Konser Kemanusiaan dan Etika Solidaritas Bangsa

Konser Kemanusiaan dan Etika Solidaritas Bangsa

Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D. (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)--

Dalam situasi darurat, bantuan yang tampak kecil—makanan sederhana, tenaga relawan, doa yang tulus—sering kali menjadi penopang harapan bagi mereka yang kehilangan segalanya.

Dalam tradisi Islam, kebaikan semacam ini dikenal sebagai amal jariyah: kebaikan yang dampaknya terus mengalir, bahkan ketika pemberinya telah kembali ke kehidupan normal.

BACA JUGA:NU, Organisasi dan Arogansi

BACA JUGA:Yang Ilahi dan Yang Insani di Jalan Kramat

Nilai amal jariyah mengajarkan bahwa kepedulian tidak pernah sia-sia.

Ia melampaui batas waktu dan ruang, membentuk jejaring kebaikan yang mempertautkan manusia dengan manusia lainnya.

Di tengah bencana, nilai ini menemukan konteks nyatanya—bahwa iman dan kemanusiaan tidak berhenti pada keyakinan, tetapi hadir dalam tindakan.

Kita juga belajar bahwa solidaritas tidak boleh bersifat musiman.

Ia tidak cukup hadir ketika bencana menjadi berita utama atau saat empati publik sedang tinggi. Solidaritas sejati adalah sikap hidup: kepekaan yang terlatih terhadap penderitaan orang lain, kesiapan untuk terlibat tanpa menunggu diminta, dan komitmen untuk merawat kebersamaan dalam keseharian. 

Jika nilai ini tertanam sebagai budaya, bukan sekadar reaksi sesaat, maka bangsa ini akan lebih tangguh menghadapi krisis apa pun—bukan karena bebas dari musibah, tetapi karena kuat dalam saling menopang.

BACA JUGA:Enam Alasan Kuat Gus Zulfa Layak Mengemban Amanah (Pjs) Ketua Umum PBNU

BACA JUGA:Prestasi Kampus, Harapan Bangsa

Menjaga Api Kepedulian

Konser kemanusiaan ini boleh usai, tetapi api kepedulian tidak boleh padam.

Tugas kita adalah menjaganya agar terus menyala—di kampus, di rumah ibadah, di komunitas, dan di ruang-ruang publik lainnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: