Diplomasi Tangan di Atas: Menguatkan Peran Global Indonesia
Prof. Jamhari Makruf, Ph.D. - Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia –-dok disway-
Australia punya Australian Awards.
BACA JUGA:Mahasiswa Unggul, Negara Unggul
BACA JUGA:KESEHATAN MENTAL BANGSA
Inggris dengan Chevening.
Uni Eropa dengan Erasmus.
Jepang dengan Monbukagakusho.
Semua memakai pola yang sama: beri beasiswa → bangun jejaring → lahirkan alumni sukses → citra negara meningkat → kerja sama ekonomi dan politik mengalir.
Saya sendiri—lulusan pesantren Pabelan, Magelang—tak pernah membayangkan bisa kuliah S2 dan S3 di Australian National University lewat beasiswa pemerintah Australia.
Begitu besar dampaknya, bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk hubungan Indonesia–Australia.
BACA JUGA:Sembilan Alasan Nusron Wahid Layak dan Berpeluang Terpilih Ketum PBNU
BACA JUGA:Saatnya yang Muda Kembali Memimpin PBNU
Beberapa waktu lalu, ketika menghadiri Gala Dinner alumni Australia Awards, saya mendengar angka yang mengejutkan: 24.000 mahasiswa Indonesia berkuliah di Australia.
“Berapa yang beasiswa?” saya bertanya. “Sedikit sekali,” jawab staf Kedutaan Australia.
“Tidak sampai 100.” Artinya jelas: Beasiswa hanya “pemantik reputasi”. Yang lain ikut,
karena kualitas. Dan total alumni Indonesia yang pernah kuliah di Australia?
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: