Diplomasi Tangan di Atas: Menguatkan Peran Global Indonesia
Prof. Jamhari Makruf, Ph.D. - Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia –-dok disway-
200.000 lebih. Dari menteri sampai pebisnis, dari akademisi sampai artis—semua menjadi jejaring diplomasi yang tak ternilai.
Mengapa Indonesia Harus Berani Memberi Beasiswa?
Ada setidaknya tiga alasan strategis yang membuat Indonesia perlu beralih dari penerima beasiswa menjadi pemberi beasiswa.
BACA JUGA:Dua Figur Besar Layak Menjadi Rais Aam PBNU Periode Mendatang.
BACA JUGA:Merebut Panggung Internasional: UIII, Intelektual Muslim Indonesia dan Masa Depan Pendidikan Islam
Pertama, reputasi pendidikan.
Dua lembaga pemeringkat terbesar—QS World University Rankings dan Times Higher Education (THE)—menegaskan bahwa proporsi mahasiswa internasional adalah indikator utama mutu universitas.
QS memberi bobot 5–10% khusus untuk international student ratio, sementara THE memasukkannya dalam indikator international outlook bersama kolaborasi riset lintas negara.
Artinya: begitu kampus memiliki mahasiswa asing lebih banyak, reputasinya naik, daya tariknya meningkat, dan akhirnya Indonesia ikut terangkat di peta akademik global.
Inilah yang dilakukan Singapura dan Malaysia selama dua dekade terakhir hingga kampus-kampus mereka melesat ke papan atas Asia.
Kedua, ketahanan ekonomi pendidikan.
BACA JUGA:Mencari Kandidat Ketua Umum PBNU Selanjutnya
BACA JUGA:MQK Nasional Fiqih Siyasah dan Upaya PKB Mewujudkan Generasi Santri yang Nasionalis
Riset OECD 2022 tentang Education at a Glance menyebutkan bahwa mahasiswa internasional secara global membayar 2–4 kali lipat dibanding mahasiswa domestik.
Tidak heran banyak universitas kelas dunia—dari Australia hingga Kanada—menganggap mahasiswa asing sebagai pilar penting kesehatan finansial institusi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: