunan. Lalu belajar seni dari pasar, pelukis, kolektor, dan kehidupan. Mungkin memang begitu seni berkembang. Tidak selalu dari kampus. Kadang dari pasar. Kadang dari keberanian.

mario handoko

selamat pagi bpk agus. sedikit sumbang saran dari rusuhwan kepada seniman yg (maaf) masuk kawasan khusus umkm artsubs. bagaimana cara agar lukisannya bisa naik kelas? bagaimana cara agar harga lukisannya bisa setara dengan harga lukisan karya gabriel eva? mudah sekali. cukup meminta kepada bpk mantan sesuatu. agar lukisannya bisa dipajang di ruang tamu emitan fine arts gallery. yang sekarang lebih dikenal sebagai kantor harian disway surabaya.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

SURABAYA TIDAK KEKURANGAN SENI, MUNGKIN "HANYA" KURANG DISIRAM.. Saya tertarik pada satu eksperimen ArtSubs. Pengunjung dimasukkan ke ruang gelap. Disuruh meraba-raba. Pegangan di dinding. Lalu duduk. Menatap sesuatu yang tidak jelas. Keluar-keluar kepala malah benjol. Itu seni atau pemeriksaan kesehatan? Ternyata seni. Namanya “Habis gelap...”. Titik-titiknya diserahkan kepada imajinasi pengunjung. Saya curiga. Jangan-jangan seluruh Surabaya juga sedang menjalani instalasi seni seperti itu. Bedanya, ruang gelapnya bukan di bawah tanah. Tetapi di kepala kita masing-masing. Namun ada pelajaran ilmiahnya. Persepsi manusia sangat dipengaruhi konteks. Dalam gelap, benda sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Dalam ruang pamer, benda biasa bisa berubah menjadi karya seni. Artinya, seni bukan hanya soal benda. Tetapi soal bagaimana manusia melihat benda itu. Rambat tampaknya paham ilmu sederhana tersebut. Ia tidak hanya menjual lukisan. Ia menjual pengalaman. Dan pengalaman paling mahal di ArtSubs ternyata bukan lukisan Rp3 miliar. Melainkan pengalaman kepala membentur dinding. Gratis pula bahan ceritanya.

istianatul muflihah

Suatu waktu, saat pergi bersama kawan kawan sekolah ke Dieng, kami memandangi alam yang menyejukkan. Seseorang kemudian berkata, Alam indah, karena patuh pada pencipta Nya. Seni barangkali juga begitu. Seni itu jujur. Apa adanya. Menimbulkan kesan indah. Manusia tentu lebih suka foto foto dengan latar belakang instalasi seni. Sekalipun tidak paham paham amat dengan maksud terselubung juga berlapis dari pembuatnya. Sementara di luar seni, Manusia sering berlaku tidak apa adanya.

Murid SD Inpres

eyang @agus suryonegoro... tolong dong analisis eyang berdasarkan pengalaman pribadi eyang... agus suryonegoro muda, 50 tahun lalu, adalah seorang pemuda tampan dan tegap serta successful. suatu siang, di sebuah food court, agus suryonegoro muda mendapati sosok gadis yang "tipe agus suryonegoro muda" banget. kebetulan gadis tersebut sedang bercengkrama dengan ayah dan ibunya di meja makan. pertanyaannya: apa yang segera dilakukan agus suryonegoro muda? a. langsung menghampiri keluarga tersebut dan memperkenalkan diri dan to the point menyampaikan bahwa si gadis puteri ayah ibu tersebut telah memikat perhatian... ataukah... b. agus suryonegoro muda hanya bisa menatap si gadis dari jauh dan bergumam lirih: "andai engkau tau isi perasaanku". nah, yang mana? dan why? _

Murid SD Inpres

om @wilwa... saya punya 1 pertanyaan ringan yang nampaknya hanya bisa dijawab om @wilwa... setuju tidak, bahwa agama itu sebetulnya amplifier? maksudnya begini. orang yang secara default bermasalah, dia memeluk agama mana pun pasti jadi sosok yang makin bermasalah. dan orang yang secara default berbudi pekerti luhur, dia memeluk agama apa pun dia justru akan makin berbudi pekerti lebih luhur lagi. setuju tidak dengan postulat ini? wujud konkretnya bisa mudah didapat. orang bermental barbar, megalomaniak, pengacau, ketika dia memeluk suatu agama, dia makin barbar dan menggunakan doktrin agamanya untuk mempersekusi pihak agama lain. setuju tidak dengan premis dan bukti induktif ini?

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

RUMAH BOLA ITU, KALAU DI YOGYA DISEBUTNYA “KAMAR BOLAH” Membaca cerita Pak Dahlan tentang Rumah Bola di Surabaya, saya langsung teringat Yogya. Di Yogya juga ada “Kamar Bolah”. Letaknya di ujung selatan Jalan Malioboro. Persis di sebelah kanan Gedung Agung. Tepat di kawasan yang sekarang kita kenal sebagai Titik Nol Kilometer Yogya. Namanya memang menarik. “Kamar Bolah” sangat mungkin merupakan pelafalan lokal dari ball room. Lidah Jawa rupanya punya cara sendiri mengolah bahasa asing. Ball room menjadi “bolah”. Lebih gampang diucapkan. Lebih gampang pula diingat. Gedung itu kemudian dikenal sebagai Gedung Senisono. Letaknya sangat strategis. Berhadapan dengan pusat pemerintahan dan berada di jantung kota. Menariknya, istilah “Rumah Bola” dan “Kamar Bolah” ternyata menyimpan jejak sejarah yang sama: ruang pergaulan dan hiburan pada zamannya. Bangunan boleh berubah nama. Fungsinya boleh berganti. Tetapi nama rakyat biasanya lebih awet. Sejarah kadang memang tidak ditulis di buku. Kadang cukup tersimpan dalam cara orang tua mengucapkan sebuah nama.

Liam Then

@MSDI Bisnis emas itu cukup unik. Ada 2 "untung" utama yang didapat oleh para pemilik toko emas perhiasan. 1. Ongkos (yang biasanya dihitung per gram) 2.Kenaikan total nilai aset inventory beriring tahun (karena sudah terbukti sejak zaman Nabi, itu harga emas relatif anti inflasi). Jadi begini kira-kira, ketika pemilik toko Mas isi bahan pajangan, mereka bayar setara berat +kadar emas + ongkos pembuatan ke pabrik emas perhiasan. pembayaran biasanya ada sistem tunai, atau TOP. Seperti banyak komoditas lain, semakin cepat anda bayar, ada kemungkinan harga "rate" lebih murah. Jika sistem TOP yang anda ambil, biasanya juga berlaku dua ketentuan, "rate" dikunci, ke pasaran hari itu ketika terjadi pengambilan stock, atau dibiarkan mengambang baru di fix TOP pembayaran tiba. bersambung...kwkwkw

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@pak Murid. @pak Liam.. TOKO EMAS: BISNIS CEPAT CAIR, BUKAN CEPAT KAYA.. Pertanyaan pak Murid menarik. Model bisnis toko emas memang kelihatannya sederhana. Beli emas dari orang. Bayar tunai. Lalu jual kembali. Tetapi di belakang meja ada ilmu manajemen likuiditas. Toko emas tidak harus menyimpan uang tunai sebesar seluruh nilai emas yang mungkin dijual masyarakat. Modalnya berputar. Emas yang dibeli hari ini bisa segera dijual kembali kepada pedagang besar, distributor, atau dilebur dan masuk rantai perdagangan berikutnya. Kuncinya justru turnover. Semakin cepat persediaan emas berubah kembali menjadi uang, semakin kecil kebutuhan modal yang mengendap. Margin juga bukan sekadar “selisih harga beli dan harga jual”. Ada spread harga, biaya pengerjaan, ongkos operasional, risiko perubahan harga emas, dan kualitas emas yang diperhitungkan. Lalu bagaimana kalau tiba-tiba sepuluh orang datang bersamaan? Di situlah manajemen likuiditas diuji. Toko bisa membatasi pembelian, menyesuaikan harga beli, memakai fasilitas pembiayaan, atau segera menjual kembali stok yang terkumpul. Jadi toko emas bukan bisnis yang kaya karena menyimpan banyak emas. Ia hidup karena perputaran modalnya cepat, spread-nya terukur, dan risikonya dikendalikan. Mirip warung. Bedanya, harga satu bungkus dagangannya bisa sama dengan harga sebuah mobil. Itu yang saya tau ya..

Tivibox

Rambat itu artinya menjalar, merayap naik atau bertambah luas. Untuk tanaman buah, misalnya anggur, itu dimulai dari stek batang yang kecil. Lalu tumbuh akar, daun dan batang menjalar, lama-lama menggurita, hingga akhirnya berbuah. Rambat yang ini mulai merambat dari tukang batu, penjual kaca mata dan benda seni pasaran, hingga penjual lukisan berkelas. Perjalanan hidupnya kok pas sama dengan arti namanya sendiri.

Irary Sadar

Pucuk lada kering dijemur/ Kuini dan pepaya tak seharum semanggi/ Apa tanda negeri yang makmur/ Seni dan budayanya dijunjung tinggi/

Runner

Mungkin sekitar tahun ‘80 awal. Pertama kali “berkenalan” dengan cara seniman bekerja. Ketika itu di Gedung Merdeka seniman besar pak Affandi sedang pameran. Sekaligus beliau mempertontonkan caranya melukis. Meninton dari baris paling depan. Bisa didepan karena terbuka untuk umum dan gratis. Hanya pencet2 tube isi tinta. Dilepotin sambil digesek dan diputar kekanvas, digosok dengan jari. Jari beliau yang belepotan tinta diseka saja kekaos oblong dan celana pendek yang dikenakan. 30 menit lebih kemudian, jadi lukisan. Orang bilang itu lukisan abstrak. Harganya, ketika itu bisa jutaan. Oh…. mudah nian bikin barang berharga tinggi.

MULIYANTO KRISTA

Yo maklum lah pak. Abah kebanyakan mbolang. Jadi malah gak tau kondisi "kandang" sendiri. Kuman di seberang lautan kelihatan 7i. Gadis cantik di depan rumah gak pernah kepikiran untuk dilihat sama sekali.

Mada Suradi

Ketika Surabaya disebut sebagai “ Tanah tandus di belantara seni Indonesia”, saya jadi bertanya-tanya apa saya salah baca, atau ada yang salah melihat atau salah kacamata? Bahkan oleh Rambat si pemrakarsa ARTSUB menyebut Surabaya sebagai padang pasir. Wow… alangkah menyedihkan. Barangkali hal ini benar, di event ARTSUB pameran seni yang konon katanya salah satu pameran seni terbesar di Indonesia, Surabaya hanya diwakili seorang pelukis bernama Gabriela Eva. Siapakah dia? Saya tak sempat bertanya ke teman² pelukis Surabaya. Tinggal pencet asisten AI dengan prompt : “ Siapakah Gabriela Eva, apakah benar dia pelukis Surabaya? “. Muncul jawaban : “ Ya, benar di pelukis Surabaya yang sering berpameran di event besar nasional dan internasional. Penasaran, saya bertanya lagi ke si Mas Banana: Apakah dia pernah pameran di Galeri DKS di Balai Pemuda? Jawabannya “ Tidak pernah” Bagi saya, pelukis Surabaya yang tidak pernah berpameran di Galeri DKS atau galeri-galeri di komplek pemuda bukan pelukis Surabaya, mereka pelukis ‘dunia lain’. Mereka pelukis selebritis, karena gak jadi pelukis pun mereka makannya sdh kenyang , pekerjaan mapan tidak pernah pusing kapan beli cat, kanvas, laku tidak lukisannya. Barangkali saya harus meminjamkan kacamata saya pada abah DI, Surabaya bukan padang pasir yg kering dalam dunia seni. Hampir setiap minggu galeri² di surabaya seperti di komplek balai pemuda ( Galeri Merah Putih, Galeri DKS), Galeri Prabangkara, dan satu galeri terbaru yg

Runner

Hitungan kira kira berdasarkan sumber sana sumber sini. Jumlah barang seni yang dipamerkan 500. Harga antara Rp20 juta-Rp3 M Potensi barang seni terjual 30% =150 barang seni Kisaran harga rata rata 15% dari harga termahal = Rp450 juta 150 barang seni terjual = 150 x Rp450 juta = Rp67.500.000.000 Hak Seniman pembuat barang seni 60% =Rp40.500.000.000 Biaya buat pameran =Rp15M Untung: Rp67,5 M-Rp40 M-Rp15 M = Rp12 M Walau gersang tapi masih ada hijaunya.

Murid SD Inpres

BIIILAAA MALAAAAMMM TELAAAAHH TIIBAAA~ KUTANYA BUUULAAAANN KE MANAAAA KAAAU PEEERRRGIIII~ BIIILAAAA FAJAARR TLAH MEENYINGSIIIINGGG~ KUTAANYAAA MAAATAHAARI KAAPANN, KAAAU KEEMMBAAALIII~ . . Risau, by Panbers (1970)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 100

  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
    • Er Gham 2
      Er Gham 2
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
    • Er Gham 2
      Er Gham 2
  • alasroban
    alasroban
    • alasroban
      alasroban
  • Eksan Susanto
    Eksan Susanto
  • Tivibox
    Tivibox
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Imam Mashuri
    Imam Mashuri
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
    • Runner
      Runner
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Irary Sadar
      Irary Sadar
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Kurniawan Roziq
    Kurniawan Roziq
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • kambing hitam
    kambing hitam
  • Runner
    Runner
  • Runner
    Runner
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Irary Sadar
    Irary Sadar
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • DeniK
    DeniK
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Sumartan
    Sumartan
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Maman Lagi
      Maman Lagi
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Herry Isnurdono
    Herry Isnurdono
  • ACEP YULIUS HAMDANI
    ACEP YULIUS HAMDANI
  • Mbah Mars
    Mbah Mars
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Mbah Mars
    Mbah Mars
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Momon Atun
    Momon Atun
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Payjoo Azhari
    Payjoo Azhari
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
    • Em Ha
      Em Ha
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Momon Atun
      Momon Atun
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Jo Neka
    Jo Neka
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Mpok Dipa
    Mpok Dipa
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • rid kc
    rid kc
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Em Ha
      Em Ha
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Sugi
    Sugi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
  • alasroban
    alasroban
  • my Ando
    my Ando
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Tivibox
    Tivibox
  • Tivibox
    Tivibox
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • ra tepak pol
    ra tepak pol