Etika Publik dan Krisis Kepercayaan
Prof. Asep Saepudin Jahar, Ph.D. (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)--Dok pribadi
BACA JUGA:Ketika Kader Muhammadiyah dan NU Terlibat Dugaan Korupsi kuota Haji
Refleksi: Menyembuhkan Kepercayaan
Bangsa yang besar bukanlah bangsa tanpa konflik, melainkan bangsa yang memiliki standar moral untuk menyelesaikannya.
Etika publik adalah standar itu: ia menjadi kompas di tengah perubahan, pengingat di tengah ambisi, dan cahaya di tengah kabut kepentingan.
Hari Standar Dunia seharusnya tidak hanya mengingatkan kita pada kualitas produk, tapi pada kualitas nurani publik.
Negara tanpa etika ibarat tubuh tanpa jantung: bisa bergerak, tapi tak punya denyut moral.
Di dunia pasca-kebenaran, tantangan kita bukan sekadar melawan hoaks, tapi memulihkan rasa percaya — bahwa pejabat bekerja untuk rakyat, akademisi meneliti demi kebenaran, dan warga berbicara demi kebaikan.
Dalam istilah Al-Ghazali, kepercayaan (amanah) adalah fondasi semua hubungan sosial; tanpa itu, dunia akan dipenuhi ketakutan. Dan sebagaimana dikatakan oleh Jurgen Habermas dalam The Theory of Communicative Action (1984), “Legitimasi sosial hanya lahir ketika masyarakat percaya bahwa tindakan publik didasarkan pada komunikasi yang jujur dan niat baik.”
Artinya, politik, hukum, dan ilmu hanya akan bermakna jika berakar pada kejujuran.
Kejujuran itu mungkin tampak sederhana, tapi di situlah letak kekuatan moral bangsa.
BACA JUGA:Sinopsis Drama China Mobius, Ketika Bai Jing Ting Jadi Detektif!
Mari jadikan Hari Standar Dunia ini sebagai momen menata kembali standar moral kita: bahwa kemajuan tidak diukur dari berapa banyak regulasi disahkan, tapi dari sejauh mana etika dijalankan; bahwa kepercayaan publik bukan hasil kampanye, melainkan buah dari ketulusan yang konsisten.
Bangsa ini tidak kekurangan undang-undang, hanya kekurangan keteladanan.
Dan mungkin, sebagaimana pesan Nabi Muhammad saw., “Pemimpin kalian adalah cerminan kalian.” Maka bila kita ingin negeri ini dipercaya, kita semua harus mulai menjadi pribadi yang dapat dipercaya.
Oleh: Prof. Asep Saepudin Jahar, Ph.D.
(Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: