Diplomasi Tangan di Atas: Menguatkan Peran Global Indonesia
Prof. Jamhari Makruf, Ph.D. - Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia –-dok disway-
BACA JUGA:Prestasi Kampus, Harapan Bangsa
Fenomena itu bukan hanya terjadi di Mesir.
Beasiswa juga datang dari: Saudi Arabia. Uni Emirat Arab, Sudan, Libya. Yaman, dan Maroko.
Ironisnya, sebagian negara itu tengah berada dalam situasi ekonomi dan politik yang jauh lebih rapuh dari Indonesia.
Sudan dan Libya, misalnya, berulang kali pecah konflik. Setiap kali krisis meledak, ratusan mahasiswa Indonesia harus dipulangkan terburu-buru.
Tahun 2023, gelombang evakuasi dari Sudan kembali terjadi.
Mahasiswa-mahasiswa itu akhirnya menyebar dan melanjutkan pendidikan di kampus-kampus Islam dalam negeri.
BACA JUGA:Indonesia, Rumah Baru Islam Dunia: Cerita dari Kampus UIII
BACA JUGA:9 Alasan Menag Nasaruddin Umar Nakhoda Ideal PBNU Mendatang
Wapres ke-10 dan 12, Jusuf Kalla—tokoh yang paling gigih memperjuangkan pendirian UIII—pernah menyimpulkannya dengan sederhana: “Sudah waktunya Indonesia bukan hanya menerima beasiswa, tapi memberi beasiswa.”
Sebuah diplomasi tangan di atas.
Diplomasi yang lebih mulia, kata pepatah Arab.
Pendidikan sebagai Instrumen Diplomasi
Dunia sudah membuktikan: beasiswa adalah alat diplomasi yang halus sekaligus ampuh.
Amerika punya Fulbright (dikelola AMINEF).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: