Indonesia dan Diplomasi Moral Dunia

Indonesia dan Diplomasi Moral Dunia

Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D. (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)--

Kerja sama strategis dengan Vatikan, Universitas al-Azhar Mesir, Rabithah ‘Alam Islami, dan lembaga agama internasional lainnya menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya bicara tentang toleransi, tetapi mengonsolidasikannya sebagai praktik diplomasi.

Gagasan ini sejalan dengan tesis R. Scott Appleby dalam The Ambivalence of the Sacred yang menyatakan bahwa agama dapat menjadi sumber konflik atau penyembuhan, tergantung bagaimana ia dibingkai secara sosial dan politis.

BACA JUGA:Saatnya yang Muda Kembali Memimpin PBNU

BACA JUGA:Dua Figur Besar Layak Menjadi Rais Aam PBNU Periode Mendatang.

Indonesia memilih peran agama sebagai penyembuh—membawa kontribusi moral bagi dunia yang tengah letih oleh kekerasan, kecurigaan, dan politik identitas.

Perdamaian Bukan Sekadar Agenda Politik — Ia Agenda Peradaban

Dalam banyak diskursus hubungan internasional, perdamaian sering dipersempit menjadi urusan diplomasi, negosiasi antar negara, atau kalkulasi kepentingan.

Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, perdamaian adalah fondasi bagi keberlangsungan peradaban manusia.

Diplomasi Indonesia selama ini tidak berangkat dari logika power politics — siapa menguasai siapa — tetapi dari logika human security, yaitu siapa yang terselamatkan, siapa yang terlindungi, siapa yang dapat hidup bermartabat. Sudut pandang ini menempatkan manusia sebagai pusat, bukan instrumen.

BACA JUGA:Merebut Panggung Internasional: UIII, Intelektual Muslim Indonesia dan Masa Depan Pendidikan Islam

BACA JUGA:Mencari Kandidat Ketua Umum PBNU Selanjutnya

Gagasan tersebut selaras dengan pandangan Johan Galtung — bapak studi perdamaian modern — yang membedakan negative peace (absennya perang) dan positive peace (keadilan, martabat, dan akses hidup yang setara).

Indonesia memilih jalur yang kedua.

Seruan Indonesia di forum-forum global bukan hanya menghentikan kekerasan, tetapi menuntut pemulihan hak dasar, keadilan, dan kemerdekaan manusia dari ketakutan.

Dalam kerangka ini, perdamaian bukan slogan, melainkan proyek jangka panjang peradaban.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads