Indonesia dan Diplomasi Moral Dunia

Indonesia dan Diplomasi Moral Dunia

Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D. (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)--

Dengan populasi Muslim terbesar di dunia sekaligus menjadi demokrasi terbesar ketiga di dunia, Indonesia menghadirkan model politik yang unik: kekuatan keagamaan berjalan seiring dengan penghormatan terhadap kebebasan sipil dan hak asasi manusia.

Alfred Stepan dalam Democracies and Islam mencatat fenomena ini sebagai model inclusive religious democracy — tata kelola politik yang tidak meminggirkan agama dari ruang publik, tetapi juga tidak membiarkan agama menjadi instrumen dominasi.

Di dalamnya terdapat keseimbangan: agama menjadi sumber nilai etis, sementara demokrasi memastikan perlindungan hak setiap warga.

BACA JUGA:9 Alasan Menag Nasaruddin Umar Nakhoda Ideal PBNU Mendatang

BACA JUGA:Mahasiswa Unggul, Negara Unggul

Keseimbangan itu membangun legitimasi moral yang sulit ditandingi. Indonesia memang bukan negara adidaya, tetapi kehadirannya diperhitungkan karena konsistensi pada nilai kemanusiaan.

Inilah yang menjadikan suara Indonesia di forum internasional bukan sekadar suara politik, melainkan suara nurani.

Banyak analis internasional menyebut Indonesia sebagai moral voice of the Muslim world—bukan karena kekuatan senjata, tetapi karena kekuatan teladan dalam merawat martabat kemanusiaan. 

Religious Soft Diplomacy: Jalan Damai Ala Indonesia

Di era ketika agama kerap dijadikan alat legitimasi politik, sumber polarisasi sosial, bahkan alasan kekerasan berbasis identitas, Indonesia justru menawarkan arah yang berbeda: agama sebagai penyejuk, bukan pemecah.

BACA JUGA:KESEHATAN MENTAL BANGSA

BACA JUGA:Sembilan Alasan Nusron Wahid Layak dan Berpeluang Terpilih Ketum PBNU

Di tengah lanskap global yang rawan retorika ekstrem dan nasionalisme keagamaan, Indonesia membuktikan bahwa tradisi keberagamaan dapat menjadi infrastruktur perdamaian bila dikelola dengan visi kemanusiaan.

Kepemimpinan Kementerian Agama Republik Indonesia memperkuat paradigma ini melalui pelembagaan religious soft diplomacy sebagai strategi diplomasi kebudayaan berbasis nilai-nilai luhur agama.

Dalam berbagai forum internasional, Menag Prof. Nasaruddin Umar secara konsisten mempromosikan pendekatan diplomasi agama melalui dialog lintas iman, kolaborasi antarorganisasi keagamaan dunia, kemitraan akademik, serta inisiatif track-two diplomacy yang menjembatani tokoh agama dengan pemangku kebijakan global.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads