Mencari Jalan Islah bagi Ba’alawi dan PWI Laskar Sabilillah
Ilustrasi habib di tengah masyarakat -ist-
Demokrasi dan multikulturalisme dapat mengikis habis fanatisme dan sektarianisme. Di alam demokrasi inilah, fanatisme dan sektarianisme berkurang. Dan masyrakat berkesadaran multikultural.
Begitu pun dengan kualitas pendidikan dan pengentasan kemiskinan, juga dapat menekan konflik. Namun, pada faktanya, pendidikan dan kemiskinan masih jauh panggang dari api. Itulah sebabnya debat akademik tentang bukti-bukti historis nasab klan Ba’alawi tak mampu memecahkan masalah, karena akar rumput tidak sanggup mengikuti alam pikir ilmiah.
Untuk itu, upaya islah antara kubu Ba’alawi dan PWI Laskar Sabilillah masih terbuka. Semua elemen bangsa, dari pemerintah hingga masyarakat, perlu bahu-membahu dengan caranya masing-masing untuk tujuan demokratisasi.
Feodalisme, fanatisme, dan sektarianisme bukan properti yang harus diperbincangkan di ruang publik. Pengkultusan individu-individu secara berlebih harus ditekan ke dalam ruang privat.
Begitu fanatisme dan sektarianisme disengaja mencemari ruang publik, penegakan hukum yang adil harus turun tangan. Keadilan menjadi tulang punggung upaya memberantas konflik ke akar-akarnya. Hukum perlu memastikan ruang publik steril dari fanatisme dan sektarianisme yang merusak fondasi-fondasi demokrasi. Aparat penegakan hukum harus menjadikan ruang publik sebagai medan operasi mereka.
Ruang publik adalah properti bersama. Setiap individu berhak pada ruang publik yang menyangkut kepentingan bersama. Ruang publik bukan untuk membicarakan problem-problem internal sekte-sekte agama tertentu. Ruang publik baik fisik maupun virtual tidak boleh dieksploitasi oleh sekte-sekte tertentu untuk wacana sektarianisme mereka. Untuk itu, penegakan hukum dan interpretasi progresif diperlukan untuk mensterilisasi ruang publik demi kebersamaan, persaatuan dan keutuhan.
BACA JUGA:Tentang Anak-Anak Palestina di Pengungsian Distric Zarqo
Alhasil, semua kubu dan kelompok sebenarnya sedang melupakan semboyan bangsa, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Kita boleh berbeda-beda latar suku, etnis, dan ras tetapi harus tetap satu jua. Marilah kita jaga persatuan dan kesatuan ini dengan kembali menyambung silaturrahmi. Minal aidzin wal Faizin. Semoga kita kembali ke Fitri.
Yogyakarta, 8 Syawal 1446 H.
*) Utusan Khusus Presiden (UKP) Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Prasarana Kagamaan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: