Terkuak, Ini Alasan Ilmiah Seseorang Terpaksa Berbohong pada Orang Lain

Terkuak, Ini Alasan Ilmiah Seseorang Terpaksa Berbohong pada Orang Lain

Berbohong-Ini alasan seseorang melakukan kebohongan-Getty Image/New York Post

JAKARTA, DISWAY.ID - Semua orang punya alasan mengapa mereka berbohong.
 
Seseorang cenderung berbohong untuk membuat dirinya merasa lebih baik atau menghindari rasa malu atau penolakan.
 
Hal itu terungkap dalam temuan sebuah penelitian terbaru.
 
 
Para peneliti di Universitas Twente di Belanda melakukan empat eksperimen untuk mengetahui apakah pembohong mengalami konsekuensi psikologis seperti rendahnya harga diri dan perasaan negatif (gugup, penyesalan, ketidaknyamanan atau ketidakbahagiaan).
 
Dalam satu tes, peserta ditugaskan untuk mencatat perilaku berbohong mereka selama satu hari. 
 
Sebanyak 22% mengatakan kebohongan yang egois, 8% berbohong untuk melindungi orang lain, dan 69% melaporkan tidak berbohong pada hari itu.
 
 
Temuan penelitian ini dipublikasikan bulan lalu di British Journal of Social Psychology. 
 
Dalam percobaan lain, para sukarelawan dihadapkan pada salah 1 dari 8 dilema.
 
Empat diantaranya egois dan empat lainnya diberi label “berorientasi pada orang lain.”
 
Berikut ini contoh situasi yang egois:
 
Anda sedang dalam wawancara kerja.
 
Anda ditanya apakah Anda memiliki pengalaman dalam aspek pekerjaan yang relevan, padahal belum.
 
Situasi kebohongan yang berorientasi orang lain.
 
Teman Anda sangat senang dengan baju barunya. Kamu tidak menyukainya namun berbohong demi menyenangkannya.
 
Kesimpulan
 
Hampir 42% peserta berbohong dalam situasi yang egois sedangkan sekitar 46% berbohong ketika dihadapkan pada dilema berorientasi pada orang lain.
 
Kedua kelompok pembohong melaporkan harga diri yang lebih rendah dan perasaan yang lebih negatif dibandingkan dengan orang yang mengatakan kebenaran.
 
“Peserta yang diminta mengingat situasi di mana mereka berbohong … dilaporkan mengalami harga diri yang lebih rendah setelah situasi tersebut dibandingkan dengan peserta yang diminta mengingat situasi di mana mereka tidak berbohong,” tulis para peneliti. 
 
Pada tes terakhir, para relawan mencatat perilaku berbohong mereka selama lima hari.
 
Sebanyak 45% partisipan berbohong, dengan 22% melaporkan bahwa mereka berbohong setiap hari dan 19% menyatakan bahwa mereka tidak berbohong setiap hari.
 
Mereka yang berbohong mengalami penurunan harga diri, demikian temuan para peneliti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: new york post