Diplomasi Tangan di Atas: Menguatkan Peran Global Indonesia
Prof. Jamhari Makruf, Ph.D. - Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia –-dok disway-
Jika Australia bisa memproses student visa dalam hitungan hari, Indonesia jangan membuat orang menunggu berminggu-minggu hanya untuk sebuah stempel.
Birokrasi kita harus bergerak dengan logika persaingan global, bukan logika kantor kelurahan.
BACA JUGA:Gelombang Suksesi: Mencari Talenta yang Tepat untuk Mencapai Keberlanjutan
BACA JUGA:Tiga Kelebihan Bauran BBM dengan Etanol
Kedua, kelas internasional harus memadai. Kurikulum harus kompatibel dengan standar global, dosen harus punya pengalaman internasional, dan bahasa pengantar harus fluida.
Mahasiswa asing datang bukan hanya untuk belajar materi, tetapi juga untuk merasakan atmosfer akademik yang progresif dan inklusif.
Ketiga, Indonesia membutuhkan lingkungan hidup yang ramah internasional: asuransi kesehatan yang bisa diakses orang asing, tempat tinggal yang aman, serta sekolah internasional bagi mahasiswa yang membawa keluarga.
Mahasiswa asing tidak hanya menempuh studi; mereka menjalani hidup.
Keempat, promosi pendidikan harus sistematis.
Australia, Jepang, Inggris, dan Uni Eropa memiliki lembaga khusus yang bertugas mengiklankan pendidikan mereka ke seluruh dunia.
BACA JUGA:Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia
BACA JUGA:Memperkuat Ketahanan Komunitas
Indonesia belum memiliki mesin promosi sebesar itu. Padahal modal sosial kita luar biasa: masyarakat yang hangat, biaya hidup murah, kuliner yang membuat orang betah, pariwisata kelas dunia, dan reputasi sebagai negara Muslim paling damai.
Indonesia selama ini disebut sebagai living laboratory—agama, budaya, demokrasi, hingga ekonomi kreatif.
Pertanyaannya tinggal satu: kapan kita berani memosisikan diri sebagai living laboratory of Islamic studies bagi dunia?
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: