Indonesia dan Diplomasi Moral Dunia
Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D. (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)--
Kalimat itu bukan ornament historis; ia adalah kompas.
Dalam teori hubungan internasional, ahli perdamaian Johan Galtung mengemukakan konsep positive peace—perdamaian bukan hanya ketiadaan perang, tetapi kehadiran keadilan sosial, keamanan manusia, dan martabat yang setara.
Di sini, Indonesia menemukan ruang etisnya.
BACA JUGA:Yang Ilahi dan Yang Insani di Jalan Kramat
BACA JUGA:Enam Alasan Kuat Gus Zulfa Layak Mengemban Amanah (Pjs) Ketua Umum PBNU
Kita tidak membangun diplomasi untuk memamerkan kekuatan militer atau ekonomi.
Kita membangun diplomasi untuk menghapus penderitaan manusia.
Itulah sebabnya Indonesia menjadi negara yang dipercaya untuk mengirim pasukan perdamaian PBB sejak era awal, memediasi konflik Mindanao, memfasilitasi dialog Afghanistan, dan kini bersuara keras untuk Palestina.
Di saat banyak negara berpikir dalam kalkulator geopolitik, Indonesia tetap membawa bahasa nurani.
Indonesia: Islam, Demokrasi, dan Kemanusiaan
BACA JUGA:Prestasi Kampus, Harapan Bangsa
BACA JUGA:Indonesia, Rumah Baru Islam Dunia: Cerita dari Kampus UIII
Indonesia kerap disebut sebagai anomali positif dalam percaturan global.
Di banyak negara, agama dan demokrasi sering ditempatkan dalam dua kutub yang saling menegasikan: semakin kuat agama dianggap semakin melemah demokrasi, dan sebaliknya.
Namun Indonesia membuktikan bahwa keduanya bukan hanya kompatibel, tetapi dapat berjalan saling menopang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: