Indonesia dan Diplomasi Moral Dunia
Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D. (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)--
Sebuah bangsa layak disebut besar bukan karena armada militernya atau ukuran ekonominya, tetapi karena pengaruh moral yang diberikannya kepada dunia.
Indonesia memiliki peluang historis untuk menapaki peran tersebut: menghadirkan kontribusi yang menenangkan, bukan mengancam; merawat martabat manusia, bukan mengeksploitasi kelemahannya.
BACA JUGA:MQK Nasional Fiqih Siyasah dan Upaya PKB Mewujudkan Generasi Santri yang Nasionalis
BACA JUGA:Kepahlawanan
Peran Kampus: Melahirkan Diplomat Pengetahuan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memposisikan diri sebagai bagian dari misi global ini.
Kampus bukan sekadar ruang akademik yang mencetak lulusan, tetapi laboratorium peradaban.
Di sini kita ingin melahirkan intelektual yang tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga berani membela kemanusiaan.
John Paul Lederach — tokoh rekonsiliasi internasional — menyebut bahwa modal terbesar pembangun perdamaian bukan kekuatan militer, melainkan “imagination of relationship”: kemampuan membangun hubungan antarmanusia dalam kepercayaan dan empati.
Karena itu, pendidikan kita harus menggabungkan: ketajaman analisis, kedewasaan etika, dan sensitivitas kemanusiaan. Diplomat masa depan bukan hanya orang yang mewakili negara di forum internasional.
BACA JUGA:Pahlawan Baru di Zaman Ilmu
BACA JUGA:Gelombang Suksesi: Mencari Talenta yang Tepat untuk Mencapai Keberlanjutan
Diplomat masa depan adalah siapa pun yang menebarkan keadilan, empati, dan dialog — di politik, ekonomi, sosial, agama, dan ruang digital.
Di dunia yang semakin keras, suara yang tetap “memanusiakan” menjadi sangat langka.
Indonesia memilih untuk tetap lembut — dan karena itu justru kuat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: